
GORONTALO — Perjalanan panjang para calon dokter Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (FK UNG) akhirnya mencapai salah satu tahapan penting. Sebanyak dokter baru dikukuhkan melalui prosesi pengambilan sumpah dokter periode IV tahun 2026 di Grand Sumberia, Gorontalo, Sabtu (22/8/2026). Prosesi tersebut bukan sekadar seremoni akademik. Di balik pengucapan sumpah dokter, penyematan jas putih oleh orang tua, hingga pemasangan gordon, terdapat tanggung jawab baru yang harus diemban para lulusan. Mereka kini memasuki tahap kehidupan profesional dengan tanggung jawab terhadap keselamatan pasien, etika profesi, serta pengabdian kepada masyarakat.
Bagi FK UNG, pengukuhan tersebut juga menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam memperkuat sumber daya manusia kesehatan, khususnya di kawasan timur Indonesia. Para lulusan diharapkan tidak hanya mengisi kebutuhan dokter di Gorontalo dan kawasan Teluk Tomini, tetapi juga mampu bersaing dan berkiprah di berbagai wilayah Indonesia. Prosesi pengambilan sumpah dokter dihadiri Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan UNG, Dr. Moh. Hidayat Koniyo, S.T., M.Kom., bersama jajaran pimpinan universitas, Ketua Senat UNG, para dekan, Direktur Vokasi dan Pascasarjana, kepala biro, pimpinan lembaga, serta sejumlah mitra strategis bidang kesehatan.
Perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota Gorontalo, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Provinsi dan Cabang Gorontalo, rumah sakit pendidikan utama dan jejaring, BKKBN Provinsi Gorontalo, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Basarnas Provinsi Gorontalo, rohaniwan, dosen, tenaga kependidikan, dan keluarga para dokter baru turut menyaksikan momentum tersebut. Rangkaian prosesi berlangsung khidmat. Setelah pengambilan sumpah dokter, para lulusan menjalani penyematan jas dokter oleh orang tua, penandatanganan sumpah dokter, serta menerima sertifikat profesi dari Dekan FK UNG, Dr. dr. Cecy Rahma Karim, Sp.G.K. Pemasangan gordon oleh Rektor UNG menjadi simbol pengukuhan perjalanan baru mereka sebagai dokter.
Bagi para lulusan, momen tersebut sekaligus menjadi penanda berakhirnya satu fase pendidikan dan dimulainya tanggung jawab profesional yang sesungguhnya. Perwakilan dokter baru dengan capaian Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi, dr. Fadliah Nurhikmah, mengungkapkan bahwa keberhasilan menyelesaikan pendidikan kedokteran tidak diraih dalam waktu singkat. Perjalanan tersebut merupakan hasil dari proses panjang yang diwarnai berbagai tantangan, sekaligus dukungan keluarga, bimbingan para dosen, dan doa dari berbagai pihak. Ia menilai sumpah dokter memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar prosesi kelulusan. Sumpah tersebut merupakan komitmen moral dan profesional yang akan menjadi pedoman dalam menjalankan profesi.
Menurutnya, tantangan yang dihadapi selama menempuh pendidikan kedokteran justru menjadi bagian penting dalam membentuk ketangguhan dan profesionalisme. Karena itu, para lulusan didorong untuk menjadikan pengalaman selama pendidikan sebagai bekal untuk terus belajar, berkembang, dan mampu bersaing dengan lulusan fakultas kedokteran dari berbagai daerah di Indonesia. Semangat tersebut sejalan dengan arah pengembangan FK UNG yang tidak hanya menempatkan kompetensi akademik dan klinis sebagai ukuran keberhasilan, tetapi juga membangun integritas, empati, kemampuan beradaptasi, serta tanggung jawab sosial seorang dokter.
Dekan FK UNG, Dr. dr. Cecy Rahma Karim, Sp.G.K., mengatakan pengukuhan dokter baru menjadi momentum penting bagi fakultas untuk melihat kembali perjalanan pendidikan kedokteran yang telah dibangun selama ini. Menurutnya, keberadaan FK UNG memiliki arti strategis karena hadir untuk menjawab kebutuhan pendidikan kedokteran sekaligus mendukung ketersediaan sumber daya manusia kesehatan di Gorontalo dan kawasan sekitarnya. “FK UNG baru berusia tujuh tahun, namun semangat untuk terus tumbuh, berbenah, dan berkontribusi tidak pernah padam. Pengukuhan dokter kali ini menjadi sangat istimewa karena dilaksanakan dalam status akreditasi unggul,” ujarnya. Capaian tersebut tidak berdiri sendiri. Dalam beberapa periode terakhir, FK UNG juga menunjukkan konsistensi dalam menjaga mutu pendidikan profesi dokter melalui capaian kelulusan 100 persen pada Uji Kompetensi Nasional Pendidikan Dokter dan Dokter Gigi (UKMPPD/UKNPDPD) selama tiga periode berturut-turut.
Pada periode Februari 2026, FK UNG mencatat nilai rata-rata Computer Based Test (CBT) sebesar 94 dan Objective Structured Clinical Examination (OSCE) sebesar 95. Nilai tersebut berada di atas rata-rata nasional dan menjadi salah satu gambaran konsistensi FK UNG dalam mempersiapkan lulusannya menghadapi standar kompetensi profesi dokter. Di saat yang sama, FK UNG terus memperluas ekosistem pendidikan kedokterannya. Setelah mengembangkan pendidikan sarjana dan profesi dokter, FK UNG juga telah memiliki Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesiologi dan Terapi Intensif.
Pengembangan jenjang pendidikan tersebut menjadi bagian dari langkah FK UNG untuk membangun sistem pendidikan kedokteran yang lebih lengkap sekaligus berkontribusi terhadap kebutuhan tenaga medis spesialistik di kawasan timur Indonesia. “Harapan kami, lulusan FK UNG tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki etika, empati sosial, dan komitmen pengabdian yang kuat bagi masyarakat,” kata Cecy.
Pesan serupa disampaikan Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan UNG, Dr. Moh. Hidayat Koniyo, S.T., M.Kom. Ia memberikan apresiasi kepada para dokter baru sekaligus mengingatkan bahwa profesi dokter memiliki tanggung jawab yang berbeda dibandingkan banyak profesi lainnya. Dokter berhadapan langsung dengan persoalan keselamatan dan kualitas hidup manusia. Karena itu, ilmu dan keterampilan yang diperoleh selama pendidikan harus diterjemahkan menjadi pelayanan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Para dokter baru pun didorong untuk tidak menjadikan kelulusan sebagai akhir dari proses belajar. Perkembangan ilmu kedokteran yang terus bergerak menuntut seorang dokter untuk terus meningkatkan kompetensi, memperbarui pengetahuan, menjaga etika profesi, dan memahami kebutuhan masyarakat. “Dokter berbeda dengan profesi lain, pengabdian harus lebih baik,” pesan Hidayat dalam sambutannya.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemberian penghargaan kepada lulusan terbaik serta dokter baru dengan capaian nilai tertinggi UKNPDPD pada komponen CBT dan OSCE. Dari momentum pengukuhan tersebut, FK UNG tidak hanya melepas dokter-dokter baru ke tengah masyarakat, tetapi juga menitipkan harapan agar mereka menjadi bagian dari penguatan pelayanan kesehatan di Indonesia. Para lulusan diharapkan dapat mengabdi di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan, baik di Gorontalo, kawasan Teluk Tomini, maupun daerah lain yang membutuhkan tenaga medis berkualitas.
Dengan semakin berkembangnya pendidikan kedokteran, capaian mutu akademik, serta pengembangan pendidikan dokter spesialis, FK UNG terus menegaskan perannya sebagai salah satu institusi pendidikan kedokteran di kawasan timur Indonesia yang berupaya melahirkan dokter kompeten, berintegritas, berdaya saing, dan memiliki keberpihakan kuat pada kepentingan masyarakat. Dari Gorontalo, pengabdian para dokter baru tersebut diharapkan menjadi bagian dari perjalanan panjang memperkuat sumber daya manusia kesehatan dan memperluas manfaat pendidikan kedokteran bagi Indonesia.
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran