Pengetahuan Ibu, Fondasi Utama Pencegahan Stunting

Oleh: Jesica Mulyadi . 7 Januari 2026 . 00:00:04

Stunting masih menjadi salah satu persoalan kesehatan masyarakat paling krusial di Indonesia. Di balik angka prevalensi yang tinggi, terdapat masalah mendasar yang kerap luput dari perhatian publik, yakni rendahnya pengetahuan ibu tentang gizi seimbang dan pencegahan stunting. Padahal, ibu memegang peran sentral dalam menentukan kualitas asupan gizi dan pola asuh anak sejak dini. Sebuah kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan di Desa Hungayonaa, Kabupaten Boalemo, memberikan gambaran jelas bahwa peningkatan pengetahuan ibu balita dapat menjadi kunci penting dalam upaya menurunkan angka stunting. Temuan ini menegaskan bahwa stunting bukan hanya persoalan ketersediaan pangan, tetapi juga persoalan pemahaman dan perilaku.

Stunting Berawal dari Minimnya Pengetahuan

Data nasional menunjukkan bahwa prevalensi stunting di Indonesia masih berada di atas ambang batas yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Di sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Boalemo, angka stunting bahkan masih melebihi 30 persen. Kondisi ini menandakan adanya masalah serius dalam pemenuhan gizi anak, khususnya pada periode 1.000 hari pertama kehidupan. Penelitian dan pengabdian ini mengungkap bahwa rendahnya pengetahuan ibu mengenai gizi seimbang, pentingnya ASI eksklusif, serta pola pemberian makanan pendamping ASI yang tepat menjadi faktor utama yang berkontribusi terhadap tingginya angka stunting. Banyak ibu belum memahami bahwa kekurangan gizi kronis sejak dini dapat berdampak jangka panjang terhadap pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak.

Edukasi Sederhana, Dampaknya Nyata

Melalui pendekatan partisipatif dan sosialisasi interaktif, para ibu balita diberikan edukasi tentang gizi seimbang, konsep isi piringku, serta cara mencegah stunting. Materi disampaikan menggunakan media leaflet dan video edukatif agar mudah dipahami dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Hasilnya menunjukkan perubahan yang signifikan. Sebelum sosialisasi, sebagian besar ibu berada pada kategori pengetahuan kurang. Namun setelah kegiatan, jumlah ibu dengan pengetahuan baik meningkat tajam. Temuan ini menunjukkan bahwa edukasi yang tepat sasaran dan komunikatif mampu meningkatkan pemahaman ibu dalam waktu relatif singkat. Perubahan pengetahuan ini penting karena menjadi pintu masuk bagi perubahan perilaku. Ibu yang memahami gizi seimbang cenderung lebih memperhatikan jenis, jumlah, dan kualitas makanan yang diberikan kepada anak.

Ibu sebagai Agen Perubahan

Berbagai studi menunjukkan bahwa ibu dengan tingkat pengetahuan gizi yang baik memiliki kecenderungan lebih besar untuk menerapkan pola makan sehat dalam keluarga. Pengetahuan ini tidak hanya berdampak pada asupan makanan anak, tetapi juga pada kebiasaan memantau tumbuh kembang, memanfaatkan layanan kesehatan, serta mencegah praktik pemberian makanan yang keliru. Pengabdian masyarakat ini menegaskan kembali bahwa pencegahan stunting tidak bisa hanya mengandalkan intervensi medis, tetapi harus dimulai dari rumah. Ketika ibu dibekali pengetahuan yang memadai, keluarga menjadi benteng pertama dalam melindungi anak dari risiko stunting.

Opini Ilmiah: Stunting adalah Masalah Sosial, Bukan Sekadar Medis

Temuan ini memperkuat pandangan bahwa stunting adalah masalah multidimensional. Selain faktor ekonomi dan akses pangan, aspek edukasi dan kesadaran masyarakat memiliki peran yang sama pentingnya. Program sosialisasi gizi yang berkelanjutan perlu menjadi bagian integral dari strategi nasional penurunan stunting. Namun demikian, edukasi satu kali tidaklah cukup. Perubahan perilaku membutuhkan pendampingan jangka panjang, penguatan peran tenaga kesehatan, serta dukungan kebijakan yang konsisten. Tanpa kesinambungan, peningkatan pengetahuan berisiko tidak bertransformasi menjadi kebiasaan sehari-hari.

Investasi Pengetahuan untuk Masa Depan Anak

Mencegah stunting berarti menjaga masa depan bangsa. Anak yang tumbuh sehat dan optimal akan menjadi sumber daya manusia yang produktif di masa mendatang. Pengabdian masyarakat di Desa Hungayonaa menunjukkan bahwa investasi dalam peningkatan pengetahuan ibu adalah langkah sederhana, tetapi berdampak besar. Ketika ibu memahami pentingnya gizi seimbang dan pencegahan stunting, perubahan tidak hanya terjadi pada satu anak, tetapi pada satu generasi. Inilah pesan utama dari kajian ini: pengetahuan ibu adalah fondasi utama dalam memutus rantai stunting di Indonesia.

Source: https://jurnal.unismuhpalu.ac.id/index.php/JKS/article/view/8448/5963

Author: Faramita Hiola, Putri ayuningtias mahdang, Nanang R. Paramata

#FKUNGgul

#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran