Obat Alergi Tanpa Resep, Praktik Umum yang Menyimpan Risiko Kesehatan

Oleh: Jesica Mulyadi . 5 Februari 2026 . 13:48:46

Gatal-gatal, bersin, hidung tersumbat, hingga ruam kulit sering dianggap sebagai keluhan ringan akibat alergi. Tak heran, banyak masyarakat memilih jalan pintas dengan membeli obat antihistamin tanpa resep dokter untuk meredakan gejala tersebut. Praktik ini dikenal sebagai swamedikasi dan telah menjadi kebiasaan umum, terutama karena obat antihistamin relatif mudah diperoleh di apotek maupun toko obat. Namun, di balik kemudahan tersebut, tersimpan risiko kesehatan yang tidak boleh diabaikan. Sebuah penelitian di Desa Biawu, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo, mengungkap bahwa meskipun pengetahuan masyarakat tentang obat antihistamin tergolong cukup baik, praktik swamedikasi justru masih berada pada kategori tinggi dan berpotensi tidak rasional.

Alergi dan Tren Swamedikasi

Alergi merupakan masalah kesehatan yang prevalensinya terus meningkat, terutama di wilayah tropis seperti Indonesia. Gejala alergi yang sering muncul dan dianggap tidak berbahaya mendorong masyarakat untuk mengobati diri sendiri tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Penelitian ini mencatat bahwa lebih dari 80 persen responden terbiasa membeli obat tanpa resep dokter, dengan antihistamin menjadi salah satu pilihan utama. Alasan utamanya adalah kepraktisan, pengalaman pribadi, serta anggapan bahwa obat alergi aman digunakan kapan saja.

Pengetahuan Tinggi, Tapi Belum Sepenuhnya Aman

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 58 persen responden memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi mengenai obat antihistamin, termasuk kegunaan dan efek sampingnya. Namun, masih terdapat seperempat responden dengan pengetahuan rendah, terutama terkait dosis yang tepat, kontraindikasi, dan potensi interaksi obat. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pengetahuan dasar dan pemahaman mendalam. Masyarakat mungkin tahu bahwa antihistamin dapat meredakan alergi, tetapi belum sepenuhnya memahami risiko penggunaan jangka panjang atau penggunaan yang tidak sesuai aturan.

Sikap Moderat, Praktik Justru Tinggi

Menariknya, meskipun sikap masyarakat terhadap swamedikasi tergolong moderat—artinya masih ada kehati-hatian—praktik penggunaannya justru tinggi. Lebih dari 60 persen responden rutin melakukan swamedikasi antihistamin tanpa pengawasan tenaga kesehatan. Banyak responden mengaku memilih obat berdasarkan pengalaman pribadi atau keluarga, bukan berdasarkan saran apoteker atau tenaga medis. Hal ini berisiko, karena antihistamin dapat menimbulkan efek samping seperti kantuk, pusing, gangguan konsentrasi, hingga gangguan saluran cerna, terutama jika digunakan tidak sesuai dosis atau dalam jangka panjang.

Risiko yang Sering Diremehkan

Secara ilmiah, penggunaan antihistamin tanpa pengawasan dapat menimbulkan berbagai masalah. Efek sedatif pada beberapa jenis antihistamin berisiko menyebabkan kecelakaan, terutama jika dikonsumsi sebelum berkendara atau bekerja. Selain itu, swamedikasi dapat menunda diagnosis penyakit yang lebih serius, karena gejala alergi yang berulang belum tentu disebabkan oleh alergi semata. Swamedikasi yang tidak rasional juga meningkatkan risiko penggunaan obat berlebihan (overuse), interaksi dengan obat lain, hingga keracunan obat.

Peran Edukasi dan Tenaga Kesehatan

Temuan penelitian ini menegaskan pentingnya edukasi kesehatan berkelanjutan bagi masyarakat. Pengetahuan yang baik perlu diiringi dengan sikap dan praktik yang benar. Apoteker dan tenaga kesehatan memiliki peran strategis dalam memberikan informasi yang jelas mengenai cara penggunaan antihistamin yang aman, termasuk kapan masyarakat perlu segera berkonsultasi ke fasilitas kesehatan. Pendekatan edukasi yang mudah dipahami, kontekstual, dan berbasis kebutuhan masyarakat dinilai lebih efektif dalam menekan praktik swamedikasi yang berisiko.

Kesimpulan

Penelitian ini menunjukkan bahwa tingginya pengetahuan masyarakat tidak otomatis menjamin praktik swamedikasi yang aman. Di Desa Biawu, penggunaan antihistamin tanpa resep masih tinggi, meskipun sebagian besar masyarakat menyadari adanya risiko. Swamedikasi seharusnya menjadi solusi awal yang rasional, bukan kebiasaan tanpa batas. Dengan edukasi yang tepat dan pendampingan tenaga kesehatan, masyarakat dapat tetap mandiri dalam menjaga kesehatan tanpa mengorbankan keselamatan diri.

Source: https://jurnal.unismuhpalu.ac.id/index.php/IJHESS/article/view/10069/6697

Author: Nur Inzan Van Solang, Siti Rahma, Gusti Pandi Liputo

#FKUNGgul

#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran