Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, Pondasi Kesehatan Keluarga dari Rumah

Oleh: Jesica Mulyadi . 6 Februari 2026 . 15:53:17

Derajat kesehatan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan fasilitas medis atau jumlah tenaga kesehatan. Faktor yang jauh lebih menentukan justru terletak di dalam rumah, yakni perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang diterapkan setiap hari oleh keluarga. Dari kebiasaan mencuci tangan hingga pengelolaan sampah, praktik sederhana ini terbukti memiliki dampak besar terhadap kualitas kesehatan masyarakat. Sebuah kegiatan edukasi kesehatan yang dilaksanakan di Desa Hutadaa, Kecamatan Talaga Jaya, Kabupaten Gorontalo, menunjukkan bahwa rendahnya penerapan PHBS masih menjadi persoalan nyata di tingkat rumah tangga. Namun, pendekatan edukasi berbasis komunitas terbukti mampu meningkatkan kesadaran dan motivasi warga untuk memulai perubahan perilaku sehat.

Masalah Kesehatan Dimulai dari Kebiasaan Sehari-hari

Hasil observasi awal di Desa Hutadaa menunjukkan kondisi yang cukup memprihatinkan. Delapan dari sepuluh rumah tangga masih memiliki kebiasaan merokok di dalam rumah, sebagian besar memiliki sanitasi yang kurang memadai, dan pengelolaan sampah rumah tangga belum berjalan dengan baik. Kondisi lingkungan seperti ini meningkatkan risiko berbagai penyakit berbasis lingkungan, mulai dari diare hingga infeksi saluran pernapasan. Secara nasional, masalah serupa juga masih banyak ditemukan. Data kesehatan menunjukkan bahwa lingkungan yang tidak sehat dan perilaku berisiko merupakan penyumbang utama rendahnya status kesehatan masyarakat, terutama di wilayah dengan keterbatasan akses informasi dan layanan kesehatan.

Edukasi sebagai Langkah Awal Perubahan

Untuk menjawab tantangan tersebut, dilakukan kegiatan edukasi PHBS berbasis rumah tangga sebagai bagian dari program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Negeri Gorontalo. Kegiatan yang dilaksanakan pada 7 September 2025 ini menyasar masyarakat Desa Hutadaa dengan pendekatan presentasi, video edukatif, dan diskusi interaktif. Materi yang disampaikan mencakup indikator utama PHBS, seperti:

  1. cara mencuci tangan yang benar,
  2. penggunaan jamban sehat,
  3. konsumsi makanan bergizi,
  4. pengelolaan sampah rumah tangga,
  5. aktivitas fisik harian,
  6. serta bahaya merokok di dalam rumah.

Pendekatan ini dirancang komunikatif dan sesuai dengan kondisi masyarakat desa, sehingga pesan kesehatan lebih mudah dipahami dan diterima.

Respons Warga Menjadi Sinyal Positif

Hasil kegiatan menunjukkan antusiasme warga yang tinggi, baik saat pemeriksaan kesehatan gratis maupun sesi edukasi. Diskusi berlangsung aktif, menandakan bahwa masyarakat tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mulai merefleksikan kondisi kesehatan keluarga dan lingkungannya sendiri. Peningkatan pemahaman terlihat dari kemampuan peserta menjelaskan kembali praktik PHBS dan menyebutkan manfaatnya. Banyak warga mengaku baru menyadari bahwa kebiasaan sehari-hari yang selama ini dianggap wajar, seperti merokok di dalam rumah atau tidak mencuci tangan dengan sabun, memiliki dampak besar terhadap kesehatan keluarga.

Pemberdayaan Lebih Efektif dari Sekadar Imbauan

Secara ilmiah, perubahan perilaku akan lebih bertahan lama jika muncul dari pemahaman dan kesadaran, bukan paksaan. Temuan kegiatan ini memperkuat pandangan bahwa pemberdayaan masyarakat melalui edukasi partisipatif merupakan strategi yang efektif dalam promosi kesehatan. Dengan melibatkan warga secara aktif, edukasi tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga membangun rasa tanggung jawab bersama. Masyarakat mulai melihat PHBS bukan sebagai aturan dari luar, melainkan sebagai kebutuhan untuk melindungi keluarga mereka sendiri.

Tantangan Keberlanjutan Masih Menghadang

Meski edukasi memberikan dampak positif, perubahan perilaku yang berkelanjutan tetap membutuhkan dukungan lingkungan. Keterbatasan fasilitas sanitasi, kebiasaan lama yang mengakar, serta faktor sosial ekonomi masih menjadi tantangan utama dalam penerapan PHBS secara konsisten. Karena itu, edukasi perlu diikuti dengan pendampingan berkelanjutan, penguatan peran kader kesehatan desa, serta dukungan dari pemerintah desa dan puskesmas. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar pesan kesehatan tidak berhenti pada satu kegiatan saja.

Rumah Tangga Sehat, Masyarakat Kuat

Kegiatan edukasi PHBS di Desa Hutadaa membuktikan bahwa rumah tangga adalah titik awal pembangunan kesehatan masyarakat. Ketika keluarga mulai membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga oleh lingkungan sekitar. PHBS bukan konsep rumit. Ia hadir dalam kebiasaan sederhana yang dilakukan setiap hari. Dengan edukasi yang tepat, dukungan lingkungan, dan keterlibatan aktif masyarakat, budaya hidup sehat dapat tumbuh dari rumah—dan menjadi fondasi kuat bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.

Source: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/damhil/article/view/35908/12267

Author: Jesica Mulyadi, Sulaiman Putra Nagaring, Zuhriana K. Yusuf

#FKUNGgul

#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran