
GORONTALO – Tuberkulosis (TB) hingga kini masih menduduki peringkat atas sebagai salah satu penyakit infeksi menular yang menjadi perhatian serius dalam sistem ketahanan kesehatan nasional Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, angka keberhasilan pengobatan TB nasional belum sepenuhnya mencapai target yang ditetapkan. Salah satu batu sandungan terbesar dalam eliminasi penyakit ini adalah tingginya angka putus obat (drop-out) akibat masa pengobatan yang panjang (minimal 6 bulan) serta efek samping obat anti-tuberkulosis (OAT) yang kerap memicu kejenuhan pada pasien. Ketidakpatuhan dalam mengonsumsi OAT tidak hanya mengancam keselamatan jiwa pasien, tetapi juga memicu bahaya laten berskala besar: yaitu mutasi bakteri Mycobacterium tuberculosis menjadi resisten terhadap obat, atau dikenal sebagai Multi-Drug Resistant Tuberculosis (TB-MDR). Penanganan TB-MDR jauh lebih kompleks, memakan waktu lebih lama, serta memerlukan biaya medis yang sangat mahal.
Secara psikologis dan sosiologis, kepatuhan pasien TB dibentuk oleh tiga pilar utama intervensi perilaku: pengetahuan (pemahaman tentang penyakit), sikap (penerimaan terhadap prosedur pengobatan), dan tindakan (kedisiplinan meminum obat setiap hari). Selama ini, metode edukasi konvensional di fasilitas kesehatan yang cenderung pasif seperti pembagian leaflet atau penjelasan lisan singkat saat pengambilan obat—sering kali gagal mempertahankan motivasi pasien dalam jangka panjang. Ketika gejala batuk mulai mereda di bulan kedua atau ketiga, pasien kerap merasa sudah sembuh dan memutuskan untuk menghentikan pengobatan secara sepihak.
Untuk mengatasi kejenuhan tersebut, riset yang menggunakan desain quasi-experimental (pre-test and post-test with control group design) ini menerapkan intervensi M-Health terstruktur. Pasien secara berkala dikirimkan konten edukasi berbasis audiovisual lewat aplikasi WhatsApp.
Pendekatan makro-edukasi digital ini memiliki keunggulan neurosains yang signifikan:
Studi klinis ini membandingkan kelompok pasien yang mendapatkan intervensi M-Health audiovisual dengan kelompok kontrol yang hanya menerima edukasi standar rumah sakit. Hasil analisis statistik menyingkap perubahan perilaku yang sangat signifikan:
Keberhasilan riset dari Universitas Negeri Gorontalo ini memberikan rekomendasi kuat yang aplikatif bagi program eliminasi TB di tingkat nasional. Di era digitalisasi medis, fasilitas kesehatan di Indonesia tidak boleh lagi gagap teknologi dalam melakukan pendampingan pasien penyakit kronis. Pemanfaatan Teknologi Murah dan Merakyat: Keunggulan utama dari intervensi M-Health berbasis WhatsApp ini adalah efisiensi biaya yang luar biasa dan kemudahan adopsi. Hampir seluruh lapisan masyarakat Indonesia saat ini telah menggunakan WhatsApp dalam kehidupan sehari-hari, sehingga pemerintah tidak perlu membangun aplikasi baru yang rumit dan mahal. Dengan mengintegrasikan sistem pengiriman video edukasi audiovisual terprogram ke dalam tata laksana pengawasan menelan obat (PMO) di puskesmas-puskesmas di seluruh Indonesia, angka dropout pasien TB dapat ditekan secara masif. Langkah preventif berteknologi tinggi namun membumi ini menjadi kunci strategis guna mewujudkan target Indonesia Bebas Tuberkulosis bagi generasi masa depan.
Author: Rivaldo I. Berahim, Herlina Jusuf, Sri Manovita Pateda
Sources: https://jurnal.globalhealthsciencegroup.com/index.php/IJGHR/article/view/5893/4119
#FKUNG#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran