Studi Terbaru: Kebiasaan Merokok Perburuk Kerusakan Paru pada Pasien Tuberkulosis

Oleh: Jesica Mulyadi . 15 Mei 2026 . 22:13:54

GORONTALO – Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Jambura Axon Journal mengungkapkan fakta krusial mengenai dampak buruk rokok terhadap pasien tuberkulosis (TB) paru. Studi yang dilakukan di Klinik Pratama Mulia Gorontalo ini menemukan adanya hubungan yang sangat signifikan antara riwayat merokok dengan luasnya lesi atau kerusakan jaringan paru yang terlihat melalui pemeriksaan radiografi toraks (foto rontgen).

Tuberkulosis masih menjadi tantangan kesehatan global yang berat, di mana penyakit menular kronis akibat kuman Mycobacterium tuberculosis ini menempati peringkat ke-10 sebagai penyebab kematian terbesar di dunia dari agen infeksius tunggal. Indonesia sendiri berada di posisi kedua dengan jumlah kasus TBC terbanyak di dunia setelah India. Munculnya kebiasaan merokok di tengah masyarakat menjadi salah satu faktor risiko utama yang memperparah epidemi ini.

Penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional ini memeriksa 60 pasien TB paru yang memenuhi kriteria di Klinik Pratama Mulia Gorontalo. Dari total sampel tersebut, 30 pasien memiliki riwayat merokok dan 30 pasien lainnya merupakan non-perokok. Melalui analisis bivariat menggunakan uji Pearson Chi-Square, ditemukan hasil statistik yang sangat bermakna dengan nilai $p = 0,001$ ($p < 0,05$). Angka ini membuktikan secara ilmiah bahwa riwayat merokok berhubungan erat dengan keparahan kerusakan paru-paru:

  • Kelompok Perokok: Sebanyak 56,7% (17 orang) pasien yang merokok menunjukkan gambaran lesi luas pada hasil rontgen toraks mereka.
  • Kelompok Non-Perokok: Sebaliknya, mayoritas pasien yang tidak merokok, yaitu sebanyak 43,3% (13 orang), hanya menunjukkan gambaran lesi ringan hingga sedang.

Karakteristik responden perokok dalam studi ini didominasi oleh laki-laki pada kelompok usia produktif 37–46 tahun. Usia produktif dinilai memiliki mobilitas dan kontak sosial yang tinggi di lingkungan masyarakat, sehingga lebih rentan terpapar infeksi jika daya tahan tubuhnya melemah.

Mengapa asap rokok membuat TBC jauh lebih parah?Secara medis, rokok merusak sistem pertahanan pernapasan secara struktural maupun seluler. Berikut adalah mekanisme biologis bagaimana paparan asap rokok memperburuk kondisi pasien TB paru:

  1. Merusak Sel Makrofag Paru: Asap rokok secara langsung merusak fungsi makrofag alveolar—sel imun yang bertindak sebagai "pemakan" bakteri di dalam paru-paru. Ketika fungsi makrofag terganggu, kemampuan tubuh untuk mengendalikan, melokalisasi, dan membunuh kuman Mycobacterium tuberculosis akan menurun drastis. Akibatnya, infeksi menyebar lebih cepat dan membentuk area kerusakan (lesi) yang lebih luas.
  2. Melumpuhkan Pertahanan Mukosa (Mucociliary Clearance): Saluran napas manusia dilengkapi dengan rambut-rambut halus (silia) dan lendir untuk menyaring benda asing. Kebiasaan merokok melumpuhkan mekanisme pembersihan mukosa ini, meningkatkan resistensi saluran napas, dan memicu kebocoran pembuluh darah kecil di paru-paru.
  3. Memicu Nekrosis dan Terbentuknya Kavitas: Zat-zat berbahaya di dalam rokok menyebabkan ketidakseimbangan berbagai mediator inflamasi. Peradangan hebat yang tidak terkendali ini memicu kerusakan langsung pada parenkim (jaringan utama) paru, mengganggu proses oksigenasi, hingga menyebabkan jaringan paru mengalami infark (mati karena kekurangan aliran darah), nekrosis (kematian jaringan), dan berakhir pada terbentuknya kavitas atau rongga kosong yang rusak.

Dampak Klinis Tambahan: Berdasarkan literatur medis terkait, pasien TBC aktif yang merokok tidak hanya mengalami kerusakan radiologis yang luas, tetapi juga berisiko menghadapi perpanjangan masa pengobatan, kegagalan konversi kultur dahak, serta peningkatan risiko kekambuhan TBC hingga dua kali lipat dibandingkan dengan non-perokok. Hasil studi ini memberikan bukti nyata di tingkat lokal bahwa merokok secara radikal merusak efisiensi imun paru dalam melawan infeksi tuberkulosis. Pasien TB paru yang merokok memiliki risiko hingga 3 kali lebih besar untuk mengalami pembentukan lesi kavitas yang parah pada paru-paru mereka. Melalui temuan ini, peneliti mengimbau keras kepada masyarakat luas untuk menjauhi rokok dan asapnya sebagai langkah preventif utama. Bagi pasien yang sedang menjalani pengobatan TBC, berhenti merokok secara total adalah keputusan mutlak demi mempercepat proses penyembuhan jaringan paru dan mencegah kerusakan organ yang permanen.

Author: Anggi Aprilisya, Elen Mahmud Lukum, Vivien Novarina A Kasim, Sri Manovita Pateda, Winansih Gubali

Sources: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/axon/article/view/30118/pdf

#FKUNGgul

#kedokteranung

Informasi

Agenda