POHUWATO — Melahirkan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)—yaitu berat badan kurang dari 2.500 gram saat lahir—masih menjadi tantangan serius kesehatan ibu dan anak di Indonesia. Bayi BBLR tak hanya memiliki risiko tinggi terhadap kematian neonatal (bayi baru lahir), tetapi juga berpotensi mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan dalam jangka panjang. Salah satu pemicu utama BBLR adalah kondisi Kekurangan Energi Kronik (KEK) pada ibu hamil, yang diukur dari kurangnya asupan nutrisi menahun. Di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, permasalahan gizi ibu ini kian memprihatinkan ketika berpadu dengan munculnya penyakit infeksi selama masa kehamilan.
Guna menganalisis faktor risiko ini secara spesifik pada tingkat pelayanan kesehatan primer, tim peneliti dari Pascasarjana Kesehatan Masyarakat dan Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (UNG) melakukan studi observasional analitik di wilayah kerja Puskesmas Lemito dan Puskesmas Wonggarasi I.
Penyakit Infeksi Jadi Faktor Risiko Dominan
Penelitian ini mengevaluasi data rekam medis ibu melahirkan dan mencakup berbagai variabel determinan kesehatan maternal, seperti paritas (jumlah persalinan), tingkat pendidikan, status pekerjaan, kepatuhan kunjungan Antenatal Care (ANC), serta riwayat penyakit infeksi. Hasil analisis statistik bivariat (Chi-Square) menunjukkan bahwa seluruh variabel maternal tersebut memiliki hubungan yang signifikan secara statistik dengan kejadian BBLR ($p < 0,05$). Namun, saat dilakukan pengujian multivariat untuk melihat variabel mana yang paling berpengaruh pada ibu hamil KEK, ditemukan bahwa riwayat penyakit infeksi merupakan prediktor paling dominan. Data multivariat mencatat nilai Odds Ratio (OR) sebagai berikut:
Sinergi Buruk Malnutrisi dan Efek Inflamasi
Ibu hamil dengan KEK yang juga menderita penyakit infeksi memiliki risiko 5,11 kali lebih tinggi melahirkan bayi BBLR dibandingkan ibu hamil yang tidak mengalami kedua kondisi tersebut. Peneliti menjelaskan bahwa secara fisiologis, infeksi maternal memicu respons inflamasi sistemik dan mengganggu metabolisme nutrisi pada tubuh ibu. Pada ibu yang sudah mengalami kekurangan energi menahun (KEK), infeksi memperburuk ketersediaan nutrisi untuk plasenta. Hal ini berakibat langsung pada terganggunya sirkulasi maternal-fetal dan pasokan nutrisi vital yang dibutuhkan janin untuk tumbuh optimal di dalam kandungan.
Pentingnya Pencegahan Terintegrasi di Pelayanan Primer
Temuan ini menegaskan bahwa penanganan BBLR tidak bisa hanya berfokus pada satu aspek saja. Diperlukan intervensi ganda yang terintegrasi di fasilitas kesehatan tingkat pertama (puskesmas):
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran