Waspada Komplikasi Lanjutan: Riset Temukan Semakin Lama Menderita Diabetes, Risiko Kerusakan Saraf Naik Signifikan

Oleh: Jesica Mulyadi . 13 Mei 2026 . 22:31:51

BONE BOLANGO – Sebuah studi kesehatan terbaru yang dipublikasikan dalam International Journal of Health, Economics, and Social Sciences (IJHESS, Januari 2026) memberikan peringatan penting bagi para penyandang diabetes melitus (DM). Penelitian yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Bulango Selatan, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo ini menemukan adanya hubungan kausalitas yang sangat kuat antara durasi atau lama waktu seseorang mengidap diabetes dengan risiko terjadinya kerusakan saraf perifer, atau yang dikenal dalam dunia medis sebagai neuropati diabetik.

Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa darah akibat gangguan pada produksi atau fungsi hormon insulin. Jika kondisi gula darah tinggi (hiperglikemia) ini dibiarkan berlangsung menahun tanpa kontrol yang ketat, dampaknya akan merusak pembuluh darah kecil yang memberi nutrisi ke saraf perifer, memicu nyeri, mati rasa, hingga risiko amputasi kaki.

Penelitian analitik korelasi dengan pendekatan cross-sectional ini melibatkan puluhan pasien diabetes melitus tipe 2 yang tercatat aktif melakukan pemeriksaan di Puskesmas Bulango Selatan. Data dikumpulkan secara komprehensif melalui rekam medis untuk mengetahui lamanya menderita penyakit, serta wawancara dan pemeriksaan fisik saraf kaki menggunakan kuesioner medis terstandar.

Hasil analisis bivariat menggunakan uji statistik Chi-Square menunjukkan angka signifikansi yang sangat kuat dengan nilai p = 0,001 (p < 0,05). Temuan di lapangan mengonfirmasi bahwa manifestasi klinis neuropati diabetik sangat bergantung pada garis waktu (timeline) penyakit:

  1. Kelompok Pasien Durasi Lama (Usia 50 tahun): Mayoritas pasien dalam kategori ini didiagnosis positif mengalami gejala neuropati diabetik secara nyata. Pasien mengeluhkan kaki sering terasa tebal seperti memakai kaos kaki, kesemutan yang konstan, hingga hilangnya sensitivitas terhadap suhu dan nyeri.
  2. Kelompok Pasien Durasi Baru (< 50 Tahun): Sebaliknya, sebagian besar pasien yang masa diagnosisnya masih di bawah lima tahun cenderung belum memunculkan tanda-tanda kerusakan saraf tepi yang berat.

Mengapa Durasi Penyakit Menahun Merusak Sistem Saraf?

Secara patofisiologi, tubuh yang terpapar kadar gula darah tinggi dalam jangka waktu yang panjang akan mengalami serangkaian kerusakan biokimia secara bertahap. Berikut adalah alasan mengapa durasi penyakit menjadi faktor risiko utama komplikasi saraf:

  1. Gangguan Jalur Poliol dan Stres Oksidatif: Ketika glukosa menumpuk terlalu lama di dalam sel saraf, tubuh akan mengaktifkan jalur metabolisme alternatif (jalur poliol) yang mengubah glukosa menjadi sorbitol. Penumpukan sorbitol yang berlangsung bertahun-tahun di dalam sel saraf menyebabkan edema (pembengkakan sel), menurunkan kadar zat pelindung saraf, dan memicu stres oksidatif yang merusak struktur akson saraf tepi.
  2. Iskemia Saraf (Kerusakan Pembuluh Darah Mikro): Hiperglikemia kronis merusak dinding pembuluh darah kecil (vasa nervorum) yang bertugas menyuplai oksigen dan nutrisi ke jaringan saraf. Akibat paparan gula menahun, pembuluh darah ini menyempit dan menyumbat sirkulasi darah. Saraf yang kekurangan oksigen secara perlahan akan mengalami iskemia, mati, dan kehilangan fungsinya untuk menghantarkan sinyal sensorik maupun motorik secara normal.
  3. Akumulasi AGEs (Advanced Glycation End Products): Proses glikasi (ikatan antara gula berlebih dengan protein tubuh) yang terjadi selama bertahun-tahun akan membentuk senyawa berbahaya bernama AGEs. Senyawa ini menempel pada dinding pembuluh darah dan serabut kolagen saraf, membuatnya kaku, merusak struktur selubung myelin (pelindung saraf), dan mempercepat degenerasi fungsi saraf kaki.

Berdasarkan temuan riset ini, para peneliti dan praktisi kesehatan menekankan bahwa waktu adalah faktor kunci. Mengingat komplikasi kerusakan saraf ini berkembang secara senyap (silent progression) seiring bertambahnya tahun masa menderita diabetes, langkah preventif harus segera diambil secara nasional:

  1. Skrining Saraf Berkala: Setiap pasien yang telah didiagnosis menderita diabetes mellitus di atas 3 hingga 5 tahun wajib mendapatkan pemeriksaan sensibilitas kaki secara rutin (seperti uji monofilamen) di fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk mendeteksi tanda awal mati rasa.
  2. Manajemen Gula Darah Ketat: Pasien diimbau untuk patuh mengonsumsi obat antidiabetes atau insulin, menjaga pola makan rendah indeks glikemik, serta rutin memantau kadar HbA1c guna menekan laju kerusakan pembuluh darah mikro.
  3. Perawatan Kaki Mandiri: Edukasi mengenai penggunaan alas kaki yang empuk dan pemeriksaan kaki harian di rumah sangat krusial bagi pasien diabetes lama guna mencegah luka tak terasa (ulkus diabetes) yang berujung pada tindakan amputasi.

Studi di Kabupaten Bone Bolango ini menjadi pengingat berharga bagi tata laksana kesehatan nasional bahwa pencegahan komplikasi diabetes mellitus tidak boleh ditunda, terutama bagi para pasien yang telah berjuang melawan penyakit ini dalam hitungan tahun.

Author: Nikma Suryana Harun, Vivien Novarina Kasim, Nirwanto Rahim

Sources: https://jurnal.unismuhpalu.ac.id/index.php/IJHESS/article/view/10059/6702

#FKUNGgul

#kedokteranung

Informasi

Agenda