BONE BOLANGO – Sebuah studi kesehatan terbaru yang dipublikasikan dalam International Journal of Health, Economics, and Social Sciences (IJHESS, Januari 2026) memberikan peringatan penting bagi para penyandang diabetes melitus (DM). Penelitian yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Bulango Selatan, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo ini menemukan adanya hubungan kausalitas yang sangat kuat antara durasi atau lama waktu seseorang mengidap diabetes dengan risiko terjadinya kerusakan saraf perifer, atau yang dikenal dalam dunia medis sebagai neuropati diabetik.
Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa darah akibat gangguan pada produksi atau fungsi hormon insulin. Jika kondisi gula darah tinggi (hiperglikemia) ini dibiarkan berlangsung menahun tanpa kontrol yang ketat, dampaknya akan merusak pembuluh darah kecil yang memberi nutrisi ke saraf perifer, memicu nyeri, mati rasa, hingga risiko amputasi kaki.
Penelitian analitik korelasi dengan pendekatan cross-sectional ini melibatkan puluhan pasien diabetes melitus tipe 2 yang tercatat aktif melakukan pemeriksaan di Puskesmas Bulango Selatan. Data dikumpulkan secara komprehensif melalui rekam medis untuk mengetahui lamanya menderita penyakit, serta wawancara dan pemeriksaan fisik saraf kaki menggunakan kuesioner medis terstandar.
Hasil analisis bivariat menggunakan uji statistik Chi-Square menunjukkan angka signifikansi yang sangat kuat dengan nilai p = 0,001 (p < 0,05). Temuan di lapangan mengonfirmasi bahwa manifestasi klinis neuropati diabetik sangat bergantung pada garis waktu (timeline) penyakit:
Mengapa Durasi Penyakit Menahun Merusak Sistem Saraf?
Secara patofisiologi, tubuh yang terpapar kadar gula darah tinggi dalam jangka waktu yang panjang akan mengalami serangkaian kerusakan biokimia secara bertahap. Berikut adalah alasan mengapa durasi penyakit menjadi faktor risiko utama komplikasi saraf:
Berdasarkan temuan riset ini, para peneliti dan praktisi kesehatan menekankan bahwa waktu adalah faktor kunci. Mengingat komplikasi kerusakan saraf ini berkembang secara senyap (silent progression) seiring bertambahnya tahun masa menderita diabetes, langkah preventif harus segera diambil secara nasional:
Studi di Kabupaten Bone Bolango ini menjadi pengingat berharga bagi tata laksana kesehatan nasional bahwa pencegahan komplikasi diabetes mellitus tidak boleh ditunda, terutama bagi para pasien yang telah berjuang melawan penyakit ini dalam hitungan tahun.
Author: Nikma Suryana Harun, Vivien Novarina Kasim, Nirwanto Rahim
Sources: https://jurnal.unismuhpalu.ac.id/index.php/IJHESS/article/view/10059/6702
#FKUNGgul
#kedokteranung