Rabies merupakan salah satu penyakit menular paling mematikan di dunia. Penyakit ini disebabkan oleh virus yang menyerang sistem saraf pusat dan hampir selalu berakhir dengan kematian apabila gejala klinis telah muncul. Penularannya paling sering terjadi melalui gigitan hewan yang terinfeksi, terutama anjing, kucing, dan kera. Meskipun rabies sebenarnya dapat dicegah melalui vaksinasi dan penanganan cepat setelah gigitan, penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Data nasional menunjukkan bahwa puluhan ribu kasus gigitan hewan penular rabies masih terjadi setiap tahun, bahkan menyebabkan kematian yang sebenarnya dapat dicegah.
Gorontalo Masih Menghadapi Ancaman Rabies
Kabupaten Gorontalo menjadi salah satu wilayah yang masih menghadapi tingginya kasus gigitan hewan penular rabies. Pada tahun 2024 tercatat 279 kasus gigitan hewan penular rabies, sementara Provinsi Gorontalo secara keseluruhan mencatat lebih dari seribu kasus dengan korban meninggal dunia. Kondisi ini mendorong dilakukannya penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan masyarakat lebih rentan mengalami gigitan hewan penular rabies. Penelitian melibatkan 119 responden yang pernah mengalami gigitan hewan penular rabies di tujuh wilayah kerja puskesmas di Kabupaten Gorontalo.
Perilaku Menjadi Faktor Risiko Terbesar
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku masyarakat merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap risiko gigitan hewan penular rabies. Individu dengan perilaku pencegahan yang kurang baik memiliki risiko sekitar tiga kali lebih besar mengalami masalah terkait gigitan hewan penular rabies dibandingkan dengan mereka yang memiliki perilaku pencegahan yang baik. Perilaku yang dimaksud meliputi:
Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan pengendalian rabies tidak hanya bergantung pada layanan kesehatan, tetapi juga pada kesadaran dan perilaku masyarakat sehari-hari.
Pengetahuan Menentukan Keselamatan
Penelitian juga menemukan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat berhubungan erat dengan tindakan pencegahan rabies. Masyarakat yang memiliki pemahaman baik tentang rabies cenderung lebih cepat mencari pertolongan medis dan menerima vaksin antirabies setelah mengalami gigitan. Sebaliknya, kurangnya informasi dapat menyebabkan keterlambatan penanganan yang berpotensi berakibat fatal. Masih banyak masyarakat yang belum memahami bahwa rabies hampir selalu menyebabkan kematian apabila gejala sudah muncul. Oleh karena itu, edukasi menjadi salah satu strategi utama dalam upaya eliminasi rabies.
Peran Keluarga dan Lingkungan Tidak Bisa Diabaikan
Selain perilaku dan pengetahuan, penelitian menunjukkan bahwa dukungan keluarga, budaya masyarakat, akses terhadap fasilitas kesehatan, serta kondisi geografis turut memengaruhi risiko dan penanganan kasus rabies. Di beberapa wilayah, masih ditemukan kebiasaan membawa korban gigitan ke pengobatan tradisional terlebih dahulu sebelum ke fasilitas kesehatan. Padahal, setiap menit setelah gigitan sangat berharga untuk mencegah virus menyebar ke sistem saraf. Keluarga memiliki peran penting dalam mendorong korban segera mendapatkan pertolongan medis, sementara pemerintah daerah perlu memastikan akses layanan kesehatan tersedia hingga ke daerah terpencil.
Apa yang harus dilakukan jika digigit hewan?
Para ahli kesehatan merekomendasikan beberapa langkah penting apabila seseorang mengalami gigitan hewan yang dicurigai menularkan rabies:
Langkah sederhana ini dapat menyelamatkan nyawa.
Menuju Indonesia Bebas Rabies 2030
Pemerintah Indonesia menargetkan eliminasi rabies pada tahun 2030. Namun, target tersebut hanya dapat tercapai apabila terdapat kerja sama antara pemerintah, tenaga kesehatan, petugas veteriner, akademisi, dan masyarakat. Penelitian di Kabupaten Gorontalo memberikan pesan yang sangat jelas: pengendalian rabies tidak cukup hanya dengan menyediakan vaksin. Perubahan perilaku masyarakat, peningkatan pengetahuan, pengawasan hewan peliharaan, dan akses layanan kesehatan yang merata merupakan kunci utama untuk mencegah kematian akibat rabies. Dengan edukasi yang berkelanjutan dan partisipasi aktif masyarakat, Indonesia memiliki peluang besar untuk mewujudkan generasi yang lebih sehat dan bebas dari ancaman rabies di masa depan.
Sources: https://journal.unpacti.ac.id/index.php/JPP/article/view/2426/1304
Authors: Satra Mobilingo, Herlina Jusuf, Vivien Novarina A. Kasim
#FKUNGgul
#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran