
Pernahkah Anda mendengar cerita teman yang mendadak kurus gara-gara pusing menghadapi skripsi atau pekerjaan yang menumpuk? Atau sebaliknya, teman yang justru makin subur dan rajin ngemil saat lagi stres berat? Di masyarakat kita, ada anggapan umum bahwa beban pikiran akan langsung tercermin pada berat badan seseorang. Jika sedang stres, siap-siap saja tubuh jadi makin kurus atau malah melar. Namun, apakah anggapan ini selalu benar? Jawabannya ternyata tidak sesederhana itu.
Fakta Riset: Stres Berat Tak Otomatis Bikin Gemuk/Kurus
Sebuah penelitian terbaru di Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo memberikan gambaran menarik mengenai hal ini. Penelitian yang melibatkan 191 mahasiswa kedokteran menemukan bahwa 89% mahasiswa mengalami stres tingkat sedang hingga berat akibat tekanan akademis (seperti beban materi yang padat, ujian terus-menerus, dan tugas yang menumpuk). Namun, hal mengejutkan terjadi ketika status gizi (Indeks Massa Tubuh) mereka diukur:
Mayoritas dari mereka (56,5%) ternyata tetap memiliki berat badan normal. Setelah diuji secara statistik, tidak ada hubungan langsung antara tingkat stres yang dialami seseorang dengan status gizinya (apakah kurus, normal, atau gemuk). Mengapa Pengaruh Stres Berbeda pada Setiap Orang? Mengapa stres tidak selalu membuat seseorang otomatis jadi makin gemuk atau makin kurus? Tubuh manusia memiliki respon yang sangat unik dan berbeda-beda saat menghadapi tekanan emosional/pikiran:
Kelompok "Lupa Makan" (Emotional Under-eating):
Pada sebagian orang, stres memicu hormon yang menekan nafsu makan. Merasa mual, perut terasa penuh, atau sekadar enggan makan saat pikiran sedang kalut. Kelompok "Pelarian Makanan" (Emotional Over-eating):
Bagi sebagian orang lain, stres memicu hormon kortisol yang membuat tubuh "mengidam" makanan berkalori tinggi—seperti makanan manis, gorengan, atau minuman kekinian—sebagai bentuk pelarian atau memberi hadiah pada diri sendiri (comfort food).Karena dua respon ini saling berlawanan, saat dilihat secara keseluruhan di masyarakat, dampaknya jadi saling meniadakan.
Penentu Sebenarnya: Gaya Hidup & Kesadaran Diri
Jika stres bukan penyebab tunggal perubahan berat badan, lalu apa penentunya? Jawabannya adalah kesadaran akan gizi dan gaya hidup harian. Seseorang yang memiliki pengetahuan gizi yang baik akan memiliki "rem otomatis". Walaupun sedang pusing dan lelah, mereka tetap berusaha makan teratur dan membatasi asupan makanan tidak sehat (junk food).
Sebaliknya, pemicu utama kegemukan atau kekurusan saat periode stres biasanya dipengaruhi oleh 3 hal ini:
Stres memang tidak selalu tercermin dari angka di timbangan atau bentuk fisik kita. Namun, itu bukan alasan untuk mengabaikannya. Menjaga kesehatan gizi bukan berarti menunggu sampai stres kita hilang, melainkan membangun kebiasaan hidup sehat yang konsisten: tetap aktif bergerak, tidur yang cukup, serta bijak memilih apa yang masuk ke dalam tubuh kita—bahkan di saat-saat tersulit sekalipun
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran