
Bagi para orang tua, masa pertumbuhan anak usia di bawah dua tahun (baduta) adalah periode emas yang penuh warna. Namun, di balik senyum dan tawa mereka, tersimpan tantangan besar kesehatan anak di Indonesia, salah satunya adalah stunting atau kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis. Banyak yang mengira stunting semata-mata disebabkan oleh kemiskinan atau ketiadaan bahan makanan. Padahal, sebuah penelitian terbaru di bidang kesehatan anak mengungkapkan fakta yang lebih dekat dengan keseharian kita: frekuensi dan aturan pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang keliru memegang peranan besar dalam memicu stunting.
Ketika "Sedikit Saja" Berakibat Panjang
Berdasarkan studi ilmiah yang dilakukan oleh Ryskina Fatimah Siregar dan rekan-rekannya di wilayah kerja Puskesmas Talang, Kabupaten Solok, terungkap sebuah temuan yang mencengangkan. Anak-anak baduta yang diberikan MP-ASI dengan frekuensi tidak sesuai standar memiliki risiko mengalami stunting hingga 7,737 kali lipat lebih besar dibandingkan dengan anak-anak yang mendapatkan frekuensi makan sesuai anjuran Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Angka ini bukan sekadar statistik di atas kertas. Di lapangan, para ibu sering kali menghadapi situasi di mana anak rewel lalu diberi susu formula atau makanan ringan (seperti camilan kemasan/ciki-ciki) alih-alih makanan utama. Akibatnya, anak menjadi kenyang semu, kurang suka makan sayur, dan frekuensi makannya menurun drastis—bahkan porsinya terkadang hanya dua sendok makan sekali duduk.
Mengapa Frekuensi MP-ASI Begitu Krusial?
Memasuki usia tepat 6 bulan, ASI saja sudah tidak lagi mampu mencukupi kebutuhan energi, protein, zat besi, hingga vitamin bagi bayi. Di sinilah MP-ASI harus masuk untuk melengkapi nutrisi makro dan mikro mereka. Karena kapasitas lambung bayi masih sangat kecil, mereka tidak bisa langsung makan dalam jumlah banyak sekaligus. Solusinya adalah frekuensi makan yang sering dengan porsi yang pas. Berdasarkan standar IDAI, panduan frekuensi makan anak yang ideal adalah sebagai berikut:
Mengubah Kebiasaan, Menyelamatkan Masa Depan
Stunting adalah masalah rumit, tetapi pencegahannya dimulai dari hal yang sangat mendasar di rumah: ketepatan waktu, variasi menu, dan disiplin frekuensi makan anak. Orang tua memegang kendali penuh untuk memastikan piring si kecil terisi dengan gizi seimbang sesuai usianya, bukan sekadar menuruti keinginan anak untuk mengonsumsi makanan instan. Mari jadikan temuan ilmiah ini sebagai pengingat bahwa ketelatenan kita dalam mengatur pola makan balita hari ini adalah fondasi utama bagi kecerdasan dan masa depan mereka kelak
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran