
Universitas Negeri Gorontalo kembali menghadirkan penelitian yang menyoroti pentingnya peran ibu dalam pemenuhan gizi anak. Studi terbaru yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Dumbo Raya menunjukkan bahwa mayoritas ibu balita memiliki tingkat pengetahuan cukup mengenai gizi seimbang, namun masih terdapat kesenjangan dalam penerapan pola makan sehat pada anak. Penelitian berjudul Pengetahuan Ibu Balita tentang Gizi Seimbang di Puskesmas Dumbo Raya, Gorontalo: Studi Deskriptif dilakukan oleh Fidyatul Husna Dwi Putri Hasan bersama tim peneliti Fakultas Kedokteran UNG. Studi ini bertujuan menggambarkan tingkat pengetahuan ibu tentang gizi seimbang pada balita di salah satu wilayah dengan prevalensi underweight cukup tinggi di Kota Gorontalo.
Masalah gizi masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Selain stunting dan gizi kurang, Indonesia juga menghadapi persoalan obesitas dan kekurangan mikronutrien. Salah satu faktor utama yang memengaruhi kondisi tersebut adalah rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai pentingnya gizi seimbang bagi anak usia balita. Dalam penelitian ini, sebanyak 95 ibu balita menjadi responden dengan metode accidental sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang telah divalidasi dan dianalisis menggunakan pendekatan univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 95,8 persen ibu memiliki tingkat pengetahuan dalam kategori cukup, sementara hanya 4,2 persen yang berada pada kategori baik. Tidak ditemukan responden dengan tingkat pengetahuan kurang.
Mayoritas responden merupakan ibu usia 25–34 tahun dengan pendidikan terakhir SMA atau sederajat, serta sebagian besar berstatus sebagai ibu rumah tangga. Sementara itu, sebagian besar balita berada pada kategori indeks massa tubuh normal, yakni sebesar 70,5 persen. Namun demikian, penelitian tetap menemukan adanya kasus balita dengan berat badan kurang, berat badan berlebih, hingga obesitas. Penelitian ini mengungkap bahwa sebagian besar ibu telah memahami konsep dasar gizi seimbang, seperti pentingnya konsumsi makanan beragam dan manfaat sayur serta buah. Namun, masih banyak ibu yang belum memahami fungsi spesifik zat gizi tertentu. Salah satu temuan penting adalah masih rendahnya pemahaman mengenai fungsi protein sebagai zat pembangun tubuh, karena sebagian besar responden menganggap protein hanya sebagai sumber energi.
Selain itu, banyak ibu yang masih keliru memahami manfaat garam beryodium dan konsep makanan sehat untuk balita. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengetahuan dasar saja belum cukup apabila tidak diikuti dengan pemahaman mendalam mengenai kebutuhan nutrisi anak. Peneliti menjelaskan bahwa status gizi anak tidak hanya dipengaruhi oleh faktor ekonomi, tetapi juga oleh tingkat pendidikan, wawasan gizi, pola asuh, hingga praktik pemberian makan sehari-hari di rumah. Kurangnya variasi menu, penyajian makanan yang kurang menarik, serta minimnya edukasi tentang zat gizi menjadi tantangan tersendiri dalam pemenuhan gizi balita.
Penelitian ini juga menegaskan pentingnya edukasi kesehatan berbasis Posyandu dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Program penyuluhan dinilai perlu lebih fokus pada pemahaman fungsi zat gizi, penyusunan menu seimbang, serta praktik pemberian makan yang tepat untuk balita. Melalui hasil penelitian ini, Fakultas Kedokteran UNG berharap kesadaran masyarakat mengenai pentingnya gizi seimbang semakin meningkat. Pengetahuan yang baik diharapkan dapat membantu mencegah masalah gizi pada anak dan mendukung tumbuh kembang balita secara optimal, terutama pada periode penting 1.000 hari pertama kehidupan.
Author: Fidyatul Husna Dwi Putri Hasan, Vivien Novarina A. Kasim, Cecy Rahma Karim, Muh. Nur Syukriani Yusuf, Suliyanti Otto
Sources: https://jurnal.untirta.ac.id/index.php/JGKP/article/view/30860/14737
#FKUNGgul
#kedokteranung