Saat Sesak Setelah Melahirkan Bisa Menjadi Ancaman Nyawa: Waspada Emboli Paru pada Ibu Pascapersalinan

Oleh: Jesica Mulyadi . 21 Juni 2026 . 16:08:01

Bagi banyak keluarga, kelahiran seorang bayi adalah momen penuh kebahagiaan dan harapan. Namun, di balik suasana haru setelah persalinan, ada risiko medis serius yang sering luput dari perhatian masyarakat: emboli paru. Kondisi ini mungkin terdengar asing bagi sebagian besar orang, tetapi dampaknya bisa sangat fatal, terutama bagi ibu yang baru melahirkan. Penelitian terbaru dari dosen Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (FK UNG) mengingatkan kita bahwa masa setelah persalinan bukan hanya fase pemulihan biasa. Dalam beberapa kasus, justru pada masa inilah ancaman serius terhadap keselamatan ibu dapat muncul secara mendadak. Salah satunya adalah acute peripartum pulmonary embolism, atau emboli paru akut yang terjadi pada masa sekitar persalinan.

Secara sederhana, emboli paru terjadi ketika gumpalan darah menyumbat pembuluh darah di paru-paru. Akibatnya, aliran darah terganggu, kadar oksigen menurun, dan jantung harus bekerja jauh lebih keras untuk memompa darah. Jika sumbatan besar, kondisi ini dapat menyebabkan syok, gagalnya sirkulasi, bahkan kematian dalam waktu singkat. Kasus yang dilaporkan peneliti FK UNG menggambarkan betapa cepat kondisi ini dapat memburuk. Seorang perempuan berusia 36 tahun, yang baru saja melahirkan anak keempat secara normal, tiba-tiba mengalami sesak napas berat dan penurunan kesadaran. Sebelumnya, selama kehamilan ia sering merasa cepat lelah dan sesak saat beraktivitas, tetapi gejala tersebut belum dianggap sebagai tanda bahaya serius.

Saat diperiksa di rumah sakit, kondisinya sangat kritis. Tekanan darah menurun drastis, denyut jantung sangat cepat, napas tersengal, dan kadar oksigen berada pada level yang sangat berbahaya. Pemeriksaan lanjutan menunjukkan pasien mengalami emboli paru akut yang diperberat oleh stenosis mitral berat, yaitu penyempitan katup jantung yang menghambat aliran darah dari serambi kiri ke bilik kiri jantung. Mengapa ibu yang baru melahirkan berisiko mengalami kondisi ini? Jawabannya berkaitan dengan perubahan alami tubuh selama kehamilan. Saat hamil, tubuh secara fisiologis memasuki kondisi yang lebih mudah membentuk bekuan darah. Mekanisme ini sebenarnya merupakan cara tubuh untuk mencegah perdarahan berlebihan saat persalinan. Namun, di sisi lain, kondisi tersebut juga meningkatkan risiko terbentuknya gumpalan darah yang berbahaya.

Dalam dunia medis dikenal konsep Virchow’s triad, tiga faktor utama pembentukan bekuan darah: darah lebih mudah membeku, aliran darah melambat, dan adanya kerusakan pembuluh darah. Ketiganya dapat terjadi selama kehamilan dan persalinan. Inilah alasan mengapa risiko emboli paru pada masa postpartum bisa meningkat hingga sekitar 20 kali lipat dibandingkan dengan perempuan yang tidak hamil. Yang lebih mengkhawatirkan, banyak gejala awal emboli paru sering dianggap sebagai keluhan biasa setelah melahirkan. Sesak ringan, kelelahan, kaki bengkak, atau jantung berdebar kerap dianggap bagian normal dari pemulihan pascapersalinan. Padahal pada sebagian kasus, gejala-gejala itu bisa menjadi sinyal awal kondisi yang mengancam nyawa. Kasus ini juga menyoroti tantangan besar layanan kesehatan di negara berkembang: keterbatasan fasilitas medis canggih.

Dalam kondisi ideal, pasien emboli paru berat dapat ditangani dengan terapi trombolitik, pembedahan pengangkatan bekuan darah, atau teknologi penunjang seperti ECMO. Namun, fasilitas semacam itu belum tersedia merata di semua pusat layanan kesehatan. Meski demikian, tim medis tetap berhasil menyelamatkan pasien dengan pendekatan konvensional berupa ventilasi mekanik, obat pengencer darah (heparin), vasopresor, dan pemantauan intensif di ICU. Setelah tiga hari perawatan intensif, kondisi pasien membaik secara signifikan dan akhirnya diperbolehkan pulang setelah sembilan hari perawatan. Ada pelajaran besar yang dapat diambil dari penelitian ini. Selama ini perhatian masyarakat terhadap kesehatan ibu sering terfokus pada perdarahan, preeklampsia, atau infeksi. Padahal gangguan pembekuan darah dan komplikasi kardiovaskular juga merupakan penyebab utama kematian ibu, khususnya pada masa setelah persalinan.

Karena itu, literasi kesehatan maternal perlu diperluas. Keluarga, tenaga kesehatan, dan masyarakat perlu memahami bahwa keluhan sesak mendadak setelah melahirkan bukan sesuatu yang boleh dianggap remeh. Respons cepat dapat menjadi penentu antara hidup dan mati. Penelitian FK UNG ini juga menunjukkan bahwa riset kesehatan dari daerah mampu memberi kontribusi penting bagi pengetahuan medis global. Kasus-kasus klinis yang mungkin jarang dilaporkan justru bisa membuka pemahaman baru mengenai tantangan nyata pelayanan kesehatan di lapangan. Pada akhirnya, artikel ini mengingatkan kita pada satu hal penting: keselamatan ibu tidak berhenti saat bayi lahir. Persalinan mungkin telah selesai, tetapi perjuangan menjaga kesehatan ibu masih terus berlangsung. Dan sering kali, kewaspadaan pada jam-jam hingga minggu-minggu pertama setelah melahirkan adalah kunci untuk mencegah tragedi yang sebenarnya bisa dihindari.

Sources: https://www.jogcr.com/article_721474_6329969d62cfcf6687a388c8a9450afb.pdfAuthor: Muchtar Nora Ismail Siregar dan Vickry H Wahidji#FKUNGgul#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran