Peran Ureum dan eGFR dalam Menentukan Kadar Hemoglobin pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik Non-Dialisis

Oleh: Jesica Mulyadi . 2 Mei 2026 . 20:52:38

Penyakit ginjal kronik (PGK) masih menjadi salah satu tantangan kesehatan global yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Penurunan fungsi ginjal yang berlangsung secara progresif tidak hanya memengaruhi kemampuan tubuh dalam menyaring zat sisa metabolisme, tetapi juga meningkatkan risiko komplikasi serius, salah satunya anemia. Kondisi ini banyak ditemukan pada pasien PGK non-dialisis dan berdampak langsung terhadap kualitas hidup, produktivitas, hingga risiko penyakit kardiovaskular. Penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo mengungkap adanya hubungan penting antara kadar ureum, estimated Glomerular Filtration Rate (eGFR), dan kadar hemoglobin pada pasien PGK non-dialisis di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Gorontalo. Studi tersebut menegaskan bahwa semakin berat gangguan fungsi ginjal, semakin besar pula risiko terjadinya anemia pada pasien.

Dalam penelitian yang melibatkan 52 pasien PGK non-dialisis tersebut, mayoritas responden merupakan laki-laki dengan rentang usia dominan 36–65 tahun. Hasil pemeriksaan menunjukkan seluruh pasien mengalami peningkatan kadar ureum, penurunan eGFR, serta kadar hemoglobin di bawah nilai normal. Temuan ini menggambarkan bahwa gangguan fungsi ginjal kronik sangat erat kaitannya dengan gangguan pembentukan sel darah merah. Secara ilmiah, ginjal memiliki peran penting dalam memproduksi hormon eritropoietin (EPO), yaitu hormon yang merangsang pembentukan sel darah merah di sumsum tulang. Ketika fungsi ginjal menurun, produksi hormon tersebut ikut berkurang sehingga tubuh mengalami anemia. Selain itu, tingginya kadar ureum sebagai penanda akumulasi zat sisa metabolisme juga dapat memperburuk kondisi tubuh melalui peningkatan inflamasi kronis dan gangguan metabolisme besi.

Hasil analisis penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif antara kadar ureum dan hemoglobin. Artinya, semakin tinggi kadar ureum dalam darah, maka kadar hemoglobin cenderung semakin rendah. Sebaliknya, hubungan positif ditemukan antara eGFR dan hemoglobin, yang berarti semakin baik fungsi filtrasi ginjal, kadar hemoglobin cenderung lebih baik. Temuan ini memperkuat pemahaman bahwa anemia pada pasien PGK bukan hanya sekadar komplikasi tambahan, tetapi merupakan indikator penting progresivitas penyakit ginjal. Oleh karena itu, pemantauan hemoglobin secara rutin perlu dilakukan bersamaan dengan evaluasi fungsi ginjal seperti ureum dan eGFR, khususnya pada pasien PGK non-dialisis.

Selain memberikan gambaran ilmiah mengenai hubungan fungsi ginjal dan anemia, penelitian ini juga menyoroti pentingnya deteksi dini serta tata laksana komprehensif pada pasien PGK. Evaluasi status besi, inflamasi, dan faktor nutrisi perlu menjadi bagian dari pelayanan rutin agar penanganan anemia dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran. Di tingkat nasional, hasil penelitian ini menjadi kontribusi penting dalam penguatan layanan kesehatan ginjal di Indonesia, terutama di rumah sakit daerah. Pendekatan berbasis pemantauan laboratorium yang terintegrasi diharapkan mampu menekan komplikasi lanjutan, meningkatkan kualitas hidup pasien, dan mendukung upaya pengendalian penyakit tidak menular secara berkelanjutan.

Penelitian ini juga membuka peluang pengembangan studi lanjutan berskala multipusat di Indonesia untuk memperkuat bukti ilmiah terkait hubungan fungsi ginjal dan anemia, sekaligus mendukung penyusunan strategi pelayanan kesehatan yang lebih efektif bagi pasien penyakit ginjal kronik non-dialisis.

Author: Ariel Adyatma Budiono, Yuniarty Antu, Sitti Rahma, Ivan Virnanda Amu, Richard Arie Monoarfa

Sources: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/jjhsr/article/view/37005/pdf

#FKUNGgul

#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran