Ketika hujan deras turun berhari-hari dan air mulai meluap ke permukiman, banyak orang menganggap banjir hanya sebatas persoalan rumah terendam atau jalan yang lumpuh. Padahal, ancaman sesungguhnya sering datang setelah air menggenang, yakni risiko kesehatan yang bisa mengancam nyawa. Di Indonesia, banjir masih menjadi bencana alam yang paling sering terjadi. Sebagai negara kepulauan dengan curah hujan tinggi dan kondisi geografis yang kompleks, Indonesia terus berhadapan dengan ancaman banjir musiman. Ironisnya, kesiapsiagaan masyarakat terhadap dampak kesehatan pascabanjir masih belum merata.
Sebuah program pengabdian masyarakat dari Universitas Negeri Gorontalo mengungkap fakta penting: edukasi kebencanaan berbasis komunitas mampu meningkatkan kesiapan warga secara signifikan dalam menghadapi situasi darurat banjir. Program ini dilakukan di Desa Pentadio Barat, Kabupaten Gorontalo, wilayah yang hampir setiap tahun terdampak banjir akibat limpasan air dari Danau Limboto. Secara global, banjir menyumbang hampir setengah dari seluruh kejadian bencana cuaca ekstrem. Indonesia sendiri bahkan termasuk negara dengan risiko bencana sangat tinggi. Namun, persoalan terbesar bukan hanya seberapa sering banjir terjadi, melainkan seberapa siap masyarakat menghadapi dampaknya. Banjir bukan hanya tentang air.
Air banjir sering membawa lumpur, limbah, bakteri, virus, hingga bahan kimia berbahaya. Kondisi ini menciptakan lingkungan ideal bagi berbagai penyakit menular. Setelah banjir surut, masyarakat masih menghadapi ancaman leptospirosis, diare, demam berdarah dengue (DBD), infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), penyakit kulit, hepatitis A, malaria, hingga tifoid. Sayangnya, banyak warga baru menyadari bahaya ini ketika gejala penyakit mulai muncul. Penelitian di Desa Pentadio Barat menunjukkan bahwa sebelum edukasi dilakukan, sebagian masyarakat masih memiliki keterbatasan pengetahuan tentang penanganan darurat, evakuasi aman, hingga pertolongan pertama bagi korban tenggelam. Kondisi ini sangat berisiko, terutama di daerah rawan banjir. Kabar baiknya, intervensi sederhana melalui pelatihan ternyata memberi dampak besar.
Program yang melibatkan 45 peserta dari tiga dusun ini memberikan edukasi interaktif mengenai penyakit pascabanjir, teknik evakuasi, penyelamatan korban tenggelam, serta Bantuan Hidup Dasar (BHD). Hasilnya sangat menggembirakan: terjadi peningkatan pengetahuan masyarakat hingga 85 persen setelah pelatihan. Angka ini menunjukkan satu hal penting: masyarakat sebenarnya mampu menjadi garda terdepan penyelamatan, asalkan dibekali pengetahuan yang tepat. Salah satu materi yang dinilai paling penting adalah penyelamatan korban tenggelam menggunakan prinsip “Reach Throw Don’t Go.” Prinsip ini mengajarkan warga untuk menolong korban tanpa ikut menjadi korban. Banyak kasus tenggelam justru bertambah fatal karena penolong panik dan langsung terjun tanpa teknik yang aman.
Selain itu, peserta juga diajarkan cara menyusun go-bag atau tas siaga bencana. Tas ini berisi kebutuhan penting seperti dokumen, obat rutin, air minum, makanan siap saji, senter, masker, uang tunai, dan perlengkapan P3K. Dalam situasi darurat, persiapan sederhana seperti ini bisa sangat menentukan keselamatan keluarga. Pelatihan lain yang tak kalah krusial adalah Bantuan Hidup Dasar. Peserta belajar cara memeriksa kesadaran korban, memanggil bantuan darurat, hingga melakukan kompresi dada sesuai standar American Heart Association (AHA). Keterampilan ini sangat penting karena korban tenggelam atau berhenti napas membutuhkan pertolongan dalam hitungan menit. Secara nasional, temuan ini memberikan pelajaran besar bagi sistem penanggulangan bencana Indonesia.
Selama ini, penanganan banjir sering berfokus pada respons setelah bencana terjadi seperti evakuasi, bantuan logistik, atau perbaikan infrastruktur. Padahal, investasi terbesar seharusnya dimulai jauh sebelum banjir datang: membangun budaya kesiapsiagaan. Masyarakat yang terlatih akan lebih tenang, lebih cepat mengambil keputusan, dan lebih mampu melindungi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta ibu hamil. Pesan terpenting dari penelitian ini sederhana namun sangat kuat: banjir mungkin tidak selalu bisa dicegah, tetapi dampaknya bisa diminimalkan melalui kesiapan masyarakat. Karena pada akhirnya, ketahanan terhadap bencana bukan hanya soal bendungan, tanggul, atau bantuan pemerintah. Ketahanan sejati lahir dari warga yang tahu apa yang harus dilakukan ketika bencana datang. Dan dalam situasi darurat, pengetahuan bisa menjadi penyelamat nyawa.
Sources: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/Jpmf/article/view/36686/12670Author: Pascal Adventra Tandiabang, Nanang Roswita Paramata#FKUNGgul#kedokteranung
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran