Tuberkulosis Anak di Indonesia: Masalah Kesehatan yang Dimulai dari Lingkungan Terdekat

Oleh: Jesica Mulyadi . 4 Januari 2026 . 22:13:32

Tuberkulosis (TB) hingga kini masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat global, termasuk di Indonesia. Di balik berbagai upaya penanggulangan yang dilakukan pemerintah, satu kelompok rentan masih sering luput dari perhatian, yakni anak-anak. Padahal, data menunjukkan bahwa TB pada anak bukan hanya nyata, tetapi juga mencerminkan masalah yang lebih mendasar dalam lingkungan keluarga dan sosial. Kajian ilmiah yang dilakukan oleh tim Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo melalui metode systematic literature review terhadap sejumlah penelitian nasional mengungkap bahwa infeksi TB pada anak sangat dipengaruhi oleh faktor di sekitar kehidupan sehari-hari mereka.

Penularan yang Paling Sering Terjadi di Rumah

Temuan utama dari kajian tersebut menunjukkan bahwa riwayat kontak erat dengan penderita TB dewasa, khususnya anggota keluarga yang tinggal serumah, merupakan faktor risiko paling dominan. Anak-anak yang hidup bersama penderita TB aktif memiliki risiko terinfeksi jauh lebih tinggi dibandingkan anak-anak yang tidak memiliki riwayat kontak. Fakta ini memperlihatkan bahwa rumah, yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak, justru sering menjadi lokasi utama penularan TB. Tanpa deteksi dini dan skrining kontak yang optimal, penularan berlangsung secara diam-diam dan berulang.

Lingkungan Hunian yang Memperparah Risiko

Selain kontak langsung, kondisi lingkungan tempat tinggal turut memperbesar risiko TB pada anak. Hunian padat, ventilasi yang buruk, kelembapan tinggi, serta paparan asap rokok di dalam rumah terbukti menciptakan kondisi ideal bagi penyebaran bakteri TB. Anak-anak yang tinggal di lingkungan semacam ini menghadapi risiko ganda: sistem kekebalan tubuh yang belum matang dan paparan lingkungan yang tidak sehat. Kombinasi tersebut menjadikan TB pada anak sebagai persoalan kesehatan yang kompleks dan berlapis.

Usia Dini dan Kerentanan Biologis

Kajian tersebut juga menunjukkan bahwa anak usia balita, khususnya rentang usia 0–4 tahun, merupakan kelompok paling rentan. Pada usia ini, sistem imun belum berkembang sempurna sehingga tubuh anak lebih sulit melawan infeksi. Anak laki-laki tercatat memiliki risiko sedikit lebih tinggi dibandingkan anak perempuan. Imunisasi BCG tetap menjadi salah satu upaya penting dalam pencegahan TB berat pada anak. Meski efektivitasnya dapat berbeda-beda, imunisasi ini terbukti berperan dalam menurunkan risiko komplikasi TB yang fatal.

Peran Pengetahuan dan Perilaku Keluarga

Faktor sosial dan perilaku keluarga tidak kalah penting. Rendahnya pengetahuan orang tua tentang TB, keterlambatan mengenali gejala, serta praktik hidup sehat yang kurang baik berkontribusi besar terhadap meningkatnya risiko TB pada anak. Kondisi sosial ekonomi juga berpengaruh. Keluarga dengan keterbatasan ekonomi sering kali menghadapi kendala dalam mengakses layanan kesehatan, memperbaiki kondisi rumah, maupun memenuhi kebutuhan gizi anak secara optimal.

TB Anak Bukan Sekadar Masalah Medis

Kajian ini menegaskan bahwa TB pada anak bukan hanya masalah medis, melainkan persoalan sosial dan lingkungan yang memerlukan pendekatan menyeluruh. Pengobatan saja tidak cukup jika tidak disertai upaya pencegahan di tingkat keluarga dan komunitas. Tanpa intervensi terintegrasi, TB anak akan terus menjadi ancaman senyap yang menggerogoti kualitas generasi masa depan.

Investasi untuk Masa Depan Bangsa

Anak-anak adalah aset bangsa. Ketika mereka terinfeksi TB, dampaknya tidak hanya dirasakan saat ini, tetapi juga berpengaruh terhadap pertumbuhan, perkembangan, dan produktivitas di masa depan. Oleh karena itu, pencegahan TB pada anak sejatinya adalah investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia. TB anak tidak muncul secara tiba-tiba. Ia tumbuh dari kontak yang terabaikan, lingkungan yang tidak sehat, dan minimnya pengetahuan. Mengatasinya berarti memperbaiki sistem secara menyeluruh—dari rumah, komunitas, hingga kebijakan nasional.

Source: https://www.jurnal.unismuhpalu.ac.id/index.php/JKS/article/view/9553/6479

Author: Nurul Fauziah Sabir, Suci Surya Rejeki Mokoginta, Moch Rasya A Islamay Otoluwa, Micheel Audrey Runtuwene, Sri Andriani Ibrahim

#FKUNGgul

#kedokteranung

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran