Penyakit Ginjal Kronis: Ancaman Kesehatan yang Sering Datang Terlambat Disadari

Oleh: Jesica Mulyadi . 23 Maret 2026 . 15:11:04

Dalam beberapa dekade terakhir, penyakit tidak menular menjadi tantangan besar dalam sistem kesehatan global. Salah satu penyakit yang semakin mendapat perhatian adalah penyakit ginjal kronis (Chronic Kidney Disease/CKD). Penyakit ini tidak hanya berdampak pada kualitas hidup individu, tetapi juga menimbulkan beban ekonomi dan sosial yang signifikan bagi masyarakat dan sistem pelayanan kesehatan. Penyakit ginjal kronis merupakan kondisi ketika fungsi ginjal menurun secara progresif dan tidak dapat kembali normal. Ginjal yang sehat memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan cairan tubuh, mengatur elektrolit, serta membuang sisa metabolisme yang tidak diperlukan oleh tubuh. Ketika fungsi ginjal menurun secara bertahap selama lebih dari tiga bulan, tubuh mulai kehilangan kemampuan untuk mempertahankan keseimbangan tersebut. Dalam kondisi lanjut, pasien bahkan memerlukan terapi pengganti ginjal seperti hemodialisis atau cuci darah untuk mempertahankan kehidupan.

Secara global, penyakit ginjal kronis telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang semakin serius. Laporan Global Burden of Disease menunjukkan bahwa penyakit ini termasuk dalam sepuluh penyebab kematian utama di dunia dan diperkirakan akan masuk lima besar penyebab kematian global pada tahun 2040. Tren ini menunjukkan bahwa CKD tidak lagi dapat dipandang sebagai penyakit yang jarang terjadi, melainkan sebagai masalah kesehatan masyarakat yang membutuhkan perhatian serius. Di Indonesia, situasi ini juga menunjukkan kecenderungan yang serupa. Data registri ginjal nasional menunjukkan bahwa jumlah pasien yang menjalani hemodialisis terus meningkat setiap tahun. Bahkan, penyakit ginjal kronis kini tidak hanya menyerang kelompok usia lanjut, tetapi juga mulai banyak ditemukan pada kelompok usia produktif. Fenomena ini menandakan bahwa faktor gaya hidup modern, seperti pola makan tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik, kebiasaan merokok, serta konsumsi minuman berenergi secara berlebihan, ikut berperan dalam meningkatnya risiko penyakit ginjal kronis.

Di tingkat daerah, tren peningkatan kasus CKD juga terlihat di Provinsi Gorontalo. Rumah sakit rujukan di wilayah tersebut melaporkan peningkatan jumlah pasien yang menjalani hemodialisis setiap tahun. Sebagian besar pasien yang datang ke fasilitas kesehatan telah berada pada stadium lanjut penyakit ginjal, sehingga memerlukan terapi jangka panjang yang kompleks. Kondisi ini menunjukkan bahwa deteksi dini penyakit ginjal masih menjadi tantangan besar dalam sistem kesehatan. Secara ilmiah, perkembangan penyakit ginjal kronis dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Faktor usia menjadi salah satu determinan penting. Seiring bertambahnya usia, fungsi ginjal secara fisiologis akan mengalami penurunan. Penelitian menunjukkan bahwa setelah usia 40 tahun, laju filtrasi ginjal dapat menurun secara bertahap setiap tahunnya. Hal ini membuat kelompok usia lanjut lebih rentan mengalami kerusakan ginjal jika disertai dengan faktor risiko lainnya.

Selain usia, riwayat keluarga juga memiliki peran penting dalam meningkatkan risiko penyakit ginjal kronis. Individu yang memiliki anggota keluarga dengan penyakit ginjal memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mengalami kondisi yang sama. Faktor genetik tertentu diketahui dapat meningkatkan kerentanan seseorang terhadap kerusakan ginjal, terutama jika dikombinasikan dengan faktor risiko lain seperti hipertensi atau diabetes. Di antara berbagai faktor risiko yang ada, hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan salah satu faktor yang paling dominan dalam mempercepat kerusakan ginjal. Tekanan darah yang terus-menerus tinggi dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal sehingga mengganggu proses filtrasi darah. Dalam jangka panjang, kondisi ini menyebabkan jaringan ginjal mengalami kerusakan permanen dan menurunkan kemampuan ginjal untuk bekerja secara optimal.

Selain hipertensi, penyakit jantung juga memiliki hubungan erat dengan perkembangan penyakit ginjal kronis. Hubungan antara jantung dan ginjal sering disebut sebagai cardiorenal syndrome, yaitu kondisi ketika gangguan fungsi jantung dapat memengaruhi fungsi ginjal, dan sebaliknya. Gangguan aliran darah akibat penyakit jantung dapat mengurangi suplai darah ke ginjal, sehingga mempercepat kerusakan jaringan ginjal.

Faktor lain yang juga berkontribusi terhadap perkembangan CKD adalah diabetes melitus. Kadar gula darah yang tinggi dalam jangka waktu lama dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal dan menyebabkan nefropati diabetik, salah satu penyebab utama gagal ginjal di dunia. Meskipun demikian, dalam beberapa analisis statistik, pengaruh diabetes terhadap perkembangan CKD sering kali berkaitan erat dengan faktor lain seperti hipertensi dan usia.

Selain faktor medis, perilaku dan gaya hidup juga memiliki peran penting. Kebiasaan merokok dapat meningkatkan stres oksidatif dan menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah, termasuk pembuluh darah di ginjal. Sementara itu, konsumsi minuman berenergi secara berlebihan juga dapat meningkatkan tekanan darah dan memberikan beban tambahan pada fungsi ginjal. Namun demikian, penting untuk dipahami bahwa penyakit ginjal kronis sebenarnya dapat dicegah atau setidaknya diperlambat perkembangannya jika faktor risiko dikenali sejak dini. Deteksi dini melalui pemeriksaan kesehatan rutin, terutama pada kelompok berisiko tinggi seperti penderita hipertensi, diabetes, atau individu dengan riwayat keluarga penyakit ginjal, merupakan langkah penting dalam upaya pencegahan.

Pendekatan promotif dan preventif dalam pelayanan kesehatan juga harus diperkuat. Edukasi masyarakat mengenai pentingnya pola hidup sehat, pengendalian tekanan darah, pengaturan pola makan, serta aktivitas fisik yang cukup dapat membantu menurunkan risiko penyakit ginjal kronis. Pada akhirnya, penyakit ginjal kronis bukan hanya persoalan medis semata, tetapi juga mencerminkan bagaimana masyarakat menjalani gaya hidupnya. Tanpa kesadaran kolektif mengenai pentingnya menjaga kesehatan sejak dini, jumlah penderita CKD akan terus meningkat dan menjadi beban besar bagi sistem kesehatan.

Oleh karena itu, meningkatkan literasi kesehatan masyarakat mengenai penyakit ginjal kronis merupakan langkah strategis untuk mencegah semakin banyak individu yang harus menjalani terapi hemodialisis seumur hidup. Pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan, dan dalam konteks penyakit ginjal kronis, pencegahan dapat dimulai dari perubahan sederhana dalam pola hidup sehari-hari.

Sources: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/jsscr/article/view/36097/12770

Author: Abdulrahman Y. Hanapi, Djuna Lamando, Sri Manovita Pateda, Teti Sutriyati Tuloli, Irwan Irwan

#FKUNGgul

#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran