Membangun Kesiapsiagaan Warga Hadapi Banjir: Dari Pencegahan Penyakit hingga Penyelamatan Nyawa

Oleh: Jesica Mulyadi . 10 Februari 2026 . 16:41:01

Gorontalo — Banjir bukan sekadar bencana yang merendam rumah dan jalan. Di balik genangan air, tersimpan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, mulai dari penyakit menular hingga risiko kematian akibat tenggelam dan henti napas. Kondisi inilah yang masih menjadi tantangan nyata di Desa Pentadio Barat, Kabupaten Gorontalo, wilayah yang hampir setiap tahun terdampak luapan Danau Limboto. Menyadari tingginya risiko tersebut, sekelompok akademisi dari Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo melaksanakan program pengabdian masyarakat yang berfokus pada peningkatan kesiapsiagaan dan penanganan darurat kesehatan saat banjir. Program ini tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga melatih keterampilan praktis yang dapat langsung diterapkan warga dalam situasi darurat.

Penyakit Pasca Banjir Masih Jadi Ancaman Utama

Banjir kerap diikuti oleh meningkatnya kasus penyakit menular. Air yang tercemar, sanitasi yang buruk, dan keterbatasan akses layanan kesehatan menjadi pemicu utama. Dalam kegiatan ini, warga dibekali pemahaman tentang berbagai penyakit yang sering muncul pasca banjir, seperti leptospirosis, demam berdarah dengue, diare, infeksi saluran pernapasan akut, penyakit kulit, tetanus, hepatitis A, malaria, hingga tifoid. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan warga hingga 85 persen, terutama pada topik leptospirosis dan demam berdarah. Artinya, warga tidak hanya mengetahui jenis penyakit yang berisiko muncul, tetapi juga memahami langkah pencegahan yang dapat dilakukan sejak dini.

Dari Teori ke Praktik: Menyelamatkan Nyawa Saat Darurat

Tidak berhenti pada edukasi, program ini menekankan pentingnya keterampilan penyelamatan nyawa. Melalui mini workshop berbasis simulasi, peserta dilatih di tiga pos utama, yaitu penyelamatan korban tenggelam, manajemen banjir dan evakuasi, serta Bantuan Hidup Dasar (BHD). Pada pelatihan penyelamatan korban tenggelam, warga diperkenalkan pada prinsip sederhana namun krusial, “Reach–Throw–Don’t Go”, yakni menolong korban tanpa membahayakan diri sendiri. Peserta juga mempelajari penilaian kondisi korban dengan pendekatan ABCDE dan memahami bahwa kekurangan oksigen merupakan penyebab utama kematian pada kasus tenggelam. Sementara itu, pada pos evakuasi, warga dilatih menyusun tas siaga bencana (go-bag) berisi barang-barang penting serta memahami langkah aman sebelum, saat, dan setelah banjir. Kesadaran untuk mematikan listrik, menghindari genangan berbahaya, dan memilih jalur evakuasi yang tepat menjadi poin penting dalam pelatihan ini. Pada pelatihan BHD, peserta mempraktikkan teknik kompresi dada sesuai standar American Heart Association (AHA). Mayoritas peserta mampu melakukan kompresi dada dengan kedalaman dan kecepatan yang tepat, serta memahami pentingnya ventilasi dini, khususnya pada korban tenggelam.

Edukasi Partisipatif, Hasil Nyata

Pendekatan participatory action research (PAR) yang digunakan terbukti efektif. Dengan melibatkan warga secara aktif, proses belajar menjadi lebih mudah dipahami dan diingat. Program ini tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membangun kepercayaan diri masyarakat dalam menghadapi situasi krisis. Hasil kegiatan sejalan dengan rekomendasi WHO dan Kementerian Kesehatan RI yang menekankan pentingnya kesiapsiagaan komunitas sebagai garda terdepan dalam penanganan bencana. Edukasi dan pelatihan berbasis masyarakat terbukti mampu menurunkan risiko kesakitan dan kematian pasca bencana secara signifikan.

Menuju Desa yang Lebih Tangguh Bencana

Program ini menyimpulkan bahwa peningkatan kesiapsiagaan masyarakat merupakan kunci dalam menghadapi banjir yang berulang. Warga Desa Pentadio Barat menunjukkan kemajuan nyata dalam pengetahuan dan keterampilan evakuasi, penyelamatan korban tenggelam, serta pemberian Bantuan Hidup Dasar. Ke depan, pelatihan serupa disarankan dilakukan secara berkala dan melibatkan lebih banyak kelompok masyarakat, termasuk lansia dan remaja. Pengembangan materi edukasi digital serta kolaborasi berkelanjutan dengan puskesmas setempat dinilai penting untuk memperkuat ketahanan desa terhadap bencana.

Source: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/Jpmf/article/view/36686/12670

Author: Pascal Adventra Tandiabang, Nanang Roswita Paramata

#FKUNGgul

#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran