
Sindrom Brugada merupakan salah satu penyebab utama kematian jantung mendadak pada usia produktif, terutama pada pria di bawah 50 tahun. Penyakit ini bersifat genetik dan sering kali tidak menunjukkan gejala hingga terjadi gangguan irama jantung yang fatal. Di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, angka kejadiannya tercatat jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah lain di dunia. Selama ini, penanganan utama sindrom Brugada masih bergantung pada pemasangan Implantable Cardioverter Defibrillator (ICD)—alat kejut jantung yang berfungsi mencegah kematian akibat aritmia. Namun, terapi ini bersifat reaktif, mahal, dan tidak menyentuh akar masalah genetik. Kini, dunia medis mulai melirik terapi gen sebagai pendekatan yang lebih mendasar dan berpotensi definitif.
Masalah Utama: Mutasi Gen SCN5A
Sindrom Brugada paling sering disebabkan oleh mutasi gen SCN5A, gen yang mengatur fungsi saluran natrium pada sel otot jantung. Mutasi ini mengganggu aliran listrik jantung, sehingga memicu gangguan irama yang berbahaya. Kajian ilmiah menunjukkan bahwa mutasi SCN5A menyebabkan penurunan fungsi saluran natrium (loss of function), membuat impuls listrik jantung menjadi tidak stabil. Kondisi ini menjelaskan mengapa penderita Brugada sangat rentan mengalami henti jantung mendadak, bahkan tanpa riwayat penyakit sebelumnya.
Terapi Gen: Mengobati dari Akar Masalah
Berbeda dengan terapi konvensional, terapi gen bertujuan memperbaiki kerusakan genetik secara langsung. Salah satu pendekatan yang paling menjanjikan adalah penggunaan adeno-associated virus (AAV) sebagai “kendaraan” untuk mengantarkan gen terapeutik ke dalam sel jantung. Dalam kajian ini dijelaskan bahwa AAV—khususnya tipe AAV9—memiliki kemampuan tinggi untuk menargetkan sel otot jantung dengan risiko efek samping yang relatif rendah. Terapi gen berbasis AAV-MOG1 terbukti mampu membantu memulihkan fungsi saluran natrium jantung pada model eksperimental, sehingga memperbaiki gangguan irama jantung yang khas pada sindrom Brugada.
Peran Mengejutkan Resveratrol
Menariknya, penelitian ini menyoroti peran resveratrol, senyawa alami yang banyak ditemukan pada anggur merah, kacang-kacangan, dan buah beri. Selama ini, resveratrol dikenal sebagai antioksidan yang baik untuk kesehatan jantung. Namun, kajian ini menunjukkan potensi yang jauh lebih besar. Secara ilmiah, resveratrol mampu:
Resveratrol bekerja dengan mengaktifkan jalur seluler penting seperti Sirtuin dan p53, yang berperan dalam perbaikan DNA dan stabilitas sel. Lingkungan sel yang lebih “sehat” ini memungkinkan terapi gen bekerja lebih efektif dan berkelanjutan.
Kombinasi Terapi: Harapan Masa Depan
Kajian ini menegaskan bahwa kombinasi terapi gen berbasis AAV dan resveratrol berpotensi menjadi pendekatan inovatif dalam penanganan sindrom Brugada. Resveratrol tidak berdiri sebagai obat tunggal, melainkan sebagai pendukung terapi gen yang meningkatkan keberhasilan pengobatan. Pendekatan ini dinilai lebih menjanjikan dibandingkan terapi konvensional karena:
Meski hasil kajian sangat menjanjikan, para peneliti menekankan bahwa terapi ini belum siap diterapkan secara luas pada manusia. Masih diperlukan penelitian lanjutan untuk memastikan keamanan jangka panjang, dosis optimal resveratrol, serta ketepatan target terapi gen agar tidak menimbulkan efek di luar sasaran. Namun demikian, arah riset ini memberikan harapan besar bagi penderita sindrom Brugada, terutama di wilayah dengan angka kejadian tinggi seperti Asia Tenggara.
Kesimpulan
Kajian ilmiah ini menunjukkan bahwa resveratrol berpotensi menjadi kunci penting dalam meningkatkan efektivitas terapi gen untuk sindrom Brugada akibat mutasi SCN5A. Dengan memadukan teknologi terapi gen dan senyawa alami yang bersifat protektif, dunia kedokteran mulai melangkah menuju pengobatan yang lebih presisi, aman, dan menyentuh akar penyakit. Jika penelitian lanjutan berhasil, pendekatan ini dapat mengubah paradigma penanganan sindrom Brugada, dari sekadar pencegahan kematian mendadak menjadi terapi kuratif berbasis genetik.
Source: https://link.springer.com/article/10.1186/s43044-025-00640-4
Author: Andin Zahrani Pateda, Andi Alika Azzahra, Kuni Zakiyyah Sumargo, Muchtar Nora Ismail Siregar
#FKUNGgul
#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran