Risiko Ganda di Lahan Pertanian: Riset Ungkap Intensitas Merokok Jadi Pemicu Utama Penurunan Fungsi Paru Petani

Oleh: Jesica Mulyadi . 26 Mei 2026 . 23:39:29

GORONTALO – Sebuah studi klinis dan kesehatan kerja terbaru yang dipublikasikan dalam Jambura Journal of Health Science and Research (2026) membawa kabar peringatan penting bagi sektor pertanian Indonesia. Penelitian yang dilakukan di Kelurahan Dembe Jaya, Kota Gorontalo ini menemukan adanya korelasi linier yang sangat kuat antara tingginya intensitas merokok kumulatif dengan risiko penurunan fungsi paru (gangguan respirasi) pada populasi petani.

Sektor pertanian sering kali dipersepsikan sebagai lingkungan kerja yang sehat karena berada di ruang terbuka. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa para petani di Indonesia menghadapi ancaman "risiko ganda" (double exposure). Di satu sisi, mereka terpapar debu tanah, sekam, serta bahan kimia berbahaya dari pupuk dan pestisida di ladang. Di sisi lain, gaya hidup dengan intensitas merokok yang tinggi melipatgandakan kerusakan pada organ pernapasan mereka.

Penelitian analitik kuantitatif dengan desain cross-sectional ini menggunakan metode diagnostik yang sangat akurat. Untuk mengukur paparan asap rokok secara kumulatif sepanjang hidup pasien, peneliti menggunakan Indeks Brinkman (perkalian antara jumlah rata-rata batang rokok yang diisap per hari dengan lamanya merokok). Sementara itu, kondisi aktual organ pernapasan diuji secara objektif menggunakan alat spirometri untuk mengukur volume dan arus udara paru. Melalui analisis statistik yang mendalam, riset ini membongkar fakta klinis yang mengkhawatirkan di kalangan petani:

  1. Prevalensi Gangguan Paru: Berdasarkan hasil pemeriksaan spirometri, mayoritas petani yang menjadi subjek penelitian terbukti telah mengalami kelainan fungsi paru. Kondisi ini didominasi oleh jenis gangguan restriksi (ketidakmampuan paru untuk mengembang sepenuhnya) serta gangguan obstruksi (penyumbatan aliran udara di saluran napas).
  2. Efek Linear Indeks Brinkman: Uji statistik membuktikan secara nyata bahwa semakin tinggi derajat Indeks Brinkman seorang petani (kategori merokok sedang hingga berat), maka semakin merosot pula kapasitas fungsi paru-parunya.

Sebaliknya, studi ini mencatat bahwa faktor usia biologis dan masa kerja di ladang tidak menunjukkan hubungan statistik yang dominan pada kelompok sampel ini. Hal tersebut menegaskan bahwa zat toksik dari kebiasaan merokok merupakan faktor determinan (pemicu utama) yang jauh lebih merusak jaringan paru dibandingkan dengan paparan debu pertanian itu sendiri.

Biomekanisme Kerusakan: Mengapa Asap Rokok Menghancurkan Paru-Paru? Secara patofisiologi, kombinasi antara partikel debu pertanian dan ribuan zat kimia beracun dari rokok (seperti nikotin, tar, dan karbon monoksida) memicu kerusakan struktural pada sistem pernapasan melalui mekanisme berikut:

  1. Kerusakan Silia Saluran Napas: Asap rokok yang diisap bertahun-tahun melumpuhkan dan menghancurkan silia (rambut-rambut halus di saluran pernapasan). Padahal, silia berfungsi sebagai sapu otomatis untuk membersihkan debu, serbuk sari, dan sisa pestisida yang terhirup petani saat bekerja. Lumpuhnya silia membuat kotoran asing mengendap permanen di dalam paru.
  2. Inflamasi Kronis dan Fibrosis (Restriksi): Penumpukan partikel asing dan zat kimia memicu reaksi peradangan (inflamasi) kronis pada dinding alveolus (kantong udara). Lama-kelamaan, jaringan paru yang meradang akan berubah menjadi kaku dan membentuk jaringan parut (fibrosis). Akibatnya, elastisitas paru berkurang (restriksi), membuat petani merasa terengah-engah dan sesak saat melakukan aktivitas fisik sedang di sawah.
  3. Penyempitan Saluran Udara (Obstruksi): Paparan asap rokok menstimulasi produksi lendir secara berlebihan (hipersekresi mukus) dan memicu penyempitan dinding bronkus. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya gangguan obstruksi, di mana aliran udara luar terhambat untuk masuk dan keluar dari paru-paru.

Mengingat pentingnya peran petani sebagai pilar ketahanan pangan nasional, para peneliti merekomendasikan langkah intervensi taktis dan preventif kesehatan kerja:

  1. Gerakan Edukasi Berbasis Indeks Brinkman: Puskesmas di wilayah pertanian diimbau tidak hanya memberikan edukasi larangan merokok secara umum, tetapi juga membantu petani menghitung skor Indeks Brinkman mereka secara mandiri sebagai deteksi dini risiko penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
  2. Kewajiban Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD): Petani harus diedukasi secara masif untuk selalu menggunakan masker respirator standar saat melakukan penyemprotan pestisida atau pemanenan guna meminimalkan paparan debu sekam.
  3. Penyediaan Layanan Skrining Spirometri Berkala: Pemerintah daerah melalui dinas kesehatan diharapkan memfasilitasi pemeriksaan fungsi paru gratis secara berkala bagi kelompok pekerja rentan seperti komunitas petani di pedesaan.

Studi dari Universitas Negeri Gorontalo ini menjadi pengingat kuat di tingkat nasional bahwa kesejahteraan petani tidak hanya diukur dari produktivitas hasil panen atau swasembada pangan, melainkan dari jaminan kesehatan organ pernapasan mereka agar tetap mampu bekerja secara produktif di masa depan.

Author: Muhammad Raihan Laide, Sri Manovita Pateda, Sri Andriani Ibrahim, Muhammad Isman Jusuf, Mohammad Zukri Antuke

Sources: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/jjhsr/article/view/36262/pdf

#FKUNGgul

#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran