Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan untuk mendukung pemenuhan gizi anak sekolah dasar di Kota Gorontalo belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan gizi harian siswa. Temuan ini terungkap dalam hasil penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (UNG) yang dipublikasikan dalam Health Information: Jurnal Penelitian tahun 2025. Penelitian terhadap 147 siswa penerima MBG di SDN 77 Kota Tengah dan MI Terpadu Al-Ishlah Gorontalo menunjukkan bahwa meskipun kualitas penyajian makanan dinilai cukup baik, kandungan gizinya masih jauh dari ideal. Mayoritas siswa menilai makanan bersih, rasanya enak, dan porsinya cukup. Namun, kualitas tersebut belum sejalan dengan kecukupan zat gizi yang dibutuhkan anak usia sekolah.
Hasil analisis gizi menunjukkan bahwa energi, protein, dan lemak dalam menu MBG berada di bawah standar Angka Kecukupan Gizi (AKG). Rata-rata energi menu hanya mencapai sekitar 377 kkal, sementara kebutuhan ideal anak usia 10–12 tahun mencapai 531 kkal per kali makan. Asupan protein dan lemak juga tercatat belum memenuhi standar yang direkomendasikan. Temuan lain yang menjadi sorotan adalah kondisi makanan saat disajikan. Hanya 41 persen siswa yang menyatakan makanan diterima dalam kondisi hangat. Selebihnya mengaku menerima makanan dalam keadaan dingin, yang dinilai dapat menurunkan selera makan dan berpotensi mengurangi asupan gizi siswa.
Selain makronutrien, kandungan vitamin dan mineral dalam menu MBG juga belum merata. Sejumlah mikronutrien penting seperti vitamin A, zat besi, kalsium, dan seng masih berada jauh di bawah kebutuhan harian anak. Padahal, kekurangan mikronutrien dapat berdampak pada daya tahan tubuh, konsentrasi belajar, hingga pertumbuhan fisik anak.
Peneliti menegaskan bahwa temuan ini menjadi alarm penting bagi pelaksanaan program MBG. Program makan gratis dinilai tidak cukup hanya berfokus pada distribusi makanan, tetapi harus memastikan kualitas gizi benar-benar sesuai dengan kebutuhan anak.
Sebagai rekomendasi, tim peneliti mendorong perbaikan komposisi menu, peningkatan porsi lauk sumber protein hewani, pemanfaatan pangan lokal bergizi, serta pengawasan dan evaluasi berkala. Kolaborasi yang lebih kuat antara Badan Gizi Nasional dan satuan pelayanan gizi di daerah juga dinilai krusial agar program MBG tidak hanya berjalan, tetapi berdampak nyata.
Penelitian ini menegaskan bahwa tanpa perbaikan serius, Program Makan Bergizi Gratis berisiko belum optimal dalam menjawab persoalan gizi anak sekolah, khususnya di daerah dengan angka gizi kurang dan obesitas yang masih tinggi.
Source: https://myjurnal.poltekkes-kdi.ac.id/index.php/hijp/article/view/1773/1739
Author: Nanda Dwi Fakhriyyah Moridu1, Vivien Novarina A. Kasim, Nanang Roswita Paramata, Cecy Rahma Karim, Serly Daud
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran