GORONTALO — Nyeri dan cedera sistem otot serta rangka (muskuloskeletal) masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama, baik di Indonesia maupun secara global. Kondisi seperti nyeri punggung bawah dan radang sendi (osteoarthritis) tercatat sebagai diagnosis yang paling sering dirujuk ke fasilitas rehabilitasi medik. Guna mengoptimalkan penanganan nyeri tanpa bergantung sepenuhnya pada obat-obatan, pemahaman terhadap terapi fisik nonfarmakologis menjadi modal krusial bagi para calon dokter.
Menjawab kebutuhan tersebut, tim pengajar dari Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menggelar kegiatan pengabdian masyarakat berbasis edukasi dan observasi klinis. Sebanyak 44 mahasiswa kedokteran yang mengambil mata kuliah pilihan Kedokteran Komplementer diterjunkan langsung untuk mempelajari aplikasi, indikasi, hingga aspek keselamatan terapi infrared (inframerah) di unit rehabilitasi medik.
Menjembatani Teori Kelas dan Praktik Nyata
Sebelumnya, sebagian besar mahasiswa belum pernah terpapar langsung dengan penggunaan instrumen terapi infrared di lingkungan rumah sakit. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya menerima materi teori di ruang kuliah, tetapi juga mengamati secara langsung penatalaksanaan pasien yang difasilitasi oleh fisioterapis profesional di empat rumah sakit mitra di Provinsi Gorontalo, yaitu:
Selama observasi, mahasiswa mempelajari bahwa radiasi gelombang elektromagnetik dari terapi infrared mampu menghasilkan efek panas superfisial. Efek termal ini efektif melancarkan aliran darah lokal, memperbaiki metabolisme jaringan, merelaksasi otot yang tegang, serta meredakan persepsi nyeri.
Hasil Evaluasi: Pemahaman Mahasiswa Mencapai Kategori Baik
Guna mengukur efektivitas metode pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) ini, tim pengampu melakukan evaluasi melalui post-test terstruktur setelah sesi lapangan.
Hasil rekapitulasi menunjukkan seluruh peserta berhasil mencapai tingkat pemahaman yang konsisten dan baik, dengan rentang skor 80 hingga 90. Mahasiswa terbukti menguasai beberapa poin penting:
Memperkuat Kolaborasi Lintas Profesi Kesehatan
Selain memberikan pengetahuan teknis mengenai alat kesehatan, pengamatan lapangan ini membuka wawasan mahasiswa mengenai pentingnya kolaborasi interprofesional. Dengan melihat langsung bagaimana dokter dan fisioterapis saling berkoordinasi dalam merawat pasien, mahasiswa dilatih untuk membina komunikasi serta kerja sama tim yang harmonis sejak dini. Model pembelajaran berbasis observasi klinis ini terbukti efektif dalam memfasilitasi transisi mahasiswa dari sekadar pemahaman teori menuju kesiapan praktik profesional di dunia kesehatan nyata.
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran