
Kita sering mendengar penyakit jantung dikaitkan dengan kolesterol tinggi, hipertensi, atau serangan jantung mendadak. Namun, di balik berbagai penyakit yang familiar itu, ada gangguan irama jantung langka yang jarang dibicarakan publik tetapi dapat berdampak serius terhadap kualitas hidup seseorang. Kondisi tersebut dikenal sebagai Dual Atrioventricular Nodal Nonreentrant Tachycardia (DAVNNT) atau sering dijuluki double-fire tachycardia. Nama penyakit ini memang terdengar rumit. Namun secara sederhana, DAVNNT adalah kondisi ketika satu sinyal listrik dari jantung menghasilkan dua denyut jantung sekaligus akibat adanya dua jalur hantaran listrik yang aktif secara bersamaan. Akibatnya, jantung bisa berdetak terlalu cepat, tidak teratur, dan membuat penderitanya merasa berdebar hebat, mudah lelah, sesak, bahkan pingsan.
Masalah terbesar dari penyakit langka ini bukan hanya pada gangguan ritme jantungnya, tetapi pada kenyataan bahwa kondisi ini sering salah didiagnosis. Banyak pasien awalnya dikira mengalami fibrilasi atrium, gangguan saraf, serangan panik, atau jenis aritmia lain. Padahal, diagnosis yang keliru bisa berujung pada pengobatan yang tidak tepat dan keterlambatan penanganan. Penelitian yang dilakukan tim peneliti FK UNG dan dipublikasikan dalam jurnal internasional Insuficiencia Cardiaca memberikan kabar menggembirakan sekaligus pelajaran penting. Melalui telaah sistematis terhadap berbagai studi dunia, para peneliti menemukan bahwa meskipun DAVNNT tergolong sangat langka, penyakit ini sebenarnya dapat ditangani dengan sangat efektif jika dikenali sejak dini.
Dalam analisis tersebut, seluruh pasien yang menjalani tindakan ablasi jalur lambat (slow-pathway ablation) menunjukkan hasil yang sangat baik. Prosedur ini bekerja dengan menonaktifkan jalur listrik abnormal di jantung sehingga ritme kembali normal. Tingkat keberhasilan awal tindakan mencapai 100 persen, sementara sekitar 92 persen pasien tetap bebas dari kekambuhan dalam pemantauan jangka panjang. Angka ini memberi harapan besar. Artinya, meski penyakit ini terdengar menakutkan, teknologi kedokteran modern mampu menanganinya dengan hasil yang sangat menjanjikan.
Yang lebih menarik, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa beberapa pasien yang sebelumnya mengalami penurunan fungsi pompa jantung akibat denyut yang terlalu cepat ternyata mengalami perbaikan signifikan setelah terapi. Dalam istilah medis, kondisi ini disebut tachycardia-induced cardiomyopathy—yakni ketika jantung melemah karena terlalu lama bekerja dalam ritme abnormal. Setelah gangguan ritme diperbaiki, fungsi jantung pun bisa pulih kembali. Temuan ini membawa pesan penting bagi masyarakat: jantung berdebar terus-menerus tidak boleh dianggap sepele.
Banyak orang di Indonesia masih menganggap keluhan berdebar sebagai akibat kelelahan, stres, kurang tidur, atau konsumsi kopi berlebihan. Memang, dalam banyak kasus hal tersebut bisa benar. Namun, ketika keluhan berdebar muncul berulang, disertai sesak, mudah lelah, nyeri dada, atau pingsan, kondisi itu layak diperiksa lebih serius. Kita hidup di era ketika gaya hidup modern sering kali mengaburkan sinyal tubuh. Jadwal padat, stres pekerjaan, pola tidur buruk, hingga kebiasaan menunda pemeriksaan kesehatan membuat banyak orang datang ke rumah sakit setelah kondisinya memburuk.
Di sinilah pentingnya literasi kesehatan. Semakin masyarakat memahami cara kerja tubuhnya, semakin besar peluang untuk mendeteksi masalah lebih dini. Penyakit jantung tidak selalu datang dengan gejala dramatis seperti yang sering digambarkan di film. Kadang, ia hadir dalam bentuk keluhan ringan yang berulang dan perlahan menggerus kesehatan. Penelitian FK UNG ini juga menjadi bukti bahwa perguruan tinggi daerah mampu memberikan kontribusi penting bagi perkembangan ilmu kedokteran global. Publikasi ilmiah internasional bukan sekadar prestasi akademik, tetapi juga sarana menghadirkan pengetahuan yang berdampak bagi masyarakat luas.
Pada akhirnya, ada satu pelajaran sederhana yang bisa kita ambil: mendengarkan tubuh sendiri adalah langkah awal menjaga kehidupan. Ketika jantung memberi sinyal bahwa ada sesuatu yang tidak beres, respons terbaik bukan mengabaikannya, melainkan mencari tahu penyebabnya. Sebab dalam banyak kasus, diagnosis yang tepat dan penanganan yang cepat dapat menjadi pembeda antara pemulihan dan komplikasi serius.
Sources: https://www.researchgate.net/profile/Muchtar-Nora-Ismail-Siregar/publication/404039055_Long-term_outcomes_following_slow_pathway_ablation_for_dual_AV_nodal_nonreentrant_tachycardia_A_systematic_review_and_proportional_meta-analysis/links/69e7753dd4e5606c0af52f82/Long-term-outcomes-following-slow-pathway-ablation-for-dual-AV-nodal-nonreentrant-tachycardia-A-systematic-review-and-proportional-meta-analysis.pdfAuthor: Muchtar Nora Ismail Siregar, Kevin Karim, Vickry Wahidji, Dedy Lizal, Giky Karwiky, Chaerul Achmadand Mohammad Iqba#FKUNGgul#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran