Mencegah Prediabetes Anak Dimulai dari Dapur Keluarga

Oleh: Jesica Mulyadi . 2 Januari 2026 . 23:16:48

Selama ini, isu gizi anak di Indonesia lebih sering dikaitkan dengan stunting dan kekurangan gizi. Namun, di balik upaya penanggulangan masalah tersebut, muncul ancaman lain yang tak kalah serius tetapi kerap luput dari perhatian, yakni prediabetes pada anak. Kondisi ini menjadi peringatan dini bahwa pola makan dan gaya hidup anak-anak Indonesia mulai bergerak ke arah yang mengkhawatirkan. Prediabetes adalah kondisi ketika kadar gula darah lebih tinggi dari normal, tetapi belum masuk kategori diabetes. Jika tidak dicegah sejak dini, kondisi ini dapat berkembang menjadi diabetes melitus tipe 2 yang berisiko menimbulkan komplikasi serius di masa depan. Ironisnya, penyakit yang dulu identik dengan orang dewasa kini mulai mengancam usia anak.

Pola Makan Tinggi Gula Jadi Pemicu Utama

Kajian pengabdian masyarakat yang dilakukan di Desa Lahumbo, Kabupaten Boalemo, menunjukkan bahwa konsumsi gula berlebih dan pola makan tidak seimbang menjadi faktor utama meningkatnya risiko gangguan metabolik pada anak. Di tengah kemudahan akses makanan dan minuman manis, anak-anak menjadi kelompok paling rentan terhadap dampak buruk pola konsumsi tersebut. Padahal, nutrisi memegang peranan penting dalam masa tumbuh kembang anak, terutama pada periode emas sejak dalam kandungan hingga usia dua tahun. Asupan gizi yang buruk tidak hanya berisiko menyebabkan stunting, tetapi juga membuka jalan bagi munculnya penyakit metabolik seperti prediabetes.

Edukasi Gizi Terbukti Efektif

Melalui program pengabdian masyarakat yang dilaksanakan selama 45 hari oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Profesi Kesehatan Universitas Negeri Gorontalo, dilakukan pendekatan edukatif berbasis workshop gizi partisipatif yang menyasar ibu rumah tangga sebagai pengelola utama makanan keluarga. Hasilnya cukup signifikan. Evaluasi melalui pre-test dan post-test menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan masyarakat terkait gizi anak, konsumsi gula, dan pencegahan prediabetes. Skor pengetahuan meningkat dari total 167 sebelum edukasi menjadi 192 setelah intervensi, dengan seluruh peserta mencapai kategori pemahaman “sangat baik”. Temuan ini memperlihatkan bahwa edukasi yang disampaikan secara interaktif, kontekstual, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari jauh lebih efektif dibandingkan penyuluhan satu arah.

Ibu Rumah Tangga, Kunci Perubahan Pola Makan

Seluruh peserta kegiatan merupakan perempuan, khususnya ibu rumah tangga. Hal ini menjadi poin penting karena ibu memiliki peran sentral dalam menentukan jenis makanan, cara pengolahan, dan kebiasaan makan anak di rumah. Peningkatan literasi gizi pada ibu terbukti berbanding lurus dengan perbaikan pola makan keluarga dan status gizi anak. Dengan pemahaman yang lebih baik, ibu tidak hanya mampu mengurangi konsumsi gula berlebih pada anak, tetapi juga mulai menyadari pentingnya menu seimbang, variasi makanan bergizi, dan kebiasaan hidup sehat sejak usia dini.

Dari Edukasi ke Pencegahan Jangka Panjang

Pengalaman di Desa Lahumbo menunjukkan bahwa pencegahan prediabetes anak tidak harus dimulai dari fasilitas kesehatan canggih, tetapi bisa dimulai dari rumah melalui edukasi sederhana dan berkelanjutan. Buku saku gizi yang dibagikan dalam kegiatan ini menjadi panduan praktis yang dapat digunakan keluarga dalam jangka panjang. Program semacam ini juga mempertegas bahwa pengabdian masyarakat bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan intervensi nyata yang mampu meningkatkan kesadaran, mengubah perilaku, dan mencegah masalah kesehatan di masa depan.

Investasi Gizi untuk Generasi Mendatang

Prediabetes pada anak adalah sinyal peringatan bagi bangsa. Jika dibiarkan, Indonesia berisiko menghadapi lonjakan penyakit tidak menular di usia produktif pada masa mendatang. Oleh karena itu, edukasi gizi masyarakat, terutama di tingkat keluarga, harus menjadi bagian dari strategi kesehatan nasional. Mencegah prediabetes anak sejatinya adalah investasi jangka panjang untuk kualitas sumber daya manusia. Dan investasi itu, seperti yang ditunjukkan di Desa Lahumbo, bisa dimulai dari dapur keluarga.

Source: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/Jpmf/article/view/33910/11801

Author: Ita Sulistiani, Sitti Fatimah Meylandri Arsad, Sri Andriani Ibrahim

#FKUNGgul

#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran