Pendidikan Kedokteran Era 5.0: Pendidikan Kesehatan Keluarga

Oleh: M. Yusril Ihza Djakaria . 26 Desember 2022 . 12:59:27

Penulis: Serly Daud, Novianty Djafri

Pendahuluan

Dunia telah mengalami empat gelombang revolusi industri. Revolusi industri 1.0 terjadi  pada  tahun  1784,  ditandai  dengan  penggunaan  mesin  uap  untuk kegiatan industri. Pada tahun 1870, setelah Nikola Tesla dan Thomas Alva Edison berhasil   menemukan   tenaga   listrik,   terjadi   kegiatan   produksi   massal   yang menggunakan   mesin   bertenaga   listrik   dan   peristiwa   ini   menjadi   penanda munculnya  revolusi  industri  2.0.  Pada  tahun  1970  muncul  revolusi industri  3.0 yang   ditandai   dengan   penggunaan   teknologi   informasi   dan   mesin   otomasi berbasis  komputer.  Revolusi  industri  yang  mutakhir  yakni  revolusi  industri  4.0

Kondisi Indonesia yang masih berkutat dengan revolusi industri 4.0 tersebut mengindikasikan Indonesia  belum  siap  menyambut  era  society  5.0.  Padahal  era society  5.0  sudah  diperkenalkan  Jepang  sejak  tahun  2019  lalu. Hal  ini  menjadi problem di Indonesia yang selalu terlambat dalam menyongsong sebuah era. Oleh karena  itu,  tulisan  ini  bertujuan  merumuskan  bagaimana  pendidikan  keluarga dapat mencetak generasi yang siap menghadapi era society 5.0.

Tinjauan Pustaka

Era Society 5.0

Era  society  5.0  lahir  sebagai  pengembangan  dari  revolusi  industri  4.0  yang dinilai berpotensi mendegradasi peran manusia. Kemajuan di bidang otomatisasi dan  kecerdasan  buatan  yang  menjadi  ciri  khas  dari  revolusi  industri  4.0  telah menimbulkan kekhawatiran bahwa mesin-mesin suatu hari akan mengambil alih pekerjaan manusia.Sebagai contoh pekerjaan sebagai penjual tiket masuk tol kini sudah ditiadakan akibat sistem pembayaran yang menggunakan uang elektronik. Tenaga  untuk  membersihkan  lantai  juga  kini  sudah  bisa  digantikan  oleh  robot vacuum cleaner.Di  era society  5.0  terjadi  penggabungan  antara  ruang  siberdan  ruang  fisik (dunia nyata). Yang dimaksud ruang siber adalah ruang digital di mana data-data dari   ruang   fisik   dikumpulkan   dan   dianalisis   untuk   mendapatkan   solusi. Sedangkan  yang  dimaksud  ruang  fisik  adalah  dunia  nyata,  tempat  di  mana  data mentah dikumpulkan dan tempat di mana solusi diterapkan.5Sejumlah informasi yang  dikumpulkan  di  ruang  fisik  dihubungkan  ke  IoT  (Internet  of Things), selanjutnya   disimpan   dan   dianalisis   di   ruang   siber   melalui   AI   (Artificial Intelligence).Society  5.0    merupakan  sebuah  konsep  masyarakat  yang  berpusat  pada manusia.Tujuan  dari  Society  5.0  adalah  untuk  mewujudkan  masyarakat  yang menikmati  hidup  sepenuhnya.Reformasi  sosial  (inovasi)  di  Society  5.0  akan mencapai  masyarakat  berwawasan  ke  depan  yang  meruntuhkan  rasa  stagnasi yang  ada,masyarakat  yang anggotanya  saling  menghormati  satu  sama  lain, melampaui  generasi,  dan  masyarakat  di  mana  setiap  orang  dapat  memimpin kehidupan yang aktif dan menyenangkan.

Pendidikan Keluarga

Berdasarkan   teori   tri   sentra   pendidikan   yang   dicetuskan   oleh   Ki   Hajar Dewantara,  lingkungan  belajar  mencakup  tiga  unsur,  yaitu  alam  (lingkungan) keluarga,  alam  paguron  (sekolah),  dan  alam  pemuda  (masyarakat).  Menurut  Ki Hajar Dewantara,  keluarga  merupakan  pusat  belajar  yang  pertama  dan  utama, karena keluarga merupakan tempat belajar pertama kali yang dialami oleh anak.Keluarga  sebagai  pusat  pendidikan,  yang  berarti  menuntut  adanya  berbagai pendidikan  baik  pendidikan  individual  maupun  pendidikan  sosial. Keluarga bertanggung   jawab    terhadap    pendidikan    anak    sehingga    keluarga    perlu menampilkan sesuatu perbuatan atau tingkah laku yang bisa ditiru, dicontoh, dan diteladani  oleh  anak,  serta  pendidikan  kebiasaan-kebiasaan  yang  baik. Dalam keluarga   anak   mendapat   rangsangan,   hambatan   serta   pengaruh   terhadap pertumbuhan  dan  perkembangannya  baik  perkembangan  psikologinya  maupun jiwanya.Salah  satu  bentuk  pendidikan  yang  penting  bagi  anak  adalah pendidikan karakter. Pendidikan   karakter   pertama   kali   harus   dilaksanakan   di   dalam lingkungan keluarga karena keluarga merupakan sumber utama dan pertama bagi anak  untuk  memperoleh  dan  membentuk  serta  mengembangkan karakter.Pandangan  keluarga  terhadap  pendidikan  karakter  dipengaruhi  oleh  harapan orang  tua  pada  anaknya.  Orang  tua  mendidikkan  karakter  melalui  pengasuhan yang  baik,  mencontohkan  perilaku  dan  pembiasaan,  pemberian  penjelasan  atas tindakan, penerapan standar yang tinggi dan realistis bagi anak, dan melibatkan anak   dalam   pengambilan   keputusan. Beberapa   kondisi   realistis   tentang hubungan keluarga (orang tua) dengan anak antara lain 1) bahwa keluarga adalah tempat dimana anak tersebut bergaul untuk pertama kali, 2) keluarga merupakan komunitas yang selalu bersama anak yang berarti anak mempunyai lebih banyak waktu berkumpul dengan keluarga, 3) keluarga dan anak saling terkait oleh ikatan emosional.

Tantangan di Era Dokter 5.0

Kondisi yang tidak sehat seringkali menjadi sebab dari berbagai permasalahan yang dialami individu dan lingkungan sekitarnya. Padahal, kesehatan merupakan modal awal bagi perkembangan potensi individu dalam karir maupun perannya sehari-hari di masyarakat. Di zaman yang bergerak serba cepat ini seorang dokter tidak hanya be-peran memberi resep serta menyuntik atau sebatas menyembuhkan suatu penyakit saja, tetapi perannya termasuk menyembuhkan lingkungan serta mencegah penyebaran yang mungkin timbul dari suatu penyakit dari lini terkecil suatu komunitas yaitu keluarga. Hadirnya dokter seperti ini akan memberikan pelayanan menyeluruh dalam pelayanan kesehatan di era Dokter 5.0.

Cara berpikir "Dokter 5.0" harus dimulai dari bangku kuliah, dimana Fakultas Kedokteran mengemban tanggung jawab dalam melaksanakan pendidikan untuk mencapai kompetensi-kompetensi bagi lulusan tersebut. Seorang mahasiswa kedokteran seyogyanya dibentuk dalam program pendidikan Community and Family Health Care with Inter Profesional Education (CFHC-IPE) yang merupakan upaya untuk membangun dan mengembangkan kompetensi terkait dengan etik, komunikasi, bekerja dalam tim, serta peran dan tanggung dalam sebuah tim sejak hari pertama di bangku kuliah.

Pada setiap mata kuliah di dalam program studi, seorang mahasiswa kedokteran harus selalu ditekankan pemikiran secara menyeluruh sehingga mendorong mahasiswa untuk berpikir secara lateral dan mempraktikkannya dalam keterampilan profesi yang didapat pada masing-masing program studi secara lebih nyata. Para mahasiswa kedokteran diharapkan dapat langsung berinteraksi dengan keluarga atau masyarakat, serta bekerja sama dengan profesi yang berbeda-beda. Untuk itu, sejak tahun pertama kuliah kedokteran, para mahasiswa sudah harus diterjunkan ke masyarakat dan keluarga. Keluarga sebagai unit terkecil di masyarakat menjadi wahana yang tepat bagi mahasiswa untuk mempertajam kemampuan berkomunikasi dan bekerja sama yang merupakan komponen dari Inter Personal Education (IPE).

Dengan metode pembelajaran Fakultas Kedokteran terkini, mahasiswa kedokteran akan berusaha mengenal anggota keluarga mitra dan membina hubungan baik dengan keluarga tersebut sehingga akan terbentuk pemikiran sejak awal bahwa menyembuhkan suatu penyakit harus dari hulu yaitu keluarga. Dan keluarga yang sehat akan tercipta lingkungan yang sehat pula, sehingga pada saat suatu komunitas hidup dalam lingkungan yang sehat maka akan tercipta suatu manusia yang sehat pula.

Dengan konsep tersebut, kekhawatiran akan menurunnya peran dokter dan tergantikan dengan teknologi informasi menjadi tidak perlu terjadi. Sisi humanisme dokter yang telah dibangun sejak dari hulu akan menciptakan ikatan emosional yang lebih dalam dan memperbesar peluang terpeliharanya kesehatan sehingga dapat mencegah dampak penyakit yang lebih berat.

Teknologi informasi justru dapat menjadi pendukung untuk terciptanya komunikasi antara dokter dan keluarga yahg lebih baik, serta mendorong terwujudnya kesehatan pribadi dan keluarga secara preventif. Untuk itu literasi terhadap teknologi informasi menjadi suatu hal yang tidak terhindarkan. Pada akhirnya humanisme dan teknologi informasi dapat berdampingan menciptakan layanan kesehatan masyarakat yang optimal.

 

DAFTAR PUSTAKA

Springer, 2020) https://doi.org/10.1007/978-981-15-2989-4_1

Deguchi, Atsushi, and Kaori Karasawa, ‘Issues and Outlook’, in Society 5.0(Singapore: Springer Singapore, 2020) https://doi.org/10.1007/978-981-15-2989-4_8

Dewantara, Ki Hadjar, Bagian Pertama: Pendidikan, 3rd edn (Yogyakarta: MLPTS, 2004)

Nazarudin,Pendidikan Keluarga Menurut Ki Hajar Dewantara Dan Relevansinya Dengan Pendidikan Islam (Palembang: NoerFikri, 2019)

Suherman, Musnaini, Hadion Wijoyo, and Irjus Indrawan, Industry 4.0 vs Society 5.0(Banyumas: CV Pena Persada, 2020)

Danandjaja, James, ‘Metode Penelitian Kepustakaan’, Antropologi Indonesia, 0.52 (2014) https://doi.org/10.7454/ai.v0i52.3318

Ellitan, Lena, ‘Competing in the Era of Industrial Revolution 4.0 and Society 5.0’, Jurnal Maksipreneur, 10 (2020), 1–12

Faruqi, Umar Al, ‘Survey Paper: Future Service in Industry 5.0’, Jurnal Sistem Cerdas, 2 (2019), 67–79

Fukuyama, Mayumi, ‘Society 5.0: Aiming for a New Human-Centered Society’, Japan Spotlight, 2018, 47–50

Jirout, Jamie J., ‘Supporting Early Scientific Thinking Through Curiosity’, Frontiers in Psychology, 11 (2020) https://doi.org/10.3389/fpsyg.2020.01717

Makhmudah, Siti, ‘Penguatan Peran Keluarga Dalam Pendidikan Anak’, Martabat: Jurnal Perempuan Dan Anak, 2 (2018), 269–86

Merryfield, Merry M., ‘Four Strategies for Teaching Open-Mindedness’, Social Studies and the Young Learner, 25.2 (2012), 18–22

Metzger, Miriam J., and Andrew J. Flanagin, ‘Credibility and Trust of Information in Online Environments: The Use of Cognitive Heuristics’, Journal of Pragmatics, 59 (2013) https://doi.org/10.1016/j.pragma.2013.07.012

Setiani, Riris Eka, ‘Pendidikan Anak Dalam Keluarga (Perspektif Agama Dan Sosial-Budaya)’, Yin Yang, 13 (2018), 105–16

Setiardi, Dicky, ‘Keluarga Sebagai Sumber Pendidikan Karakter Bagi Anak’, Jurnal Tarbawi, 14 (2017), 135–46

Sukiyani, Fita, and Zamroni, ‘Pendidikan Karakter Dalam Lingkungan Keluarga’, Socia, 11 (2014), 57–70

Agenda

16 - 17 Januari 2023

WORKSHOP FASILITATOR KLINIK II

Melatik dosen klinik sebagai fasilitator klinik.

14 Januari 2023

TRAINING SMART CONTENT CREATOR

Roadshow Virtual di FK UNG oleh Ummat Tv dan Akademi Konten

25 - 26 Juni 2022

WORKSHOP FASILITATOR KLINIK

Diikuti oleh seluruh dosen klinik FK UNG sebagai persiapan menuju tahap profesi dokter.

19 Juni 2022

MEDICAL WORKSHOP ON DIAGNOSIS OF MERCURY INTOXICATION BY METHYLMERCURY EXPOSURE

Lecturer: Dr. Shigeru Takaoka (Director of Kyoritsu, Neurology, and Rehabilitation Clinic, Japan) | Opening Speech: dr. Sri Asriyani, Sp.Rad(K), M.Med.Ed. (Dean Faculty of Medicine State University of Gorontalo)