Hubungan Pengetahuan dan Sikap Ibu tentang Responsive Feeding dengan Kejadian Stunting pada Balita

Oleh: Jesica Mulyadi . 21 Agustus 2026 . 10:09:57

Masa balita, khususnya pada usia nol hingga lima tahun, merupakan periode emas dalam proses tumbuh kembang manusia yang berlangsung sangat cepat. Pada fase ini, pemenuhan ganda berupa nutrisi yang adekuat dan stimulasi psikososial menjadi fondasi utama agar anak dapat tumbuh serta berkembang secara optimal. Namun, permasalahan stunting atau kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis masih menjadi tantangan kesehatan yang serius, baik di tingkat global maupun nasional. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada tinggi badan anak yang berada di bawah standar, tetapi juga berisiko mengganggu perkembangan otak, menurunkan kemampuan belajar, serta meningkatkan risiko penyakit tidak menular saat mereka dewasa kelak.

Sebagai langkah krusial dalam pencegahan stunting, pengenalan konsep responsive feeding atau pola pemberian makan secara responsif menjadi sangat penting. Pendekatan ini menekankan peran aktif ibu atau pengasuh dalam mengenali, merespons, dan menyesuaikan pemberian makan sesuai dengan sinyal rasa lapar serta kenyang yang ditunjukkan oleh anak. Praktik pemberian makan secara responsif tidak hanya berfokus pada porsi atau jenis makanan semata, melainkan juga melibatkan interaksi positif, kesabaran, serta penciptaan suasana makan yang aman dan menyenangkan tanpa adanya unsur pemaksaan. Penerapan pola pemberian makan ini di lapangan sangat dipengaruhi oleh sejauh mana pemahaman dan kesiapan mental yang dimiliki oleh seorang ibu.

Untuk memahami keterkaitan tersebut, sebuah penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional telah dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Kota Tengah, Kota Gorontalo. Penelitian ini melibatkan 83 orang ibu yang memiliki balita sebagai responden, yang dipilih dari total populasi sebanyak 105 ibu dengan balita yang mengalami gangguan pertumbuhan. Melalui analisis pengumpulan data, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa mayoritas ibu masih memiliki tingkat pengetahuan mengenai responsive feeding yang tergolong kurang, yaitu mencapai 59%. Sebagian besar ibu belum memahami bahwa pemberian makan merupakan bentuk interaksi dua arah dan masih menganggap bahwa anak harus dipaksa untuk menghabiskan porsi makanannya. Sejalan dengan hal tersebut, sebanyak 63,9% ibu juga menunjukkan sikap yang negatif terhadap praktik pemberian makan secara responsif, seperti kurang sabar saat anak menolak makan atau terbiasa dimarahi.

Kondisi pemahaman serta sikap ibu yang belum optimal tersebut berbanding lurus dengan tingginya angka stunting di wilayah tersebut, di mana prevalensi balita yang mengalami stunting mencatatkan angka cukup tinggi yakni sebesar 61,4%. Melalui uji analisis statistik Chi-Square, ditemukan adanya hubungan yang sangat signifikan antara tingkat pengetahuan ibu dengan kejadian stunting pada balita. Begitu pula dengan variabel sikap ibu, yang menunjukkan adanya hubungan signifikan terhadap angka kejadian stunting. Temuan ini mempertegas bahwa keterbatasan informasi dan pola pengasuhan makan yang tidak responsif berisiko menyebabkan asupan gizi anak tidak terpenuhi secara berkelanjutan dalam jangka panjang.

Sebaliknya, balita yang tumbuh dengan status gizi normal umumnya dibesarkan oleh ibu yang memiliki pemahaman baik serta sikap yang positif terhadap responsive feeding. Ibu pada kelompok ini cenderung mampu membaca sinyal tubuh anak, tidak memaksakan kehendak saat anak menolak makanan, serta berhasil membangun kebiasaan makan yang teratur dan menyenangkan. Pendekatan psikososial yang hangat ini terbukti membantu menjaga kestabilan nafsu makan anak sehingga asupan nutrisi harian dapat terserap dengan maksimal.

Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa tingkat pengetahuan dan sikap ibu mengenai responsive feeding memegang peranan yang sangat vital dalam menekan angka kejadian stunting pada balita. Oleh karena itu, diperlukan program edukasi kesehatan yang berkesinambungan dari para tenaga medis, khususnya perawat komunitas dan anak di Puskesmas maupun Posyandu, guna meningkatkan pemahaman praktis masyarakat. Bagi para ibu dan orang tua, peningkatan kesadaran untuk menerapkan pola pemberian makan yang peka dan penuh kesabaran menjadi kunci utama dalam mendukung tumbuh kembang anak yang optimal dan bebas dari risiko stunting.

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran