Menghapus Stigma Tuberkulosis: Pentingnya Edukasi Kesehatan bagi Masyarakat

Oleh: Jesica Mulyadi . 14 Maret 2026 . 13:22:08

Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu penyakit menular paling mematikan di dunia. Meskipun pengobatan telah tersedia dan berbagai program pengendalian telah dilakukan, penyakit ini tetap menjadi tantangan besar bagi kesehatan masyarakat, terutama di negara berkembang. Ironisnya, masalah terbesar dalam penanganan TBC tidak hanya terletak pada aspek medis, tetapi juga pada tingkat pengetahuan masyarakat serta stigma sosial terhadap penderita. Laporan Global Tuberculosis Report 2023 dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa sekitar 10,6 juta orang di dunia jatuh sakit akibat TBC setiap tahunnya. Indonesia bahkan menempati peringkat kedua negara dengan jumlah kasus TBC tertinggi di dunia, dengan estimasi sekitar 969.000 kasus baru pada tahun 2022 atau sekitar 10% dari total kasus global.

Data ini menunjukkan bahwa TBC masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat di Indonesia. Di tingkat daerah, situasi yang sama juga terlihat. Data dari Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo menunjukkan bahwa provinsi ini menempati peringkat ke-15 secara nasional dengan sekitar 6.949 kasus TBC, sementara Kabupaten Gorontalo menjadi wilayah dengan jumlah penderita tertinggi. Angka tersebut mengindikasikan bahwa upaya pengendalian TBC masih memerlukan perhatian serius, terutama dalam meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat mengenai penyakit ini.

Pengetahuan Masyarakat Masih pada Tingkat “Cukup”

Sebuah penelitian yang dilakukan di Kelurahan Bulota, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo memberikan gambaran menarik mengenai tingkat pengetahuan masyarakat tentang tuberkulosis paru. Penelitian tersebut melibatkan 50 responden dari berbagai kelompok usia dan latar belakang pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 38% responden memiliki pengetahuan yang baik tentang TBC, 54% berada pada kategori cukup, dan 8% masih memiliki pengetahuan yang kurang. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat sebenarnya sudah memiliki pemahaman dasar mengenai TBC. Mereka mengetahui bahwa TBC merupakan penyakit infeksi yang dapat diobati dan memerlukan kepatuhan dalam menjalani terapi. Namun demikian, pengetahuan yang dimiliki masyarakat belum sepenuhnya komprehensif. Masih ditemukan berbagai miskonsepsi yang berkembang di masyarakat. Salah satu contoh yang sering muncul adalah anggapan bahwa TBC dapat menular melalui penggunaan alat makan bersama. Selain itu, sebagian masyarakat juga beranggapan bahwa penderita TBC sebaiknya dijauhi atau dibatasi interaksi sosialnya. Pandangan semacam ini menunjukkan bahwa meskipun tingkat pengetahuan masyarakat secara umum tergolong “cukup”, masih terdapat kesenjangan antara pengetahuan dasar dengan pemahaman yang benar tentang penyakit tersebut.

Stigma Sosial Masih Menjadi Hambatan

Kesalahan persepsi mengenai penularan TBC dapat menimbulkan dampak sosial yang cukup serius. Ketika masyarakat percaya bahwa penderita TBC harus dijauhi, stigma sosial terhadap pasien akan semakin kuat. Stigma ini dapat membuat penderita merasa malu atau takut untuk mengungkapkan penyakitnya kepada orang lain. Akibatnya, banyak pasien yang menunda pemeriksaan atau bahkan menghentikan pengobatan karena khawatir mendapatkan perlakuan diskriminatif dari lingkungan sekitar. Padahal, secara ilmiah TBC ditularkan melalui udara ketika penderita batuk, bersin, atau berbicara, bukan melalui makanan atau alat makan. Kesalahpahaman ini dapat memperburuk upaya pengendalian penyakit karena masyarakat tidak memahami mekanisme penularan yang sebenarnya. Lebih jauh lagi, stigma terhadap penderita TBC juga berdampak pada kondisi psikologis pasien. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pasien TBC yang mengalami stigma sosial cenderung memiliki tingkat stres, kecemasan, bahkan depresi yang lebih tinggi. Kondisi ini tentu dapat memengaruhi kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan yang membutuhkan waktu cukup lama.

Peran Edukasi Kesehatan dalam Mengubah Persepsi

Melihat kondisi tersebut, edukasi kesehatan menjadi salah satu strategi penting dalam upaya pengendalian TBC. Edukasi tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat, tetapi juga untuk meluruskan berbagai mitos dan kesalahpahaman yang berkembang. Program edukasi yang efektif seharusnya tidak hanya berupa penyampaian informasi secara formal di fasilitas kesehatan. Pendekatan yang lebih dekat dengan masyarakat, seperti penyuluhan berbasis komunitas, penggunaan media visual, serta pemanfaatan bahasa lokal, dapat membantu masyarakat memahami informasi kesehatan dengan lebih baik. Selain itu, kampanye kesehatan yang menekankan bahwa TBC bukanlah aib dan dapat disembuhkan juga sangat penting untuk mengurangi stigma terhadap penderita. Pendekatan berbasis komunitas dapat melibatkan tokoh masyarakat, kader kesehatan, serta kelompok masyarakat lokal dalam menyebarkan informasi yang benar mengenai TBC.

Membangun Literasi Kesehatan Masyarakat

Tingkat pendidikan masyarakat juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pengetahuan kesehatan. Dalam penelitian tersebut, sebagian besar responden memiliki tingkat pendidikan yang relatif rendah, yang dapat memengaruhi kemampuan mereka dalam memahami informasi medis atau kesehatan. Hal ini menunjukkan bahwa strategi komunikasi kesehatan harus disesuaikan dengan karakteristik masyarakat. Informasi kesehatan perlu disampaikan dengan bahasa yang sederhana, mudah dipahami, serta menggunakan media yang menarik seperti gambar, video animasi, atau booklet edukatif. Pendekatan semacam ini dapat membantu meningkatkan literasi kesehatan masyarakat secara bertahap. Ketika masyarakat memiliki pemahaman yang benar tentang penyakit, mereka akan lebih mampu mengambil keputusan yang tepat terkait kesehatan mereka sendiri.

Menuju Masyarakat yang Lebih Peduli Kesehatan

Upaya pengendalian TBC tidak hanya bergantung pada tenaga kesehatan atau fasilitas pelayanan kesehatan. Peran masyarakat juga sangat penting dalam mencegah penularan dan mendukung proses pengobatan pasien. Ketika masyarakat memiliki pengetahuan yang baik, mereka akan lebih sadar untuk menerapkan perilaku pencegahan seperti menjaga ventilasi rumah, menerapkan etika batuk, serta segera memeriksakan diri jika mengalami gejala TBC. Lebih dari itu, masyarakat yang memiliki pemahaman yang benar juga akan mampu memberikan dukungan sosial kepada penderita, bukan justru menjauhi mereka. Dengan demikian, peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai tuberkulosis bukan hanya sekadar upaya edukasi kesehatan, tetapi juga langkah penting untuk membangun lingkungan sosial yang lebih inklusif dan mendukung proses penyembuhan pasien. Tuberkulosis memang masih menjadi tantangan kesehatan global. Namun, dengan kombinasi antara pengobatan yang tepat, edukasi kesehatan yang efektif, serta dukungan masyarakat yang kuat, penyakit ini sebenarnya dapat dikendalikan. Menghapus stigma dan meningkatkan literasi kesehatan masyarakat adalah langkah penting menuju masyarakat yang lebih sehat dan peduli terhadap sesama

Sources: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/jnj/article/view/35970/pdf_1

Author: Nanang Roswita Paramata, ST Rahma

#FKUNGgul

#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran