Mengintai ListrikJantung di Teluk Tomini: Ribuan Warga Terdeteksi Alami Gangguan Irama Jantung

Oleh: Jesica Mulyadi . 9 April 2026 . 21:55:13

Sebuah terobosan riset kesehatan berskala besar baru saja mengungkap fakta mengejutkan mengenai kesehatan jantung masyarakat di wilayah pesisir timur Indonesia. Studi bertajuk G-CARE, yang melibatkan lebih dari 3.100 warga di Provinsi Gorontalo, menemukan bahwa gangguan irama jantung atau aritmia bukan lagi ancaman tersembunyi, melainkan tantangan kesehatan nyata yang memerlukan perhatian serius.

Ancaman di Balik Detak Jantung

Penelitian yang dilakukan oleh tim ahli dari Universitas Negeri Gorontalo dan RSUD Aloei Saboe ini menemukan bahwa hanya sekitar 43% pasien yang memiliki hasil rekam jantung (EKG) normal. Selebihnya, ditemukan berbagai anomali kelistrikan jantung yang berpotensi fatal jika tidak ditangani tepat waktu. Temuan yang paling mengkhawatirkan adalah tingginya prevalensi pemanjangan interval QTc yang mencapai 15,5% dari total peserta. Dalam dunia medis, kondisi ini dianggap sebagai "sinyal bahaya" karena dapat memicu henti jantung mendadak. Hal ini menjadi peringatan keras bagi layanan kesehatan publik, terutama di daerah dengan keterbatasan alat pacu jantung dan fasilitas gawat darurat.

Usia dan Jenis Kelamin: Siapa yang Paling Berisiko?

Data menunjukkan bahwa risiko gangguan jantung meningkat drastis seiring bertambahnya usia, terutama pada laki-laki di atas 65 tahun. Kondisi seperti atrial fibrillation (gangguan irama serambi jantung) dan blokade hantaran listrik jantung (AV block) ditemukan melonjak secara signifikan pada kelompok lansia. Penuaan sistem kelistrikan jantung adalah fenomena alami, namun di Teluk Tomini, pola ini diperparah oleh tingginya angka penyakit penyerta seperti hipertensi dan diabetes. 

Misteri Sindrom Brugada dan Kelompok Muda

Selain penyakit terkait usia, studi G-CARE juga berhasil mengidentifikasi adanya Pola Brugada. Ini adalah gangguan genetik langka namun mematikan yang sering dikaitkan dengan kematian mendadak pada pria muda yang tampak sehat. Ditemukannya pola ini pada beberapa subjek menunjukkan adanya potensi risiko genetik unik pada etnis tertentu di Sulawesi yang selama ini jarang terpetakan dalam literatur medis nasional. Tak hanya itu, pada kelompok dewasa muda, peneliti menemukan jenis kontraksi jantung prematur (PVC) dengan ciri risiko tinggi. Hal ini mematahkan anggapan bahwa gangguan jantung serius hanya milik kelompok lansia.

Urgensi Pemeriksaan Dini

Para ahli menekankan bahwa hasil studi ini harus menjadi dasar bagi pemerintah pusat maupun daerah untuk memperkuat infrastruktur kesehatan di wilayah terpencil. Keterbatasan akses terhadap alat diagnostik canggih seperti monitoring Holter atau studi elektrofisiologi di Indonesia Timur membuat pemeriksaan EKG rutin menjadi instrumen penyelamat nyawa yang paling realistis saat ini. Dengan adanya data dari G-CARE, diharapkan sistem rujukan dini dapat segera dibentuk untuk mencegah beban kesehatan yang lebih besar di masa depan, demi memastikan detak jantung warga di beranda timur Nusantara tetap terjaga.

Sources: https://www.ijconline.id/index.php/ijc/article/view/1888/758

Authors: Muchtar Nora Ismail Siregar, Zuhriana K. Yusuf, Dian Pratiwi Iman, M. Yusril Ihza Djakaria

#FKUNG

#kedokteranung

Informasi

Agenda