FK UNG Kukuhkan Lulusan Kedokteran Periode Oktober 2026, Tekankan Etika Profesi dan Pengabdian kepada Masyarakat

Oleh: Jesica Mulyadi . 17 Oktober 2026 . 13:12:38

Gorontalo — Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (FK UNG) menegaskan komitmennya dalam mencetak tenaga medis yang kompeten, berintegritas, dan berorientasi pada kemanusiaan melalui penyelenggaraan Yudisium, Angkat Janji Sarjana Kedokteran, dan Sumpah Dokter Periode Oktober 2026. Kegiatan tersebut berlangsung pada Jumat (16/10/2026) di Aula Lantai 3 FK UNG, Gorontalo. Prosesi ini menjadi momentum penting bagi para lulusan untuk memasuki tahapan baru dalam perjalanan akademik dan profesional, sekaligus meneguhkan komitmen terhadap etika kedokteran, keselamatan pasien, serta tanggung jawab dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Rektor IV Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi Universitas Negeri Gorontalo, Dr. Harto S. Malik, M.Hum., Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Gorontalo, Dr. dr. Muhammad Isman Jusuf, Sp.N., FISQua., Dekan FK UNG, Dr. dr. Cecy Rahma Karim, Sp.G.K., Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Dr. dr. Vivien Novarina A. Kasim, M.Kes.; Wakil Dekan Bidang Umum dan Keuangan, Dr. dr. Zuhriana K. Yusuf, M.Kes., Koordinator Program Studi Sarjana Kedokteran, dr. Nanang Roswita Paramata, M.Kes., Koordinator Program Studi Profesi Dokter, Dr. dr. Sri Andriyani Ibrahim, M.Kes., serta rohaniawan, kepala departemen, koordinator pembimbing mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan di lingkungan FK UNG.

Ketua IDI Wilayah Gorontalo, Dr. dr. Muhammad Isman Jusuf, Sp.N., FISQua, menegaskan bahwa sumpah dokter merupakan komitmen moral dan profesional yang harus menjadi pedoman dalam setiap pelaksanaan tugas kedokteran. Ia mengingatkan para dokter baru agar tidak menjadikan kelulusan sebagai akhir dari proses belajar. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan menuntut dokter untuk terus memperbarui pengetahuan, meningkatkan keterampilan, serta menjaga profesionalisme sepanjang perjalanan kariernya. Menurutnya, masa internship merupakan kesempatan untuk memperkuat kompetensi klinis, memperluas pengalaman, dan membangun kesiapan dalam menghadapi berbagai tantangan pelayanan kesehatan.

Ia juga menekankan pentingnya membangun hubungan profesional yang berorientasi pada kepentingan pasien. Dalam praktik kedokteran, pasien harus diperlakukan sebagai manusia yang memiliki martabat, kebutuhan, dan hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang baik, tanpa diskriminasi berdasarkan latar belakang sosial maupun kondisi lainnya. Pesan tersebut menegaskan bahwa kualitas seorang dokter tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mendiagnosis dan menangani penyakit, tetapi juga oleh kemampuannya membangun komunikasi yang baik, menghormati hak pasien, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

Dalam sambutannya, Dekan FK UNG, Dr. dr. Cecy Rahma Karim, Sp.G.K., menyampaikan ucapan selamat kepada para lulusan sekaligus mengingatkan bahwa pencapaian akademik dan profesional harus diiringi tanggung jawab moral dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Menurutnya, menjadi dokter tidak hanya berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan klinis, tetapi juga menuntut integritas, empati, dan kesediaan untuk mengabdi kepada sesama. “Selamat menerapkan ilmu yang kalian dapatkan di masyarakat. Menjadi dokter bukanlah sekadar menyandang gelar, melainkan mengemban amanah kemanusiaan. Kehadiran kalian sangat dinantikan,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa lulusan FK UNG diharapkan mampu menjadi tenaga medis yang unggul secara akademik, menjunjung tinggi etika profesi, serta memiliki kepedulian terhadap persoalan kesehatan masyarakat. Nilai-nilai lokal dan semangat pengabdian kepada daerah juga diharapkan menjadi bagian dari karakter lulusan dalam memberikan pelayanan yang bermutu dan berkeadilan.

Kepada mahasiswa Program Sarjana Kedokteran yang akan memasuki pendidikan profesi, Dekan mengingatkan bahwa fase tersebut memiliki tantangan pembelajaran yang berbeda. Mahasiswa akan menjalani pembelajaran klinis secara langsung di rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan melalui berbagai stase, sehingga diperlukan kesiapan akademik, mental, kedisiplinan, dan kemampuan bekerja sama. “Mulai fase profesi, beban pembelajaran akan semakin besar melalui sistem jaga dan pembagian tugas di setiap stase. Tinggalkan ego pribadi, jadilah pribadi yang terus berkembang, menjaga etika profesi, dan mengutamakan keselamatan serta pelayanan terbaik bagi pasien. Persiapkan diri lahir dan batin, serta bangun sistem pendukung yang baik agar mampu menjalani pendidikan profesi dengan optimal,” pesannya.

Sementara itu, kepada para dokter baru, Dekan mengingatkan bahwa penyelesaian pendidikan profesi merupakan salah satu tahapan penting sebelum memasuki dunia pelayanan kesehatan secara lebih luas. Tahap internship menjadi bagian dari perjalanan untuk memperkuat kompetensi dan kesiapan menghadapi dinamika praktik kedokteran. “Perjalanan belum selesai. Masih ada tahap internship sebagai proses penguatan kompetensi sebelum memasuki dunia kerja yang sesungguhnya. Jadilah dokter yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki etika yang kuat, empati kepada pasien, dan mampu beradaptasi di lingkungan kerja. Percayalah bahwa setiap proses yang dijalani akan membawa pada pencapaian yang lebih baik,” tambahnya.

Wakil Rektor IV Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi UNG, Dr. Harto S. Malik, M.Hum., menyampaikan bahwa kualitas pendidikan kedokteran menjadi salah satu aspek penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia kesehatan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Ia menyampaikan bahwa status akreditasi unggul pada FK UNG dan UNG menjadi bagian dari upaya institusi dalam menjaga mutu pendidikan. Ia juga menyoroti konsistensi hasil Uji Kompetensi Nasional Peserta Didik Program Profesi Dokter (UKNPDPD) sebagai salah satu aspek yang perlu terus dipertahankan melalui peningkatan kualitas pembelajaran dan evaluasi berkelanjutan.

Wakil Rektor IV tersebut mengingatkan para lulusan agar senantiasa menjunjung tinggi etika dan menjalankan kewajiban profesi dengan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. Pelayanan kesehatan, menurutnya, harus diberikan secara profesional dan adil tanpa membedakan latar belakang pasien. Selain kompetensi klinis, ia mendorong para dokter untuk terus mengembangkan kapasitas akademik melalui kegiatan membaca literatur ilmiah, mengikuti perkembangan penelitian, dan membangun kolaborasi dalam menghasilkan karya ilmiah. Budaya riset dinilai penting agar praktik kedokteran semakin berlandaskan bukti ilmiah dan mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Ia juga menekankan pentingnya penguasaan kompetensi digital, kepemimpinan (leadership), dan kemampuan berpikir kritis (critical thinking). Ketiga aspek tersebut diperlukan agar lulusan mampu beradaptasi dengan transformasi pelayanan kesehatan, bekerja secara efektif dalam tim multidisiplin, dan menghadapi persoalan klinis maupun tantangan sistem kesehatan yang semakin kompleks. Pesan tersebut sekaligus menjadi dorongan bagi para lulusan untuk tidak berhenti pada pencapaian akademik, melainkan terus mengembangkan diri sebagai tenaga profesional yang adaptif, kolaboratif, dan memiliki daya saing.

Rangkaian kegiatan meliputi prosesi yudisium, pengucapan Angkat Janji Sarjana Kedokteran, serta pelafalan Sumpah Dokter yang dipandu oleh Dekan FK UNG dan didampingi rohaniawan. Prosesi dilanjutkan dengan penyematan jas dokter oleh orang tua atau wali, penandatanganan lembar sumpah dokter, pengalungan Gordon, dan penyerahan dokumen kelulusan profesi. Kegiatan ini juga mencakup penandatanganan berita acara penyerahan dokter baru kepada IDI Wilayah Gorontalo. Prosesi tersebut menjadi bagian dari penguatan hubungan antara institusi pendidikan kedokteran dan organisasi profesi dalam mendukung keberlanjutan pembinaan serta profesionalisme dokter.

Melalui kegiatan ini, FK UNG menegaskan perannya dalam mempersiapkan lulusan kedokteran yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik dan keterampilan profesional, tetapi juga menjunjung tinggi etika, mengutamakan keselamatan pasien, serta memahami tanggung jawab sosial dalam pelayanan kesehatan. Momentum yudisium, angkat janji, dan sumpah dokter periode Oktober 2026 diharapkan menjadi awal bagi para lulusan untuk menerapkan ilmu pengetahuan secara bertanggung jawab, terus meningkatkan kompetensi, serta berkontribusi dalam memperluas akses dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.

Dengan penguatan pendidikan, profesionalisme, dan budaya pengabdian, FK UNG berkomitmen untuk terus mengambil bagian dalam pengembangan sumber daya manusia kesehatan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat, khususnya di Gorontalo dan kawasan Indonesia Timur, sekaligus mendukung peningkatan derajat kesehatan masyarakat Indonesia.

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran