
Bencana tidak hanya merusak rumah, jalan, dan fasilitas umum. Bencana juga dapat mengganggu kebutuhan paling mendasar manusia, yaitu memperoleh makanan bergizi. Ketika banjir, gempa bumi, tanah longsor, atau bencana lainnya terjadi, masyarakat bisa kehilangan akses terhadap bahan pangan, air bersih, dan pelayanan kesehatan. Dalam situasi seperti ini, masalah gizi dapat menjadi ancaman serius, terutama bagi bayi, balita, ibu hamil, lansia, dan kelompok rentan lainnya. Karena itu, penanganan bencana tidak cukup hanya berfokus pada evakuasi korban dan penyediaan tempat pengungsian. Kebutuhan makanan yang aman, bergizi, dan sesuai dengan kondisi kelompok terdampak juga harus menjadi bagian penting dari respons kebencanaan.
Pertanyaannya, apakah calon tenaga kesehatan telah dipersiapkan untuk menghadapi persoalan tersebut?
Dalam situasi darurat, menyediakan makanan bukan sekadar membagikan nasi atau bahan pangan kepada para pengungsi. Petugas perlu memahami siapa yang paling membutuhkan bantuan, jenis makanan yang sesuai, bagaimana makanan didistribusikan, serta bagaimana memastikan kelompok rentan tetap memperoleh asupan yang memadai. Bayi dan balita, misalnya, memiliki kebutuhan gizi yang berbeda dari orang dewasa. Ibu hamil membutuhkan perhatian khusus karena kebutuhan gizinya berkaitan dengan kesehatan ibu dan janin. Sementara itu, lansia dan orang dengan kondisi kesehatan tertentu mungkin membutuhkan makanan dengan penyesuaian khusus.
Apabila kebutuhan tersebut tidak dikenali sejak awal, bantuan pangan yang tersedia belum tentu menjawab masalah gizi masyarakat terdampak. Oleh sebab itu, tenaga kesehatan perlu memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk memahami persoalan gizi dalam konteks kebencanaan. Kesiapan tersebut idealnya dibangun sejak masa pendidikan, termasuk pada mahasiswa kedokteran yang kelak akan terlibat dalam pelayanan kesehatan di masyarakat.
Mengapa mahasiswa kedokteran perlu belajar dari situasi nyata?
Pembelajaran di ruang kelas tetap penting untuk membangun dasar pengetahuan. Namun, persoalan kebencanaan sering kali kompleks dan tidak dapat dipahami hanya melalui hafalan konsep. Mahasiswa perlu belajar menganalisis masalah, menentukan prioritas, mengenali kelompok yang paling berisiko, dan mempertimbangkan keterbatasan sumber daya. Mereka juga perlu memahami bahwa penanganan gizi bencana tidak dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan seorang diri. Koordinasi dengan masyarakat, pemerintah, relawan, dan pihak yang mengelola bantuan pangan turut menentukan keberhasilan respons.
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah Disaster Nutrition Community-Based Learning (DNCBL), yaitu model pembelajaran yang menggabungkan materi gizi bencana, pembelajaran berbasis komunitas, diskusi kasus, dan pemecahan masalah sesuai konteks. Melalui pendekatan ini, mahasiswa tidak hanya menerima materi dari dosen, tetapi juga didorong untuk berpikir aktif mengenai persoalan yang mungkin dihadapi masyarakat ketika bencana terjadi. Pembelajaran menjadi lebih dekat dengan kenyataan sehingga konsep yang dipelajari dapat dipahami secara lebih aplikatif.
Penelitian yang dilakukan pada 61 mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo pada tahun akademik 2025/2026 mengevaluasi penerapan model pembelajaran DNCBL. Pemahaman mahasiswa diukur sebelum dan sesudah pembelajaran melalui tes. Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan nilai rata-rata dari 14,20 sebelum pembelajaran menjadi 14,79 setelah pembelajaran. Perubahan juga terlihat pada jumlah mahasiswa yang memperoleh nilai maksimal. Sebelum mengikuti pembelajaran DNCBL, sebanyak 35 mahasiswa atau 57,4 persen memperoleh nilai tertinggi. Setelah pembelajaran, jumlah tersebut meningkat menjadi 52 mahasiswa atau 85,2 persen.
Analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara hasil sebelum dan sesudah pembelajaran. Temuan ini memberikan indikasi bahwa penerapan DNCBL berpotensi membantu meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang manajemen gizi bencana. Meski demikian, peningkatan nilai rata-rata relatif kecil. Salah satu hal yang mungkin menjelaskannya adalah nilai awal mahasiswa yang sudah cukup tinggi, sehingga ruang untuk peningkatan skor menjadi lebih terbatas.
Hasil ini perlu dibaca secara proporsional. Penelitian menggunakan desain satu kelompok dengan pengukuran sebelum dan sesudah intervensi, tanpa kelompok pembanding. Karena itu, hasilnya belum dapat memastikan bahwa seluruh perubahan semata-mata disebabkan oleh DNCBL. Penelitian ini juga mengukur pemahaman melalui tes, bukan secara langsung kemampuan mahasiswa menangani bencana di lapangan. Walaupun demikian, temuan tersebut memberikan gambaran awal yang menjanjikan tentang peluang pengembangan metode pembelajaran kebencanaan dalam pendidikan kedokteran.
Salah satu nilai penting DNCBL adalah menghubungkan pengetahuan dengan persoalan yang mungkin dijumpai di masyarakat. Melalui diskusi kasus dan pemecahan masalah kontekstual, mahasiswa dapat diajak memikirkan berbagai pertanyaan penting: kelompok mana yang harus diprioritaskan dalam distribusi pangan? Bagaimana memenuhi kebutuhan gizi ketika akses transportasi terputus? Bagaimana memastikan bantuan sesuai dengan kebutuhan bayi, balita, dan ibu hamil? Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu mahasiswa melihat bahwa manajemen gizi bencana bukan sekadar urusan makanan, melainkan juga berkaitan dengan perencanaan, koordinasi, keadilan distribusi, dan perlindungan kelompok rentan.
Ke depan, pendekatan ini dapat dikembangkan melalui simulasi bencana, latihan penyusunan menu darurat, pemetaan kebutuhan gizi, serta kolaborasi dengan tenaga kesehatan dan komunitas. Dengan begitu, evaluasi pembelajaran tidak hanya mengukur apa yang diketahui mahasiswa, tetapi juga bagaimana mereka menggunakan pengetahuan tersebut untuk mengambil keputusan. Pengembangan ini perlu disertai penelitian lanjutan yang melibatkan kelompok pembanding, jumlah peserta yang lebih besar, serta pengukuran keterampilan dan sikap. Langkah tersebut penting untuk mengetahui sejauh mana peningkatan pemahaman dapat diterjemahkan menjadi kesiapan menghadapi situasi nyata.
Wilayah yang memiliki risiko bencana membutuhkan tenaga kesehatan yang bukan hanya memahami penyakit, tetapi juga mampu mengenali kebutuhan masyarakat dalam situasi darurat. Kemampuan mengelola persoalan gizi menjadi salah satu bagian penting dari kesiapan tersebut. DNCBL menawarkan pendekatan pembelajaran yang menghubungkan konsep gizi bencana dengan kebutuhan komunitas dan pemecahan masalah. Hasil awal penelitian pada mahasiswa kedokteran Universitas Negeri Gorontalo menunjukkan bahwa model ini berpotensi meningkatkan pemahaman mereka.
Namun, keberhasilan pendidikan kebencanaan tidak seharusnya berhenti pada peningkatan nilai ujian. Tujuan akhirnya adalah membentuk calon tenaga kesehatan yang mampu berpikir kritis, bekerja sama, dan memahami kebutuhan kelompok rentan ketika masyarakat menghadapi bencana. Sebab, dalam situasi darurat, pengetahuan yang dipelajari di ruang kelas akan benar-benar bermakna ketika dapat membantu melindungi kehidupan manusia—termasuk memastikan bahwa mereka yang paling rentan tetap memperoleh makanan yang aman dan bergizi.
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran