
Kebiasaan merokok masih menjadi persoalan serius di Indonesia, terutama pada kelompok pekerja seperti petani. Sebuah penelitian terbaru dari Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo mengungkap fakta penting: semakin tinggi intensitas merokok, semakin besar risiko gangguan fungsi paru, khususnya pada petani yang juga terpapar debu dan bahan kimia pertanian .
Paparan Ganda yang Sering Diabaikan
Paru-paru memiliki peran vital dalam tubuh, yakni sebagai tempat pertukaran oksigen dan karbon dioksida. Ketika fungsi paru terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan pada kesehatan, tetapi juga pada kemampuan bekerja dan kualitas hidup seseorang. Pada petani, risiko ini menjadi lebih besar. Selain merokok, mereka juga setiap hari terpapar debu organik, pestisida, dan bahan kimia lainnya. Kombinasi ini mempercepat kerusakan paru-paru karena memicu peradangan kronis dan stres oksidatif dalam saluran napas .
Hasil Penelitian: Lebih dari Separuh Mengalami Gangguan Paru
Penelitian yang dilakukan pada 33 petani di Kelurahan Dembe Jaya, Gorontalo, menunjukkan hasil yang cukup mengkhawatirkan. Sebanyak 57,6% responden mengalami gangguan fungsi paru, dengan sebagian besar berupa pola obstruktif atau penyempitan saluran napas. Dari sisi kebiasaan merokok:
Analisis statistik juga menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara derajat merokok dan fungsi paru (p-value = 0,020), yang berarti semakin tinggi intensitas merokok, semakin besar risiko kerusakan paru.
Lama Kerja dan Usia Memperparah Kondisi
Faktor lain yang memperburuk kondisi adalah lamanya bekerja sebagai petani. Penelitian menemukan bahwa seluruh responden dengan masa kerja lebih dari 20 tahun mengalami gangguan fungsi paru. Begitu pula dengan usia. Petani yang lebih tua cenderung memiliki fungsi paru yang lebih buruk dibandingkan dengan kelompok usia muda. Hal ini menunjukkan bahwa kerusakan paru terjadi secara perlahan akibat paparan jangka panjang.
Merokok Bukan Sekadar Kebiasaan
Dalam kehidupan sehari-hari, merokok sering dianggap sebagai bagian dari rutinitas, bahkan menjadi teman kerja bagi petani untuk mengurangi lelah. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa kebiasaan tersebut memiliki dampak serius. Asap rokok mengandung ribuan zat berbahaya yang dapat merusak jaringan paru, menyebabkan peradangan, hingga menurunkan elastisitas paru. Jika dikombinasikan dengan paparan debu dan pestisida, efeknya menjadi jauh lebih berbahaya.
Upaya Pencegahan yang Perlu Dilakukan
Para peneliti menekankan pentingnya langkah pencegahan untuk melindungi kesehatan petani, antara lain:
Kesimpulan: Ancaman Nyata yang Bisa Dicegah
Penelitian ini menjadi pengingat bahwa gangguan paru bukan hanya disebabkan oleh satu faktor, melainkan kombinasi kebiasaan dan lingkungan kerja. Pada petani, merokok mempercepat kerusakan yang sebenarnya sudah dipicu oleh paparan sehari-hari di lahan. Dengan kata lain, risiko ini sebenarnya bisa dicegah, asalkan ada kesadaran untuk mengubah kebiasaan dan meningkatkan perlindungan diri sejak dini.
Author: Muhammad Raihan Laide, Sri Manovita Pateda, Sri Andriani Ibrahim, Muhammad Isman Jusuf, Mohammad Zukri Antuke
Sources: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/jjhsr/article/view/36262/pdf
#FKUNG
#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran