Pengetahuan Ibu Sudah Cukup, Mengapa Gizi Balita Masih Bermasalah?

Oleh: Jesica Mulyadi . 8 Januari 2026 . 10:41:11

Masalah gizi balita di Indonesia sering kali dikaitkan dengan kemiskinan dan keterbatasan pangan. Namun, penelitian terbaru di wilayah kerja Puskesmas Dumbo Raya, Kota Gorontalo, menunjukkan fakta yang lebih kompleks. Mayoritas ibu balita sebenarnya sudah memiliki pengetahuan yang cukup tentang gizi seimbang, tetapi masalah gizi pada anak tetap ditemukan. Temuan ini menantang asumsi lama bahwa peningkatan pengetahuan otomatis akan berbanding lurus dengan perbaikan status gizi balita.

Hampir Semua Ibu Tahu, Tapi Belum Optimal

Penelitian yang melibatkan 95 ibu balita menunjukkan bahwa 95,8 persen ibu berada pada kategori pengetahuan “cukup” tentang gizi seimbang, dan 4,2 persen sudah berada pada kategori “baik”. Tidak ditemukan ibu dengan tingkat pengetahuan rendah. Sekilas, data ini tampak menggembirakan. Namun ketika status gizi balita dianalisis, hasilnya menunjukkan kenyataan yang perlu dicermati. Masih ditemukan balita dengan gizi kurang (17,9 persen), berat badan berlebih (7,4 persen), bahkan obesitas (4,2 persen), meskipun sebagian besar ibu memahami konsep dasar gizi seimbang.  Artinya, pengetahuan saja belum cukup untuk menjamin tumbuh kembang anak yang optimal.

Pengetahuan Dasar Kuat, Pemahaman Spesifik Lemah

Penelitian ini mengungkap kesenjangan penting. Sebagian besar ibu sangat memahami definisi gizi seimbang dan pentingnya makanan beragam. Hampir semua responden menjawab benar bahwa buah dan sayur merupakan sumber vitamin dan mineral, serta nasi adalah sumber karbohidrat. Namun, pemahaman mulai melemah ketika masuk pada aspek yang lebih spesifik. Hanya 1,1 persen ibu yang memahami fungsi utama protein sebagai zat pembangun, sementara hampir seluruh responden menganggap protein sebagai sumber energi utama. Kekeliruan serupa juga ditemukan pada pemahaman manfaat garam beryodium dan jenis makanan tinggi lemak. Kesenjangan ini menjelaskan mengapa praktik pemberian makan balita belum sepenuhnya sejalan dengan konsep gizi seimbang, meskipun ibu merasa sudah “tahu”.

Dari Tahu ke Melakukan: Tantangan Nyata di Rumah Tangga

Sebagian besar ibu dalam penelitian ini adalah ibu rumah tangga dengan pendidikan terakhir SMA. Kondisi ini menunjukkan bahwa akses informasi dasar sebenarnya sudah cukup baik. Namun, mengubah pengetahuan menjadi kebiasaan sehari-hari bukan perkara mudah. Banyak ibu belum mampu menyusun menu yang benar-benar seimbang dan bervariasi. Penyajian makanan yang kurang menarik, menu yang monoton, serta persepsi keliru tentang makanan “bergizi” menjadi penghambat utama. Akibatnya, anak cenderung memilih makanan tertentu dan mengabaikan kelompok zat gizi lainnya. Penelitian ini menegaskan bahwa status gizi balita dipengaruhi oleh perilaku, kebiasaan, dan praktik pengasuhan, bukan hanya oleh pengetahuan teoritis.

Opini Ilmiah: Edukasi Gizi Harus Naik Level

Temuan di Puskesmas Dumbo Raya membawa pesan penting bagi program kesehatan ibu dan anak. Edukasi gizi tidak cukup berhenti pada pengenalan konsep, tetapi harus menekankan penerapan praktis. Penyuluhan gizi di posyandu, misalnya, perlu lebih fokus pada:

  1. fungsi spesifik zat gizi (protein, lemak, mikronutrien),
  2. contoh menu sederhana berbasis pangan lokal,
  3. cara mengolah dan menyajikan makanan agar menarik bagi balita.
  4. Tanpa pendekatan yang aplikatif, pengetahuan “cukup” akan sulit berubah menjadi perilaku yang konsisten.

Menutup Celah antara Pengetahuan dan Praktik

Penelitian ini menegaskan bahwa masalah gizi balita bukan semata akibat ketidaktahuan, melainkan akibat adanya jarak antara apa yang diketahui dan apa yang dilakukan. Celah inilah yang harus dijembatani oleh tenaga kesehatan, kader posyandu, dan kebijakan publik. Jika ingin memperbaiki status gizi balita secara berkelanjutan, maka edukasi harus diarahkan pada perubahan perilaku nyata di tingkat keluarga. Karena pada akhirnya, piring makan di rumah lebih menentukan masa depan anak dibanding sekadar skor pengetahuan di kuesioner.

Source: https://jurnal.untirta.ac.id/index.php/JGKP/article/view/30860/14737

Author: Fidyatul Husna Dwi Putri Hasan, Vivien Novarina A. Kasim, Cecy Rahma Karim, Muh. Nur Syukriani Yusuf, Suliyanti Otto

#FKUNGgul

#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran