Gorontalo, Indonesia – Permasalahan gizi pada remaja tidak lagi hanya berkaitan dengan ketersediaan makanan atau faktor ekonomi. Penelitian terbaru yang dilakukan pada siswa SMA Negeri 7 Kota Gorontalo menunjukkan bahwa kondisi psikologis, terutama stres dan kebiasaan makan karena emosi (emotional eating), memiliki hubungan erat dengan status gizi remaja. Hasil penelitian yang melibatkan 163 siswa ini menemukan bahwa sebagian besar remaja mengalami stres pada tingkat sedang hingga berat. Di sisi lain, banyak remaja juga menunjukkan kecenderungan makan bukan karena lapar, melainkan sebagai respons terhadap emosi seperti sedih, cemas, marah, atau tertekan. Temuan ini menjadi peringatan bahwa kesehatan mental dan kesehatan fisik remaja tidak dapat dipisahkan.
Gizi Remaja Masih Menjadi Tantangan Nasional
Remaja merupakan kelompok usia yang sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat cepat. Pada masa ini tubuh membutuhkan energi dan zat gizi dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan masa kanak-kanak. Namun, berbagai survei kesehatan menunjukkan bahwa Indonesia masih menghadapi masalah gizi ganda pada remaja. Di satu sisi terdapat remaja dengan berat badan kurang, sementara di sisi lain jumlah remaja yang mengalami kelebihan berat badan dan obesitas juga terus meningkat. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan saat ini, tetapi juga meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung pada masa dewasa.
Ketika Stres Mengubah Cara Remaja Makan
Penelitian menemukan bahwa lebih dari sepertiga responden berada pada kategori stres sedang, sementara hampir sepertiga lainnya mengalami stres berat. Stres pada remaja umumnya dipicu oleh berbagai faktor, antara lain:
Menariknya, stres tidak selalu memberikan dampak yang sama terhadap pola makan. Sebagian remaja kehilangan nafsu makan ketika mengalami tekanan psikologis sehingga berisiko mengalami berat badan kurang. Sebaliknya, sebagian remaja justru makan lebih banyak sebagai bentuk pelampiasan emosi, sehingga berpotensi mengalami kelebihan berat badan. Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang sangat signifikan antara tingkat stres dan status gizi remaja. Semakin tinggi tingkat stres yang dialami, semakin besar kemungkinan terjadinya gangguan status gizi.
Emotional Eating: Makan untuk Menenangkan Perasaan
Salah satu temuan penting dalam penelitian ini adalah tingginya perilaku emotional eating pada remaja. Emotional eating merupakan kondisi ketika seseorang makan bukan karena kebutuhan fisik, melainkan karena dorongan emosional. Misalnya, seseorang mengonsumsi makanan manis ketika sedih, membeli makanan cepat saji ketika merasa stres, atau terus mengemil ketika merasa bosan. Pada penelitian ini, hampir 40 persen responden berada dalam kategori emotional eating tinggi. Fenomena ini semakin sering ditemukan pada remaja karena masa remaja merupakan periode ketika kemampuan mengelola emosi masih berkembang. Saat menghadapi tekanan, makanan sering kali menjadi sumber kenyamanan yang mudah diakses. Masalahnya, makanan yang dipilih biasanya merupakan makanan tinggi gula, garam, dan lemak, seperti:
Konsumsi berlebihan makanan tersebut dapat meningkatkan asupan kalori secara signifikan dan pada akhirnya menyebabkan peningkatan berat badan. Penelitian ini menemukan bahwa remaja dengan tingkat emotional eating tinggi sebagian besar berada pada kategori kelebihan berat badan (overweight).
Hubungan Kesehatan Mental dan Gizi Semakin Jelas
Hasil penelitian memperkuat berbagai bukti ilmiah bahwa kesehatan mental memiliki peran penting dalam menentukan status gizi seseorang. Selama ini program perbaikan gizi sering berfokus pada edukasi makanan sehat dan aktivitas fisik. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa intervensi gizi akan lebih efektif jika juga memperhatikan kondisi psikologis remaja. Remaja yang mampu mengelola stres dengan baik cenderung memiliki pola makan yang lebih sehat dan status gizi yang lebih baik. Sebaliknya, remaja yang mengalami tekanan emosional berkepanjangan berisiko mengalami perubahan perilaku makan yang berdampak pada kesehatannya.
Peran Sekolah dan Orang Tua Sangat Penting
Temuan penelitian ini menjadi pengingat bahwa upaya menjaga kesehatan remaja tidak cukup hanya dengan menyediakan makanan bergizi. Sekolah dapat berperan melalui:
Sementara itu, orang tua perlu:
Remaja saat ini merupakan generasi produktif Indonesia di masa depan. Oleh karena itu, menjaga kesehatan mereka tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga kesehatan mental. Penelitian di SMA Negeri 7 Kota Gorontalo menunjukkan bahwa stres dan perilaku makan emosional memiliki hubungan yang signifikan dengan status gizi remaja. Temuan ini menegaskan bahwa program kesehatan remaja di Indonesia perlu mengintegrasikan pendekatan gizi dan kesehatan mental secara bersamaan. Dengan demikian, upaya menciptakan generasi muda yang sehat, cerdas, dan produktif dapat dilakukan secara lebih komprehensif dan berkelanjutan.
Sources: https://jurnal.unismuhpalu.ac.id/index.php/IJHESS/article/view/10650/7143
Authors: Tasmi S. Djafar, Vivien Novarina A. Kasim, Siti Hajar Salawali
#FKUNGgul
#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran