Strategi Mitigasi Berbasis Budaya: Studi Eksplorasi Mengungkap Pentingnya Kesiapsiagaan Bencana Berbasis Indigenous Psychology di Sekolah

Oleh: Jesica Mulyadi . 18 Mei 2026 . 22:51:25

BONE BOLANGO – Sebuah penelitian sosiomedis terbaru yang dipublikasikan dalam Indonesian Red Crescent Humanitarian Journal memberikan pandangan baru yang krusial bagi sistem penanggulangan bencana di dunia pendidikan Indonesia. Studi yang dilakukan di SMP Negeri 1 Botupingge, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo ini mengeksplorasi tingkat pengetahuan warga sekolah mengenai pemanfaatan teknologi aplikasi InaRISK melalui pendekatan indigenous psychology (psikologi pribumi/lokal). Kabupaten Bone Bolango merupakan wilayah geografis yang memiliki indeks risiko bencana alam yang cukup tinggi, mulai dari ancaman banjir, tanah longsor, hingga gempa bumi. Di tengah kerentanan tersebut, kesiapsiagaan satuan pendidikan aman bencana tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi visual, melainkan pada bagaimana instrumen modern tersebut mampu berasimilasi dengan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat.

Penelitian kualitatif ini bertujuan menggali secara mendalam sejauh mana guru, staf, dan siswa memahami penggunaan InaRISK, aplikasi besutan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang berfungsi memetakan potensi bahaya di sekitar pengguna. Namun, alih-alih hanya mengukur angka pemahaman secara kuantitatif, riset ini menggunakan lensa indigenous psychology untuk memahami cara berpikir warga sekolah yang dibentuk oleh latar belakang budaya asli setempat.

Hasil analisis data wawancara dan observasi terstruktur menunjukkan potret lapangan yang menantang sekaligus potensial:

  1. Keterbatasan Literasi Digital Kebencanaan: Secara umum, pemanfaatan aplikasi InaRISK secara mandiri oleh warga sekolah masih berada pada tahap awal. Banyak siswa dan tenaga pendidik yang belum mengoptimalkan fitur deteksi dini di ponsel pintar mereka secara berkala.
  2. Kekuatan Resiliensi Berbasis Budaya: Di sisi lain, riset ini menemukan bahwa warga sekolah memiliki modal sosial yang kuat berupa filosofi hidup dan tradisi lokal Gorontalo dalam menghadapi musibah. Konsep tolong-menolong (Dulohupa) dan kepatuhan kolektif terhadap alam menjadi penggerak alami yang membuat komunitas sekolah sangat solid saat menghadapi situasi darurat.

Mengapa Pendekatan 'Indigenous Psychology' Sangat Krusial?

Selama ini, sosialisasi mitigasi bencana nasional sering kali menggunakan pendekatan top-down yang kaku dan terlalu teknis, sehingga kurang membekas di hati masyarakat kecil. Pendekatan psikologi berbasis kearifan lokal menawarkan solusi alternatif yang lebih efektif karena beberapa alasan berikut:

  1. Meningkatkan Penerimaan Pesan (Cultural Appropriateness): Teknologi seperti InaRISK akan jauh lebih mudah diterima dan digunakan oleh siswa jika disosialisasikan menggunakan bahasa, analogi, dan nilai-nilai lokal. Ketika instruksi bencana sejalan dengan norma budaya mereka, kepatuhan perilaku keselamatan akan meningkat secara alami tanpa rasa terpaksa.
  2. Mentransformasi Ketakutan Menjadi Kesiapsiagaan Kolektif: Pendekatan psikologi lokal membantu memetakan bagaimana masyarakat lokal mempersepsikan bencana. Apakah sebagai takdir yang pasrah atau sebagai alarm alam? Dengan memahami psikologi ini, edukator dapat meluruskan miskonsepsi fatalistik dan mengubahnya menjadi aksi mitigasi yang proaktif, seperti rutin memeriksa peta risiko di aplikasi.
  3. Mengoptimalkan Modal Sosial Sekolah: Sekolah di daerah bukan sekadar tempat belajar, melainkan pusat interaksi komunitas. Nilai kepemimpinan lokal dan rasa kekeluargaan yang kental di SMP Negeri 1 Botupingge dapat dimanfaatkan untuk membentuk jejaring "Duta InaRISK" antarsiswa yang saling mengingatkan jika zona bahaya terdeteksi.

Melalui temuan ilmiah ini, para peneliti merumuskan rekomendasi strategis bagi pemangku kebijakan, BPBD, dan sektor pendidikan nasional dalam merancang program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB):

  1. Integrasi Kurikulum Mitigasi Kontekstual: Pengenalan aplikasi digital bencana seperti InaRISK sebaiknya diintegrasikan ke dalam muatan lokal atau kegiatan ekstrakurikuler (seperti Pramuka atau PMR) dengan mengadopsi simulasi berbasis permainan tradisional.Pelatihan Berkelanjutan Berbasis Komunitas: Sosialisasi tidak boleh bersifat satu arah atau sekadar formalitas seremonial. Diperlukan simulasi evakuasi berkala yang melibatkan tokoh adat atau perwakilan orang tua murid guna memperkuat ikatan psikologis kesiapsiagaan.
  2. Penyederhanaan Antarmuka Informasi: Evaluasi dari pengguna lokal menyarankan agar penyampaian data risiko bencana dalam aplikasi dibuat lebih membumi, menggunakan visualisasi yang ramah anak sekolah, dan mudah diakses secara luring (offline).

Riset di Bone Bolango ini menjadi bukti nyata tingkat nasional bahwa kecanggihan teknologi mitigasi era modern baru akan mencapai potensi terbaiknya jika berjalan beriringan dengan denyut nadi kebudayaan tempatan.

Author: Muhammad Rafliansyah Gobel, Zuhriana K. Yusuf, Chairul Wahjudi, Vivien Novarina Kasim, Muhammad N. Syukriani Yusuf

Sources: https://jurnal.bsmi.or.id/index.php/irchum/article/view/70/48

#FKUNGgul

#kedokteranung

Informasi

Agenda