Cegah Stunting Sejak Dini: Bukan Hanya Apa yang Dimakan, tetapi Juga Seberapa Sering Anak Makan

Oleh: Jesica Mulyadi . 17 Oktober 2026 . 15:06:37

Masa dua tahun pertama kehidupan merupakan periode penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Pada masa ini, tubuh dan otak berkembang dengan pesat sehingga kebutuhan gizi harus terpenuhi secara optimal. Apa yang dikonsumsi anak, bagaimana makanan disiapkan, dan bagaimana pola pemberiannya menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang yang sehat. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, perhatian orang tua terhadap pemberian makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) terkadang masih berfokus pada jenis makanan yang diberikan. Padahal, ada hal lain yang tidak kalah penting, yaitu kesesuaian frekuensi makan dengan usia anak.

Persoalan ini perlu mendapat perhatian karena stunting masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat. Stunting bukan sekadar kondisi anak bertubuh pendek, melainkan gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis dan berbagai faktor lain yang dapat memengaruhi perkembangan anak dalam jangka panjang. Karena itu, upaya pencegahan stunting perlu dimulai sejak dini, termasuk melalui kebiasaan pemberian makan yang tepat selama periode pemberian MP-ASI.

MP-ASI merupakan makanan pendamping yang diberikan ketika anak berusia enam bulan, sambil tetap melanjutkan pemberian ASI. Pada usia tersebut, ASI saja tidak lagi cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan energi dan zat gizi anak. Makanan pendamping diperlukan untuk membantu memenuhi kebutuhan tersebut agar pertumbuhan dan perkembangan berlangsung optimal. Sayangnya, masih ada anggapan bahwa selama anak sudah makan, kebutuhan gizinya pasti terpenuhi. Padahal, pemberian MP-ASI perlu memperhatikan beberapa hal sekaligus, mulai dari waktu pemberian, frekuensi makan, jumlah, tekstur, variasi makanan, hingga kebersihan dalam pengolahan dan penyajiannya.

Anak yang hanya makan dalam jumlah sedikit atau terlalu jarang berisiko tidak memperoleh energi dan zat gizi yang dibutuhkan. Terlebih lagi, anak usia dini umumnya belum mampu mengonsumsi makanan dalam porsi besar sekaligus. Oleh karena itu, makanan perlu diberikan secara teratur dengan frekuensi dan porsi yang disesuaikan dengan usia serta kemampuan makan anak. Dengan demikian, pemberian MP-ASI bukan hanya tentang mengenalkan makanan kepada anak, tetapi juga tentang memastikan bahwa makanan tersebut dapat memenuhi kebutuhan gizinya secara bertahap dan berkelanjutan.

Pentingnya frekuensi pemberian MP-ASI tergambar dalam penelitian yang dilakukan oleh Ryskina Fatimah Siregar dan rekan-rekan, yang dipublikasikan dalam Jambura Axon Medika pada Februari 2026. Penelitian tersebut mengkaji hubungan antara frekuensi pemberian MP-ASI dan kejadian stunting pada anak usia 6–24 bulan di wilayah kerja Puskesmas Talang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Penelitian melibatkan 80 anak, yang terdiri atas 40 anak dalam kelompok stunting dan 40 anak dalam kelompok dengan status pertumbuhan normal. Hasilnya menunjukkan bahwa pemberian MP-ASI dengan frekuensi yang tidak sesuai usia lebih banyak ditemukan pada kelompok anak stunting dibandingkan dengan kelompok anak dengan pertumbuhan normal.

Secara statistik, penelitian menemukan adanya hubungan yang bermakna antara frekuensi pemberian MP-ASI dan kejadian stunting. Anak dalam kelompok dengan frekuensi pemberian MP-ASI yang tidak sesuai memiliki odds mengalami stunting sebesar 7,737 kali dibandingkan dengan kelompok dengan frekuensi yang sesuai. Angka tersebut menunjukkan adanya hubungan yang perlu diperhatikan. Namun, angka ini tidak berarti bahwa frekuensi makan yang tidak sesuai secara langsung menyebabkan stunting pada setiap anak. Penelitian menggunakan desain kasus-kontrol, sehingga temuannya menunjukkan hubungan antara kedua hal tersebut, bukan bukti bahwa frekuensi makan merupakan satu-satunya penyebab stunting. Meskipun demikian, hasil penelitian memberikan pesan penting bagi keluarga dan tenaga kesehatan: kebiasaan pemberian makan anak perlu diperhatikan sebagai salah satu bagian dari upaya pencegahan gangguan pertumbuhan.

Pertanyaan ini sering muncul di kalangan orang tua, terutama ketika anak mulai mengenal makanan selain ASI. Frekuensi pemberian MP-ASI perlu disesuaikan dengan usia, kemampuan makan, serta kebutuhan anak. Sebagai gambaran, rekomendasi yang dirujuk dalam penelitian tersebut dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebutkan bahwa anak usia 6–8 bulan diberikan MP-ASI sebanyak 2–3 kali sehari, sedangkan anak usia 9–12 bulan diberikan sekitar 3 kali sehari. Anak usia 12–24 bulan juga dianjurkan untuk makan utama sekitar 3 kali sehari, dengan tambahan makanan selingan bergizi sesuai kebutuhan.

Anak yang tidak mendapatkan ASI memerlukan penyesuaian pola pemberian makan sesuai rekomendasi yang berlaku. Orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk memperoleh panduan yang sesuai dengan kondisi anak. Frekuensi makan tentu tidak dapat dipisahkan dari kualitas makanan. Makanan yang diberikan perlu beragam dan mengandung zat gizi penting, termasuk protein, lemak, vitamin, dan mineral. Bahan pangan yang tersedia di rumah dapat dimanfaatkan dengan memperhatikan kebutuhan gizi, tekstur yang sesuai usia, serta keamanan pengolahannya.

Orang tua juga perlu memahami bahwa setiap anak memiliki kemampuan makan yang berbeda. Ketika anak menolak makanan, pendekatan yang sabar dan responsif lebih baik daripada memaksa. Perhatikan tanda lapar dan kenyang, tawarkan makanan secara teratur, serta ciptakan suasana makan yang nyaman. Meskipun frekuensi pemberian MP-ASI penting, pencegahan stunting tidak dapat dibebankan pada satu faktor saja. Pertumbuhan anak dipengaruhi oleh banyak hal, termasuk kecukupan dan keragaman asupan gizi, riwayat kesehatan, penyakit infeksi berulang, kondisi ibu selama kehamilan, lingkungan tempat tinggal, sanitasi, serta akses terhadap pelayanan kesehatan.

Makanan yang cukup tetapi kurang beragam mungkin belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan gizi anak. Sebaliknya, makanan bergizi yang diberikan terlalu jarang juga dapat membuat asupan harian tidak mencukupi. Karena itu, kualitas dan frekuensi pemberian makan harus berjalan beriringan. Kebersihan juga tidak boleh diabaikan. Tangan, peralatan makan, bahan pangan, air, dan tempat penyimpanan makanan perlu dijaga kebersihannya untuk mengurangi risiko infeksi. Anak yang sering mengalami infeksi dapat mengalami gangguan nafsu makan dan penyerapan zat gizi, sehingga pertumbuhannya turut terpengaruh.

Selain itu, pemantauan pertumbuhan secara rutin di posyandu atau fasilitas kesehatan penting dilakukan. Pengukuran panjang atau tinggi badan, berat badan, serta penilaian pertumbuhan oleh tenaga kesehatan membantu orang tua mengetahui apakah anak tumbuh sesuai harapan. Apabila ditemukan gangguan pertumbuhan, pemeriksaan dan penanganan sedini mungkin sangat diperlukan. Dengan kata lain, pencegahan stunting membutuhkan kerja sama antara keluarga, tenaga kesehatan, kader posyandu, masyarakat, dan pemerintah. Edukasi mengenai pemberian makan yang tepat perlu disampaikan secara konsisten agar orang tua tidak hanya mengetahui pentingnya gizi, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Mencegah stunting bukan pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Upaya ini membutuhkan perhatian sejak kehamilan, pemberian ASI, pengenalan MP-ASI pada usia enam bulan, hingga pemenuhan kebutuhan gizi dan kesehatan anak sepanjang masa pertumbuhannya.

Keluarga memiliki peran utama dalam membangun kebiasaan makan yang baik. Sementara itu, tenaga kesehatan dan kader masyarakat berperan dalam membantu orang tua memahami kebutuhan gizi anak serta mengenali tanda-tanda gangguan pertumbuhan sejak dini. Hasil penelitian mengenai hubungan frekuensi pemberian MP-ASI dengan kejadian stunting menjadi pengingat bahwa hal-hal yang terlihat sederhana dalam pengasuhan sehari-hari dapat menjadi bagian penting dari kesehatan anak. Memberikan makanan sesuai usia, menjaga keragaman dan kualitas asupan, serta memantau pertumbuhan secara teratur merupakan langkah yang dapat dilakukan secara nyata oleh keluarga. Pada akhirnya, mencegah stunting bukan hanya tentang memastikan anak tidak mengalami gangguan pertumbuhan. Lebih dari itu, upaya ini merupakan investasi untuk mendukung perkembangan fisik, kemampuan belajar, dan kualitas hidup anak di masa depan. Anak yang tumbuh sehat berawal dari perhatian yang konsisten. Bukan hanya pada apa yang dimakan, tetapi juga pada kecukupan gizi, kebiasaan makan, kebersihan, dan pemantauan tumbuh kembangnya.

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran