
Diabetes melitus (DM) masih menjadi salah satu penyakit tidak menular yang terus mengalami peningkatan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Penyakit kronis ini terjadi akibat gangguan produksi maupun kerja hormon insulin sehingga kadar gula darah meningkat dalam jangka panjang. Jika tidak dikendalikan dengan baik, diabetes dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius yang memengaruhi kualitas hidup penderitanya. Berbagai komplikasi diabetes melitus dapat menyerang pembuluh darah besar maupun kecil. Komplikasi makrovaskular meliputi penyakit jantung koroner, stroke, dan hipertensi, sedangkan komplikasi mikrovaskular dapat berupa retinopati diabetik, nefropati diabetik, hingga neuropati diabetik. Kondisi tersebut menjadikan diabetes sebagai salah satu penyakit dengan beban kesehatan yang tinggi di masyarakat.
Penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan peserta Program Pengelolaan Penyakit Kronis (PROLANIS) mengenai pencegahan komplikasi diabetes masih perlu mendapat perhatian serius. Studi yang dilakukan di Puskesmas Kota Gorontalo tersebut melibatkan 136 peserta PROLANIS dengan mayoritas responden berada pada rentang usia 55–65 tahun.
Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar peserta memiliki tingkat pengetahuan dalam kategori cukup, yaitu sebanyak 41,2 persen. Namun, masih terdapat 38,2 persen peserta dengan tingkat pengetahuan kurang, sedangkan hanya 20,6 persen yang memiliki tingkat pengetahuan baik terkait pencegahan komplikasi diabetes melitus. Temuan tersebut menggambarkan bahwa edukasi kesehatan terkait pengelolaan diabetes masih perlu diperkuat, terutama pada kelompok usia lanjut. Pengetahuan yang baik mengenai pengendalian gula darah, pola makan sehat, aktivitas fisik, penggunaan obat, hingga perawatan luka sangat penting untuk mencegah komplikasi yang dapat memperburuk kondisi pasien.
Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa masih banyak peserta yang belum memahami dengan baik mengenai perawatan luka pada penderita diabetes. Sebagian besar responden menjawab kurang tepat terkait penggunaan yodium dan alkohol untuk membersihkan luka diabetes. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman praktis terkait pencegahan komplikasi masih belum optimal. Selain itu, pemahaman mengenai pola diet diabetes juga masih menjadi tantangan. Banyak peserta menganggap bahwa diet diabetes harus terdiri dari makanan khusus, padahal pengelolaan pola makan diabetes lebih menekankan pada keseimbangan nutrisi, pengaturan porsi, serta pengurangan konsumsi gula dan lemak berlebih.
Peneliti menjelaskan bahwa usia menjadi salah satu faktor yang memengaruhi tingkat pengetahuan peserta PROLANIS. Pada kelompok usia lanjut, kemampuan menerima dan memahami informasi baru cenderung mengalami penurunan sehingga edukasi kesehatan memerlukan pendekatan yang lebih sederhana, interaktif, dan berulang.
Faktor pendidikan juga berperan penting dalam meningkatkan pemahaman kesehatan. Peserta dengan tingkat pendidikan lebih tinggi cenderung lebih mudah memahami informasi medis, menganalisis informasi kesehatan, serta menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari. Program PROLANIS sendiri merupakan program pengelolaan penyakit kronis yang dikembangkan untuk membantu pasien diabetes dan hipertensi mencapai kualitas hidup yang optimal melalui pendekatan promotif dan preventif. Program ini melibatkan fasilitas kesehatan, BPJS Kesehatan, serta partisipasi aktif masyarakat dalam pengendalian penyakit kronis.
Secara nasional, hasil penelitian ini menjadi pengingat penting bahwa pengendalian diabetes tidak hanya bergantung pada terapi medis, tetapi juga pada tingkat literasi kesehatan masyarakat. Edukasi yang berkelanjutan, mudah dipahami, dan berbasis kebutuhan pasien menjadi langkah penting dalam mencegah komplikasi diabetes yang dapat menyebabkan kecacatan hingga kematian.
Para peneliti merekomendasikan agar fasilitas pelayanan kesehatan, khususnya Puskesmas, meningkatkan metode edukasi yang lebih interaktif seperti pelatihan, workshop, simulasi perawatan luka, serta penggunaan media edukasi visual yang lebih menarik. Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan pemahaman peserta PROLANIS sehingga pasien dapat lebih mandiri dalam mengelola penyakitnya. Melalui peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai diabetes dan pencegahan komplikasinya, diharapkan angka komplikasi kronis dapat ditekan, kualitas hidup pasien meningkat, serta beban pembiayaan kesehatan akibat penyakit tidak menular di Indonesia dapat dikendalikan secara lebih efektif.
Author: Nazla Sabania Attamimi, Serly Daud, Yuniarty Antu, Sri Andriani Ibrahim, Muchtar Nora Ismail Siregar
Sources: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/axon/article/view/30185/pdf_1
#FKUNGgul
#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran