Gondok Masih Mengintai, Perempuan Usia Produktif Jadi Kelompok Paling Rentan

Oleh: Jesica Mulyadi . June 28, 2026 . 15:14:37

Di tengah meningkatnya perhatian masyarakat terhadap penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi, ada satu gangguan kesehatan yang sering luput dari perhatian: struma atau gondok. Padahal, pembesaran kelenjar tiroid ini bukan sekadar benjolan di leher. Jika diabaikan, struma dapat mengganggu metabolisme tubuh, memicu gangguan hormonal, bahkan berujung pada tindakan operasi. Penelitian terbaru dari Universitas Negeri Gorontalo mengungkap fakta penting tentang karakteristik pasien struma pascaoperasi tiroidektomi di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe. Temuan ini menjadi alarm bahwa gondok masih menjadi persoalan kesehatan yang relevan di Indonesia, khususnya pada kelompok perempuan usia produktif.

Secara global, sekitar 200 juta orang mengalami struma dari sekitar 800 juta penduduk yang mengonsumsi yodium dalam jumlah kurang. Kekurangan yodium masih menjadi penyebab utama munculnya gangguan kelenjar tiroid di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia. Penelitian yang dilakukan terhadap 49 pasien struma pasca tiroidektomi di Gorontalo menunjukkan bahwa 79,6 persen pasien adalah perempuan. Artinya, hampir 8 dari 10 pasien gondok yang menjalani operasi adalah wanita. Data ini mempertegas bahwa perempuan memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap gangguan tiroid dibandingkan laki-laki.

Mengapa perempuan lebih rentan? Secara biologis, hormon estrogen berperan besar dalam memengaruhi metabolisme hormon tiroid. Estrogen dapat meningkatkan kadar thyroid-binding globulin (TBG), yang kemudian memengaruhi keseimbangan hormon tiroid dalam darah. Ketidakseimbangan ini dapat memicu pembesaran kelenjar tiroid sebagai bentuk kompensasi tubuh. Yang menarik, mayoritas pasien berada pada rentang usia produktif hingga pra-lansia, terutama usia 36–45 tahun dan 56–65 tahun, masing-masing sebesar 20,4 persen. Ini menunjukkan bahwa gangguan tiroid bukan hanya masalah usia lanjut, tetapi juga dapat menyerang mereka yang masih aktif bekerja dan menjalani produktivitas tinggi.

Temuan lain yang cukup mengejutkan adalah mayoritas pasien justru berasal dari wilayah non-pesisir (81,6 persen), bukan daerah pesisir yang identik dengan konsumsi hasil laut kaya yodium. Hal ini memperlihatkan bahwa akses terhadap makanan sumber yodium, terutama garam beryodium, masih belum merata di berbagai wilayah. Banyak orang mengira gondok selalu disertai gangguan hormon berat. Nyatanya, penelitian ini menemukan 87,8 persen pasien berada dalam kondisi eutiroid, yaitu kadar hormon tiroid masih dalam batas normal meskipun kelenjarnya membesar. Kondisi ini membuat struma sering sulit disadari karena gejalanya tidak selalu jelas. Inilah yang membuat struma berbahaya.

Seseorang bisa merasa “baik-baik saja” meski pembesaran kelenjar tiroid terus berkembang. Banyak pasien baru datang ke rumah sakit ketika benjolan di leher mulai membesar, mengganggu penelan, mengubah suara, atau menimbulkan keluhan kosmetik yang mengganggu kepercayaan diri. Penelitian ini juga menunjukkan jenis struma yang paling banyak ditemukan adalah nodosa non-toksik (65,3 persen), yaitu pembesaran tiroid berupa nodul tetapi belum menyebabkan produksi hormon berlebih. Pada kondisi seperti ini, dokter biasanya menentukan terapi berdasarkan hasil pemeriksaan klinis, USG, dan biopsi.

Dalam kasus tertentu, operasi menjadi pilihan utama. Jenis tindakan yang paling sering dilakukan adalah isthmolobektomi, yakni pengangkatan sebagian kelenjar tiroid, yang dilakukan pada 57,1 persen pasien. Operasi ini umumnya dipilih ketika pembesaran tiroid bersifat jinak tetapi terus berkembang atau menimbulkan gejala.

Secara nasional, temuan ini memberikan pesan penting bagi masyarakat Indonesia: edukasi tentang kesehatan tiroid masih perlu diperkuat. Selama ini, kampanye kesehatan publik lebih banyak menyoroti penyakit jantung, diabetes, atau kanker, sementara gangguan tiroid belum mendapat perhatian sebesar itu.

Padahal, pencegahan struma sebenarnya dapat dimulai dari langkah sederhana: memastikan konsumsi garam beryodium, memperhatikan asupan nutrisi, serta rutin memeriksa kesehatan ketika muncul benjolan atau perubahan pada leher. Pesan terpenting dari penelitian ini sederhana tetapi penting: gondok bukan sekadar pembengkakan leher biasa. Ia bisa menjadi tanda adanya gangguan hormonal, kekurangan nutrisi, atau bahkan risiko keganasan yang membutuhkan penanganan medis lebih lanjut. Karena pada akhirnya, menjaga kesehatan tiroid bukan hanya soal mencegah benjolan di leher—tetapi menjaga keseimbangan sistem metabolisme yang memengaruhi hampir seluruh fungsi tubuh.

Sources: https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/gojhes/article/view/29119/9996Author: Putra Purnama Hairama, Febi Iswandi Suarno, Sri Manovita Pateda, Nanang Roswita Paramata, Helen Nazaruddin#FKUNGgul#kedokteranung

Agenda

March 3, 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

February 9, 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

September 22, 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

July 16, 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran