
Gorontalo – Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) sukses menggelar prosesi pengambilan sumpah dokter baru periode III tahun 2026 yang berlangsung khidmat di Azlea Convention Centre, Jumat (15/5/2026). Momentum ini menjadi tonggak penting perjalanan FK UNG dalam mencetak dokter baru yang unggul, profesional, berdaya saing, dan siap mengabdi kepada masyarakat.
Prosesi sumpah dan pelantikan dokter dihadiri langsung oleh Rektor Universitas Negeri Gorontalo, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng., jajaran pimpinan universitas, Ketua Senat UNG, para dekan, Direktur Vokasi dan Pascasarjana, kepala biro, pimpinan lembaga, Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota Gorontalo, Ketua IDI Provinsi dan Cabang Gorontalo, direktur rumah sakit pendidikan utama dan satelit, Kepala BKKBN Provinsi Gorontalo, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Gorontalo, Kepala Basarnas Provinsi Gorontalo, rohaniwan, dosen, tenaga kependidikan, serta keluarga para dokter baru. Prosesi pelantikan diawali dengan pengambilan sumpah dokter, penyematan jas dokter oleh orang tua, penandatanganan sumpah dokter, serta penyerahan sertifikat profesi dokter yang dilakukan langsung oleh Dekan FK UNG, Dr. dr. Cecy Rahma Karim, Sp.G.K. Selanjutnya, pemasangan gordon dilakukan oleh Rektor UNG sebagai simbol pengukuhan resmi dokter baru FK UNG.
Perwakilan dokter baru sekaligus peraih nilai tertinggi UKNPDPD, dr. Bryan Achmad Otoluwa, dalam kesan dan pesannya, menyampaikan bahwa keberhasilan yang diraih merupakan hasil dari perjuangan panjang, dukungan keluarga, bimbingan dosen, dan doa dari berbagai pihak. Menurutnya, sumpah dokter bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi komitmen moral dan profesional kepada Tuhan dan masyarakat. Ia menegaskan bahwa tantangan selama pendidikan kedokteran bukanlah hambatan untuk berkembang dan bersaing dengan fakultas kedokteran lain di Indonesia. “Kami menyadari bahwa nilai yang kami capai bukanlah sekadar trofi, melainkan dasar keselamatan pasien yang harus kami pertanggungjawabkan kepada masyarakat. Gelar dokter bukan tentang identitas diri, tetapi tentang pengabdian, integritas, dan kemanusiaan,” ungkap Bryan.
Ia juga menceritakan pengalaman saat menjalani stase kegawatdaruratan di RSSA yang sempat membuatnya minder ketika dibandingkan dengan mahasiswa dari fakultas kedokteran lain yang lebih lama berdiri. Namun, pengalaman tersebut justru membuktikan bahwa dengan tekad, kerja keras, dan doa, mahasiswa FK UNG mampu menunjukkan kualitas dan daya saing yang tinggi.
Sementara itu, Ketua IDI Provinsi Gorontalo, Dr. dr. Muhammad Isman Jusuf, Sp.N., FISQua, menekankan bahwa sumpah dokter merupakan amanah besar yang harus dijaga sepanjang hayat profesi. Ia berpesan agar para dokter baru terus menjaga integritas dan kompetensi, mengingat ilmu kedokteran terus berkembang dari waktu ke waktu. “Jadilah dokter yang bukan hanya pintar secara akademik, tetapi juga humanis, memiliki empati, dan mampu menjadi penenang bagi pasien. Obat dan teknologi memang penting, tetapi sikap ramah dan ketulusan dalam melayani jauh lebih bermakna bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia juga mengajak para dokter baru untuk aktif dalam organisasi profesi IDI sebagai wadah pembinaan etik, perlindungan hukum, dan pengembangan profesionalisme dokter di Indonesia.
Dekan FK UNG, Dr. dr. Cecy Rahma Karim, Sp.G.K., menyampaikan rasa bangga atas capaian para lulusan yang berhasil melalui proses pendidikan profesi dokter dengan hasil membanggakan. Menurutnya, FK UNG lahir dari kebutuhan besar masyarakat Gorontalo dan kawasan Teluk Tomini terhadap akses pendidikan dan pelayanan kesehatan yang berkualitas. “FK UNG baru berusia tujuh tahun, namun semangat untuk terus tumbuh, berbenah, dan berkontribusi tidak pernah padam. Pengukuhan dokter kali ini menjadi sangat istimewa karena dilaksanakan dalam status akreditasi unggul,” jelasnya.
Ia menambahkan FK UNG berhasil mencatatkan kelulusan UKNPDPD 100 persen selama tiga periode berturut-turut dengan capaian nilai di atas rata-rata nasional. Pada periode Februari 2026, nilai rata-rata CBT mencapai 94 dan OSCE mencapai 95.
Selain itu, FK UNG juga menjadi salah satu fakultas kedokteran negeri termuda di Indonesia yang berhasil meraih predikat unggul serta telah memiliki Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi. “Kami berharap lulusan FK UNG tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki etika, empati sosial, dan komitmen pengabdian yang kuat bagi masyarakat,” tambahnya.
Dalam sambutannya, Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng., memberikan apresiasi atas perkembangan pesat FK UNG yang dinilai semakin kompetitif di tingkat nasional. Menurutnya, keberhasilan FK UNG tidak terlepas dari sistem pembelajaran yang melibatkan pembimbing dan konsulen secara langsung dengan mahasiswa profesi dokter. “FK UNG dengan status unggul akan menjadi rujukan calon dokter di Indonesia. Keberhasilan yang diraih saat ini harus terus dipertahankan karena mempertahankan prestasi jauh lebih berat dibanding meraihnya,” ujar Rektor.
Ia juga mengungkapkan rencana pengembangan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di FK UNG, termasuk bidang obstetri dan ginekologi, bedah, jantung, dan radiologi. Rektor menegaskan bahwa keberadaan FK UNG telah membuka akses pendidikan kedokteran yang lebih luas bagi putra-putri daerah untuk membuktikan kapasitas dan kualitasnya hingga mampu bersaing di tingkat nasional.
Acara kemudian ditutup dengan pemberian penghargaan kepada lulusan terbaik, dilanjutkan dengan penghargaan pada nilai tertinggi UKNPDPD CBT dan OSCE, foto bersama, serta doa bersama agar para dokter baru FK UNG menjadi tenaga kesehatan unggul, berdaya saing, dan mampu menjadi garda terdepan pelayanan kesehatan di Gorontalo maupun di kawasan Teluk Tomini.