
Stunting masih menjadi salah satu masalah kesehatan anak yang paling serius di Indonesia. Kondisi ini tidak hanya berkaitan dengan tinggi badan anak yang lebih pendek dibandingkan dengan anak seusianya, tetapi juga mencerminkan adanya gangguan pertumbuhan dan perkembangan akibat kekurangan gizi dalam jangka waktu yang lama. Stunting dapat terjadi karena berbagai faktor, seperti asupan nutrisi yang tidak memadai, infeksi yang berulang, serta kurangnya stimulasi perkembangan pada anak. Dampak dari stunting tidak hanya terlihat pada masa kanak-kanak, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang hingga dewasa. Anak yang mengalami stunting berisiko mengalami gangguan perkembangan kognitif, penurunan kemampuan belajar, serta kerentanan terhadap berbagai penyakit. Bahkan dalam jangka panjang, stunting dapat berdampak pada produktivitas ekonomi dan kesehatan reproduksi di masa depan.
Secara global, jutaan anak masih mengalami stunting. Data menunjukkan bahwa sekitar 149 juta anak di bawah usia lima tahun mengalami kondisi ini. Di Indonesia sendiri, prevalensi stunting masih tergolong tinggi, yaitu sekitar 24,4 persen. Oleh karena itu, berbagai upaya pencegahan terus dilakukan untuk menurunkan angka stunting, terutama pada periode awal kehidupan anak. Salah satu faktor penting yang berperan dalam mencegah stunting adalah pemberian makanan pendamping ASI atau yang dikenal dengan MP-ASI. MP-ASI mulai diberikan ketika bayi berusia enam bulan, karena pada usia tersebut ASI saja tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi. Makanan pendamping ini berfungsi untuk melengkapi kebutuhan energi, protein, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.
Namun, pemberian MP-ASI tidak hanya berkaitan dengan jenis makanan yang diberikan, tetapi juga frekuensi pemberiannya. Anak usia enam hingga dua puluh empat bulan memiliki kebutuhan nutrisi yang cukup tinggi, sehingga makanan harus diberikan secara teratur sesuai dengan usia dan kebutuhan mereka. Jika frekuensi pemberian makanan tidak mencukupi, maka kebutuhan gizi anak tidak terpenuhi dan berpotensi menghambat pertumbuhan.
Penelitian yang dilakukan pada anak usia 6–24 bulan menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara frekuensi pemberian MP-ASI dengan kejadian stunting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak yang menerima MP-ASI dengan frekuensi yang tidak sesuai memiliki risiko stunting sekitar 7,7 kali lebih besar dibandingkan dengan anak yang mendapatkan MP-ASI sesuai dengan rekomendasi yang berlaku.
Rekomendasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebutkan bahwa bayi usia 6–8 bulan sebaiknya diberikan MP-ASI sebanyak dua hingga tiga kali sehari. Ketika anak memasuki usia 9–12 bulan, frekuensi makan meningkat menjadi tiga kali sehari, dan pada usia 12–24 bulan anak juga dianjurkan makan tiga kali sehari dengan tambahan makanan selingan yang bergizi. Frekuensi makan ini penting karena anak pada usia tersebut biasanya hanya mampu makan dalam jumlah kecil, sehingga kebutuhan gizi mereka harus dipenuhi melalui pemberian makanan yang lebih sering.
Selain frekuensi makan, kualitas makanan yang diberikan juga berperan penting. Anak memerlukan makanan yang beragam, mengandung sumber protein, karbohidrat, lemak, serta vitamin dan mineral. Namun, dalam praktiknya, masih banyak anak yang mendapatkan makanan dengan frekuensi yang kurang atau tidak sesuai. Beberapa orang tua bahkan lebih sering memberikan susu formula atau makanan ringan dibandingkan makanan bergizi seimbang. Kondisi ini dapat menyebabkan anak tidak mendapatkan asupan nutrisi yang cukup untuk mendukung pertumbuhan mereka.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menekankan bahwa praktik pemberian makan pada bayi dan anak merupakan salah satu kunci penting dalam meningkatkan kesehatan dan kelangsungan hidup anak. Pemberian makanan yang tidak memadai, baik dari segi kualitas maupun frekuensi, dapat meningkatkan risiko malnutrisi kronis yang berujung pada stunting.
Oleh karena itu, peran orang tua sangat penting dalam memastikan anak mendapatkan makanan yang cukup dan bergizi. Edukasi mengenai pola pemberian MP-ASI yang tepat perlu terus ditingkatkan agar orang tua memahami pentingnya frekuensi makan yang sesuai dengan usia anak. Dengan pola makan yang baik dan seimbang, risiko stunting dapat dikurangi sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Pada akhirnya, pencegahan stunting bukan hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi juga membutuhkan peran aktif keluarga dan masyarakat. Dengan memberikan perhatian yang lebih besar pada pola makan anak sejak usia dini, kita dapat membantu menciptakan generasi yang lebih sehat, cerdas, dan produktif di masa depan.
Sources: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/axon/article/view/37300/pdf
Author: Ryskina Fatimah Siregar, Pascal Adventra Tandiabang, Novia Martin, Sulaiman Putra Nagaring
#FKUNGgul
#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran