Memutus Mata Rantai Stunting: Riset Ungkap Vitalnya Faktor Pengetahuan dan Pola Asuh Orang Tua

Oleh: Jesica Mulyadi . 6 Juni 2026 . 22:45:33

GORONTALO – Stunting atau kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis dalam jangka waktu lama masih menjadi tantangan besar bagi ketahanan generasi masa depan Indonesia. Secara medis, stunting tidak hanya berdampak pada postur fisik anak yang lebih pendek dari standar usianya , melainkan juga memicu hambatan perkembangan kognitif (otak) serta meningkatkan kerentanan terhadap penyakit di masa dewasa. Dalam upaya menekan prevalensi stunting nasional, perhatian tidak lagi hanya tertuju pada ketersediaan pangan secara makro, melainkan bergeser ke ranah hulu di tingkat domestik keluarga: yaitu bagaimana tingkat pemahaman gizi dan metode pengasuhan yang diterapkan oleh orang tua, khususnya ibu.

Sebuah studi observasional analitik terbaru dengan pendekatan cross-sectional dilakukan oleh tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (UNG)—terdiri dari Amelia Oktaviani Noe, Cecy Rahma Karim, Sri Manovita Pateda, Sri Andriani Ibrahim, dan Isman Jusuf. Mengambil lokasi di Desa Tabumela, Kecamatan Tilango, Kabupaten Gorontalo, riset yang dimulai pada Januari 2025 ini membedah secara gamblang korelasi nyata antara kapasitas intelektual orang tua dengan status gizi balita. Melalui pengumpulan data primer terhadap 69 responden menggunakan kuesioner skala Guttman dan analisis statistik Spearman rho, riset ini menyingkap angka kejadian stunting yang cukup tinggi di wilayah tersebut. Sebanyak 42% balita (29 anak) di Desa Tabumela terdeteksi mengalami stunting.

Dari sudut pandang demografi, mayoritas responden adalah perempuan (91,3%) yang berada pada usia produktif 18–44 tahun (97,1%). Mayoritas dari mereka berprofesi sebagai ibu rumah tangga (82,6%) dengan tingkat pendidikan dominan lulusan SD (34,8%) dan SMA (31,9%). Selain itu, profil ekonomi menunjukkan keterbatasan sirkulasi finansial, di mana 65,2% keluarga memiliki pendapatan rendah berkisar antara Rp 500.000 hingga Rp 1.000.000 per bulan. Kombinasi latar belakang pendidikan dan keterbatasan ekonomi inilah yang secara tidak langsung membentuk rantai kausalitas terhadap pemahaman gizi anak.

Riset klinis Universitas Negeri Gorontalo ini membuktikan bahwa kejadian stunting sangat dipengaruhi oleh dua pilar utama dalam keluarga:

  1. Tingkat Pengetahuan Gizi Orang Tua (p = 0,003). Berdasarkan uji bivariat, ditemukan hubungan yang sangat signifikan dan positif antara pengetahuan orang tua dengan kejadian stunting (p = 0,003 dan nilai korelasi r = 0,357). Angka ini bermakna secara klinis bahwa semakin baik tingkat pengetahuan orang tua mengenai gizi, risiko anak mengalami stunting akan menurun secara drastis. Data menunjukkan orang tua dengan pengetahuan kurang (24,6%) cenderung melahirkan anak stunting. Ketidaktahuan ini berdampak pada kesalahan fatal penanganan anak, seperti kegagalan pemberian ASI eksklusif, ketidaktepatan pemilihan makanan pendamping ASI (MPASI), hingga pengabaian masa krusial 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Sebaliknya, ibu yang teredukasi dengan baik mampu mengoptimalkan zat gizi yang masuk ke tubuh anak, meskipun dengan kondisi ekonomi terbatas.
  2. Pola Asuh Keluarga (p = 0,014). Selain pengetahuan, metode pendekatan orang tua dalam mendidik dan merawat anak (pola asuh) juga terbukti memiliki hubungan signifikan terhadap kasus stunting (p = 0,014). Di Desa Tabumela, mayoritas orang tua berada pada kategori pola asuh yang "cukup" (75,4%). Pola asuh sangat menentukan kedisiplinan pemberian makan, higienitas sanitasi, serta keaktifan pemantauan tumbuh kembang balita ke layanan kesehatan seperti Posyandu. Orang tua dengan pola asuh yang kurang (15,9%) memiliki kecenderungan abai terhadap variasi menu makanan anak, membiarkan anak mengonsumsi jajanan tidak sehat, atau memberikan makanan padat terlalu dini yang belum mampu dicerna oleh usus balita.

Hasil akhir dari riset di Kabupaten Gorontalo ini memberikan sumbangsih ilmiah yang sangat berharga bagi kebijakan penanganan stunting nasional. Penurunan angka stunting tidak bisa dicapai hanya dengan menyalurkan bantuan pangan instan, melainkan harus menyentuh akar masalahnya: edukasi dan pengubahan perilaku pengasuhan. Urgensi Optimalisasi Edukasi Terintegrasi: Pemerintah, melalui kolaborasi kader kesehatan di Puskesmas dan Posyandu, perlu menggencarkan program konseling gizi dan kelas pola asuh (parenting) yang menyasar langsung kelompok ibu rumah tangga muda berpendidikan rendah di pedesaan. Pemanfaatan media informasi yang edukatif dan mudah dipahami, pendampingan intensif pada masa 1.000 HPK, serta pelatihan pengolahan pangan lokal murah berkualitas tinggi menjadi kunci utama. Dengan meningkatkan kapasitas pengetahuan dan memperbaiki kualitas pola asuh ibu sejak masa kehamilan , Indonesia dapat mewujudkan proteksi tumbuh kembang anak yang optimal demi mencetak generasi masa depan yang sehat, cerdas, dan bebas dari stunting.

Author: Amelia Oktaviani Noe, Cecy Rahma Karim, Sri Manovita Pateda, Sri Andriani Ibrahim, Isman Jusuf

Sources: https://cibangsa.com/index.php/medicnutriciajournal/article/view/3325

#FKUNG#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran