Mengurangi Risiko Fatal di Lapangan Hijau: Analisis Kesiapan Pemain Mini Soccer Menghadapi Cedera Olahraga

Oleh: Jesica Mulyadi . 2 Juni 2026 . 22:28:38

GORONTALO – Tren olahraga mini soccer (sepak bola mini) tengah mengalami lonjakan popularitas yang luar biasa di berbagai kota besar hingga pelosok Indonesia. Karakteristik permainannya yang dinamis, cepat, serta melibatkan kontak fisik intensif di atas lapangan rumput sintetis menjadikan olahraga ini sangat digemari masyarakat urban. Namun, di balik antusiasme tersebut, lapangan mini soccer menyimpan risiko cedera yang tinggi, mulai dari kram otot, terkilir (sprain), ketegangan otot (strain), hingga dislokasi sendi dan patah tulang.

Dalam dunia medis dan olahraga, penanganan pertama pada menit-menit awal terjadinya cedera (golden period) merupakan faktor penentu. Penanganan yang tepat dapat mencegah komplikasi jaringan yang lebih serius, mengurangi rasa nyeri, serta mempercepat proses pemulihan atlet agar bisa kembali merumput. Sebaliknya, kesalahan fatal dalam penanganan awal (seperti asal urut atau pijat pada cedera akut) justru berisiko memicu cacat permanen. Menjawab tantangan kesehatan komunitas ini, tim peneliti dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) yang terdiri dari Ningsi Yasin, Muhammad Isman Jusuf, Dewi Suryaningsi Hiola, Zulkifli B. Pomalango, dan Gusti Pandi Liputo, melakukan studi komprehensif di K3 Mini Football Gorontalo untuk mengukur sejauh mana tingkat pengetahuan para pemain amatir dalam menghadapi situasi darurat cedera.

Riset kuantitatif deskriptif ini melibatkan 100 responden pemain mini soccer yang dipilih menggunakan teknik probability sampling. Menggunakan instrumen kuesioner tervalidasi berbasis skala Guttman (20 pernyataan medis seputar cedera), penelitian ini menyingkap data yang cukup kontradiktif namun penting bagi edukasi kesehatan nasional:

1. Mayoritas Memiliki Pengetahuan yang Baik (85%)Secara umum, hasil analisis univariat menunjukkan kabar baik bagi dunia olahraga tanah air. Sebanyak 85% responden terbukti memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai prinsip dasar penanganan cedera. Mereka secara teori memahami bahwa cedera tidak boleh langsung dipijat secara agresif dan mengenali tanda-tanda kegawatdaruratan pada otot atau sendi. Sementara itu, 14% pemain berada di kategori cukup, dan hanya 1% yang memiliki pengetahuan kurang.

2. Paradoks Informasi: 64% Pemain Belum Pernah Terpapar Edukasi ResmiMeskipun angka pengetahuan teoritisnya tinggi, riset ini menemukan fakta mengejutkan bahwa 64% responden mengaku tidak pernah mendapatkan informasi atau pelatihan resmi terkait pertolongan pertama cedera olahraga dari tenaga medis maupun institusi terkait. Pengetahuan "baik" yang mereka miliki mayoritas didapatkan secara mandiri melalui adopsi pengalaman visual di media sosial, tayangan pertandingan sepak bola profesional, atau informasi dari mulut ke mulut.

Tingginya angka pemain yang belum pernah mendapatkan edukasi formal menjadi alarm penting. Pengetahuan yang bersumber dari media sosial tanpa standardisasi berisiko memunculkan kesalahpahaman taktik di lapangan. Para ahli keperawatan dan kedokteran dari UNG menegaskan kembali pentingnya penguasaan protokol RICE sebagai standar emas penanganan cedera jaringan lunak akut di lapangan:

  1. Rest (Istirahat): Segera hentikan aktivitas permainan dan istirahatkan bagian tubuh yang cedera untuk mencegah kerusakan jaringan lebih lanjut.
  2. Ice (Es): Kompres bagian yang cedera menggunakan es batu yang dilapisi kain selama 15–20 menit. Es berfungsi menyempitkan pembuluh darah (vasokonstriksi) guna menghentikan perdarahan dalam dan meminimalkan pembengkakan.
  3. Compression (Tekanan): Balut bagian cedera dengan perban elastis secara pas (tidak terlalu ketat) untuk menyangga otot dan menahan laju pembengkakan.
  4. Elevation (Peninggian): Posisikan bagian tubuh yang cedera lebih tinggi dari level jantung saat berbaring guna membantu mempercepat aliran balik cairan limpah dan darah, sehingga bengkak cepat menyusut.

Temuan riset dari Universitas Negeri Gorontalo ini memberikan rekomendasi strategis bagi penguatan sistem kesehatan olahraga di tingkat nasional. Tingginya minat masyarakat pada olahraga rekreasi seperti mini soccer harus diimbangi dengan penyediaan fasilitas dan edukasi keselamatan yang memadai. Sinergi Pengelola Lapangan dan Tenaga Medis: Riset ini mendesak para pemilik atau pengelola fasilitas olahraga (sport center) di Indonesia untuk tidak hanya menyewakan lapangan, tetapi juga wajib menyediakan kotak Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) yang memadai (terutama persediaan es batu dan perban elastis) serta memasang papan informasi visual mengenai protokol RICE di area strategis. Selain itu, institusi kesehatan dan perguruan tinggi perlu melakukan program pengabdian masyarakat secara masif berupa pelatihan Sport Massage berbasis medis dan teknik fiksasi cedera bagi komunitas-komunitas olahraga amatir. Dengan meratakan pemahaman pertolongan pertama dari hulu, kita dapat menciptakan ekosistem olahraga rekreasi yang tidak hanya menyenangkan dan kompetitif, melainkan juga aman, sehat, dan tanggap terhadap risiko cedera fisik.

Author: Ningsi Yasin, Muhammad Isman Jusuf, Dewi Suryaningsi Hiola, Zulkifli B. Pomalango, Gusti Pandi Liputo

Sources: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/jjsc/article/view/29858

#FKUNG#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran