Pengetahuan Pasien Diabetes: Kunci Mencegah Komplikasi yang Lebih Berat

Oleh: Jesica Mulyadi . 21 Maret 2026 . 15:26:07

Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit kronis yang semakin meningkat jumlah penderitanya di berbagai negara, termasuk Indonesia. Penyakit ini tidak hanya memengaruhi kadar gula darah, tetapi juga dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius apabila tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu, selain pengobatan medis, pengetahuan pasien tentang cara mencegah komplikasi diabetes menjadi faktor yang sangat penting dalam menjaga kualitas hidup mereka. Diabetes melitus terjadi ketika tubuh tidak mampu memproduksi insulin dalam jumlah yang cukup atau tidak dapat menggunakan insulin secara efektif. Insulin merupakan hormon yang berfungsi mengatur kadar glukosa dalam darah. Ketika insulin tidak bekerja dengan baik, kadar gula darah akan meningkat (hiperglikemia) dan dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan. Di tingkat global, diabetes termasuk dalam kelompok penyakit tidak menular yang menjadi penyebab kematian cukup tinggi. Penyakit ini bersifat kronis dan hingga saat ini belum dapat disembuhkan sepenuhnya. Artinya, penderita diabetes harus menjalani pengelolaan penyakit secara berkelanjutan sepanjang hidup mereka. Masalah utama dari diabetes bukan hanya tingginya kadar gula darah, tetapi juga komplikasi yang dapat muncul dalam jangka panjang. Komplikasi diabetes dapat dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu komplikasi makrovaskular dan mikrovaskular. Komplikasi makrovaskular meliputi penyakit jantung koroner, hipertensi, dan penyakit pembuluh darah otak. Sementara itu, komplikasi mikrovaskular dapat berupa retinopati diabetik yang menyebabkan gangguan penglihatan, nefropati diabetik yang merusak ginjal, serta neuropati diabetik yang memengaruhi saraf. Komplikasi-komplikasi tersebut dapat menurunkan kualitas hidup penderita secara signifikan, bahkan berpotensi menyebabkan kecacatan atau kematian. Oleh sebab itu, pencegahan komplikasi merupakan bagian penting dalam pengelolaan diabetes.

Pentingnya Edukasi bagi Penderita Diabetes

Salah satu pendekatan yang dilakukan di Indonesia untuk membantu pengelolaan penyakit kronis adalah melalui Program Pengelolaan Penyakit Kronis (PROLANIS). Program ini merupakan sistem pelayanan kesehatan yang melibatkan fasilitas kesehatan, BPJS Kesehatan, dan pasien untuk mengendalikan penyakit kronis seperti diabetes melitus dan hipertensi. Tujuan utama program ini adalah membantu pasien mencapai kualitas hidup yang optimal melalui pengelolaan penyakit yang terencana, termasuk pemeriksaan kesehatan rutin, edukasi, dan pendampingan gaya hidup sehat. Namun, keberhasilan program seperti PROLANIS tidak hanya bergantung pada pelayanan kesehatan yang diberikan, tetapi juga pada sejauh mana pasien memahami informasi mengenai penyakit mereka. Pengetahuan yang baik akan membantu pasien mengambil keputusan yang tepat terkait pola makan, aktivitas fisik, penggunaan obat, dan perawatan diri sehari-hari.

Gambaran Pengetahuan Peserta PROLANIS

Sebuah penelitian yang dilakukan pada peserta PROLANIS di Puskesmas Kota Gorontalo memberikan gambaran mengenai tingkat pengetahuan pasien terkait pencegahan komplikasi diabetes. Penelitian tersebut melibatkan 136 responden yang sebagian besar berusia antara 55–65 tahun dan mayoritas berpendidikan SMA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar peserta memiliki tingkat pengetahuan yang berada pada kategori “cukup”. Sekitar 41,2% responden memiliki pengetahuan yang cukup mengenai pencegahan komplikasi diabetes, sementara 38,2% memiliki pengetahuan yang masih kurang dan hanya sekitar 20,6% yang memiliki pengetahuan yang baik. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian pasien telah memiliki pemahaman dasar mengenai diabetes, masih banyak yang belum sepenuhnya memahami cara mencegah komplikasi secara optimal.

Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan Pasien

Tingkat pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain pengalaman hidup, usia, pendidikan, serta akses terhadap informasi kesehatan. Dalam penelitian tersebut, sebagian responden mengalami kesulitan menjawab pertanyaan terkait perawatan luka pada penderita diabetes. Hal ini menunjukkan bahwa aspek perawatan diri masih belum dipahami secara menyeluruh oleh sebagian pasien. Padahal, perawatan luka merupakan hal yang sangat penting karena penderita diabetes memiliki risiko tinggi mengalami luka yang sulit sembuh dan dapat berkembang menjadi komplikasi serius seperti ulkus diabetikum. Selain itu, faktor usia juga memengaruhi kemampuan seseorang dalam menerima informasi baru. Sebagian besar responden dalam penelitian tersebut berada pada kelompok usia lanjut, sehingga kemampuan kognitif dalam menyerap informasi kesehatan mungkin tidak seoptimal kelompok usia yang lebih muda. Faktor pendidikan juga berperan penting dalam meningkatkan pengetahuan kesehatan. Individu dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi cenderung memiliki kemampuan yang lebih baik dalam memahami informasi medis, menganalisis risiko kesehatan, serta mengambil keputusan terkait pengelolaan penyakit.

Peran Tenaga Kesehatan dalam Edukasi

Melihat masih adanya kesenjangan pengetahuan di kalangan pasien diabetes, peran tenaga kesehatan menjadi sangat penting dalam memberikan edukasi yang efektif. Edukasi tidak hanya berupa penyuluhan satu arah, tetapi juga perlu melibatkan metode yang lebih interaktif seperti pelatihan, diskusi kelompok, dan penggunaan media edukasi yang menarik. Pendekatan edukasi yang berbasis pengalaman juga dapat membantu pasien lebih memahami informasi kesehatan. Ketika pasien terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, mereka cenderung lebih mudah mengingat dan menerapkan informasi yang diperoleh. Selain itu, penggunaan media digital seperti video edukasi, infografis kesehatan, dan aplikasi kesehatan dapat menjadi strategi yang efektif untuk meningkatkan pemahaman pasien tentang diabetes.

Membangun Kesadaran untuk Hidup Lebih Sehat

Pada akhirnya, pengelolaan diabetes tidak hanya bergantung pada pengobatan medis, tetapi juga pada kesadaran pasien dalam menjaga kesehatan mereka. Pola makan seimbang, aktivitas fisik teratur, kontrol gula darah secara rutin, serta kepatuhan terhadap terapi merupakan langkah-langkah penting dalam mencegah komplikasi diabetes. Pengetahuan yang baik akan membantu pasien memahami bahwa diabetes bukan hanya penyakit yang harus diobati, tetapi juga kondisi yang harus dikelola secara aktif sepanjang hidup. Oleh karena itu, peningkatan edukasi kesehatan bagi penderita diabetes perlu menjadi prioritas dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Dengan pengetahuan yang lebih baik, pasien tidak hanya mampu mengendalikan penyakit mereka, tetapi juga dapat menjalani kehidupan yang lebih sehat, produktif, dan berkualitas.

Sources: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/axon/article/view/30185

Author: Nazla Sabania Attamimi, Serly Daud, Yuniarty Antu, Sri Andriani Ibrahim, Muchtar Nora Ismail Siregar

#FKUNGgul

#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran