Diabetes melitus tipe II bukan sekadar persoalan tingginya kadar gula darah. Penyakit kronis ini membawa dampak luas terhadap kehidupan penderitanya, mulai dari keterbatasan fisik, beban psikologis, hingga gangguan sosial dan ekonomi. Namun, di balik kompleksitas tersebut, satu faktor kerap luput dari perhatian: cara pasien memandang penyakit yang dideritanya. Penelitian yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Kabila, Kabupaten Bone Bolango, memberikan gambaran jelas bahwa persepsi pasien terhadap penyakit (illness perception) memiliki hubungan yang erat dengan kualitas hidup penderita diabetes melitus tipe II. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan diabetes tidak hanya ditentukan oleh obat dan terapi medis, tetapi juga oleh pemahaman, keyakinan, dan sikap pasien terhadap penyakitnya sendiri
Persepsi Penyakit Menentukan Cara Bertahan
Dalam penelitian tersebut, lebih dari separuh responden memiliki illness perception positif, yakni memandang diabetes sebagai penyakit yang dapat dikendalikan dengan pengobatan, pola hidup sehat, dan kedisiplinan. Kelompok ini mayoritas juga menunjukkan kualitas hidup yang baik, mampu menjalani aktivitas sehari-hari, serta memiliki tingkat kekhawatiran yang relatif rendah terhadap penyakitnya. Sebaliknya, pasien dengan persepsi negatif cenderung melihat diabetes sebagai penyakit yang menakutkan, sulit dikendalikan, dan penuh ancaman komplikasi. Persepsi semacam ini terbukti berkaitan dengan kualitas hidup yang lebih rendah, ditandai dengan keterbatasan aktivitas, kecemasan berlebihan, hingga ketidakpuasan terhadap kondisi kesehatan dan kehidupan sosial. Temuan ini memperkuat pandangan bahwa persepsi bukan sekadar cara berpikir, melainkan faktor penentu dalam membentuk perilaku kesehatan.
Lebih dari Separuh Pasien Hidup dengan Penyakit Penyerta
Penelitian juga menunjukkan bahwa sebagian besar penderita diabetes melitus tipe II di wilayah ini hidup dengan penyakit penyerta, terutama hipertensi. Kombinasi penyakit kronis tersebut tidak hanya memperberat kondisi fisik, tetapi juga memengaruhi kondisi mental pasien. Semakin banyak komplikasi yang dialami, semakin besar kecenderungan pasien membangun persepsi negatif terhadap penyakitnya. Usia lanjut dan lamanya menderita diabetes turut berkontribusi pada penurunan kualitas hidup. Pasien yang telah hidup dengan diabetes lebih dari lima tahun menunjukkan risiko lebih tinggi mengalami penurunan kualitas hidup, terutama jika tidak disertai pemahaman yang baik tentang pengelolaan penyakit.
Pendidikan dan Dukungan Sosial Jadi Faktor Penyangga
Salah satu temuan penting dalam penelitian ini adalah peran pendidikan dan dukungan sosial. Pasien dengan tingkat pendidikan lebih tinggi cenderung memiliki pemahaman yang lebih baik tentang diabetes, sehingga membentuk persepsi yang lebih positif. Pemahaman ini berpengaruh langsung pada kepatuhan minum obat, pengaturan pola makan, dan komitmen menjalani gaya hidup sehat. Status pernikahan juga terbukti menjadi faktor protektif. Pasien yang memiliki pasangan umumnya menunjukkan kualitas hidup yang lebih baik, karena adanya dukungan emosional, motivasi, dan pendampingan dalam menjalani pengobatan. Dukungan sosial ini mampu menahan dampak buruk dari persepsi negatif sekalipun.
Mengapa Pendekatan Medis Saja Tidak Cukup
Selama ini, penanganan diabetes di layanan kesehatan masih dominan berfokus pada aspek medis: pemeriksaan gula darah, pemberian obat, dan pemantauan komplikasi. Pendekatan ini penting, tetapi belum cukup. Penelitian ini menunjukkan bahwa tanpa intervensi psikologis dan edukasi yang memadai, kualitas hidup pasien sulit meningkat secara optimal. Pasien yang tidak memahami penyakitnya berisiko mengembangkan ketakutan berlebihan, stres kronis, dan kepatuhan pengobatan yang rendah. Dalam jangka panjang, kondisi ini justru mempercepat munculnya komplikasi dan menurunkan kualitas hidup secara menyeluruh.
Saatnya Mengubah Strategi Penanganan Diabetes
Hasil penelitian ini menjadi pengingat bahwa pengelolaan diabetes melitus tipe II harus dilakukan secara holistik. Edukasi yang berkelanjutan, komunikasi yang empatik antara tenaga kesehatan dan pasien, serta dukungan psikososial perlu menjadi bagian tak terpisahkan dari layanan kesehatan primer. Membangun persepsi positif terhadap penyakit bukan berarti menyepelekan diabetes, melainkan membantu pasien memahami bahwa penyakit ini dapat dikendalikan. Ketika pasien merasa berdaya, kualitas hidup pun meningkat. Diabetes mungkin penyakit seumur hidup, tetapi kualitas hidup tidak harus menurun seiring waktu. Kuncinya terletak pada bagaimana pasien memandang penyakitnya—dan bagaimana sistem kesehatan membantu membentuk cara pandang tersebut.
Source: https://ejournal.airlangga.org/index.php/ghj/article/view/9/15
Author: Isti Lihawa, Sri Andriani Ibrahim, Gusti Pandi Liputo
#FKUNGgul
#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran