
Kasus apendisitis akut atau radang usus buntu masih menjadi salah satu kegawatdaruratan abdomen yang paling sering ditemukan di layanan kesehatan. Penelitian terbaru dari Universitas Negeri Gorontalo mengungkap bahwa kasus apendisitis akut di Gorontalo paling banyak dialami perempuan usia remaja hingga dewasa muda, disertai peningkatan jumlah leukosit dan penurunan hematokrit. Penelitian yang dilakukan oleh Yuniarty Antu dan Febi Iswandi Suarno dari Fakultas Kedokteran UNG tersebut bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien apendisitis akut di RSUD dr. Zainal Umar Sidiki. Studi menggunakan desain retrospektif deskriptif dengan memanfaatkan data rekam medis pasien yang menjalani appendektomi pada periode Januari 2023 hingga Mei 2024.
Apendisitis merupakan peradangan pada appendix yang umumnya terjadi akibat sumbatan pada lumen usus buntu. Kondisi ini dapat dipicu oleh hiperplasia jaringan limfoid, fekalit, tumor, parasit, hingga pola makan rendah serat. Penyakit ini memerlukan penanganan cepat karena dapat menyebabkan komplikasi serius bila terlambat ditangani. Secara global, kasus apendisitis mencapai ratusan juta kasus setiap tahun dan paling sering menyerang kelompok usia 10–30 tahun. Di Indonesia, angka kejadian apendisitis juga tergolong tinggi dengan morbiditas mencapai 95 per 1.000 penduduk setiap tahun.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok usia 12–25 tahun menjadi kelompok paling banyak mengalami apendisitis akut, yakni sebanyak 48 persen dari total kasus. Kelompok usia 26–45 tahun menempati urutan kedua dengan 37 persen kasus, sedangkan usia 45–65 tahun hanya 15 persen. Tidak ditemukan kasus pada kelompok usia di bawah 11 tahun maupun di atas 65 tahun. Peneliti menjelaskan bahwa tingginya kasus pada usia remaja dan dewasa muda berkaitan dengan perkembangan jaringan limfatik yang mencapai puncaknya pada usia tersebut. Kondisi ini dapat meningkatkan tekanan intraluminal appendix sehingga memicu obstruksi dan peradangan. Selain itu, gaya hidup dan pola makan rendah serat pada kelompok usia muda juga diduga berkontribusi terhadap meningkatnya risiko apendisitis.
Berdasarkan jenis kelamin, penelitian menemukan bahwa perempuan lebih banyak mengalami apendisitis akut dibandingkan laki-laki. Sebanyak 55,6 persen pasien merupakan perempuan, sedangkan laki-laki sebanyak 44,4 persen. Temuan ini menarik karena beberapa penelitian sebelumnya justru menunjukkan dominasi kasus pada laki-laki, sehingga hasil penelitian di Gorontalo memberikan gambaran karakteristik lokal yang berbeda. Dari sisi pemeriksaan laboratorium, sebanyak 66,7 persen pasien mengalami leukositosis atau peningkatan jumlah leukosit di atas normal. Kondisi ini menunjukkan adanya respons inflamasi tubuh terhadap infeksi atau peradangan pada appendix. Pemeriksaan leukosit dinilai dapat menjadi salah satu parameter awal penting dalam membantu diagnosis apendisitis akut.
Selain leukositosis, penelitian juga menemukan bahwa 74 persen pasien mengalami penurunan nilai hematokrit. Temuan ini masih memerlukan penelitian lanjutan karena hubungan antara hematokrit dan apendisitis belum banyak dibahas dalam literatur ilmiah sebelumnya. Melalui penelitian ini, Fakultas Kedokteran UNG berharap masyarakat semakin memahami pentingnya mengenali gejala apendisitis sejak dini, seperti nyeri perut kanan bawah, mual, muntah, dan demam. Penanganan cepat dan pemeriksaan medis yang tepat dinilai sangat penting untuk mencegah komplikasi yang lebih berat akibat radang usus buntu. Author: Yuniarty Antu, Febi Iswandi Suarno
Sources: https://jurnal.unismuhpalu.ac.id/index.php/JKS/article/view/5577/4241
#FKUNGgul
#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran