BONE BOLANGO — Penyakit Tuberkulosis (TB) Paru masih menjadi tantangan besar bagi kesehatan masyarakat di Indonesia, termasuk di Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. Pada fase awal pengobatan (fase intensif selama dua bulan pertama), pasien diwajibkan mengonsumsi kombinasi obat setiap hari tanpa terputus. Kegagalan atau ketidakpatuhan pada fase kritis ini berisiko tinggi memicu resistensi obat hingga kegagalan terapi.
Sebuah penelitian terbaru yang terbit di Indonesian Journal of Global Health Research (Juni 2026) mengungkap bahwa keberhasilan pasien melewati masa kritis ini sangat bergantung pada efektivitas penerapan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-course). Penelitian yang dipimpin oleh Ervan Djafar bersama tim dari Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Gorontalo ini melibatkan 75 pasien TB Paru di empat Puskesmas (Suwawa, Suwawa Tengah, Tilongkabila, dan Suwawa Selatan).
Seluruh Komponen DOTS Berpengaruh Signifikan
Strategi DOTS yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terdiri dari lima pilar utama. Berdasarkan uji statistik dalam penelitian ini, kelima pilar tersebut terbukti memiliki hubungan yang signifikan terhadap tingkat kepatuhan pasien dalam minum obat:
Scor kepatuhan secara keseluruhan mencatat bahwa 74,7% responden masuk dalam kategori patuh selama menjalani pengobatan fase intensif.
Sosok PMO: Penentu Terkuat Kepatuhan Pasien
Dari hasil analisis regresi logistik ganda, peneliti menemukan bahwa Pengawas Menelan Obat (PMO) merupakan faktor yang paling dominan mempengaruhi kepatuhan pasien. Data menunjukkan bahwa pasien yang tidak mendapatkan pengawasan atau pendampingan PMO secara optimal memiliki peluang kepatuhan 87% lebih rendah dibandingkan dengan pasien yang didampingi oleh PMO yang baik. "Pendampingan PMO tidak sekadar mengawasi saat obat ditelan, tetapi juga memberikan dukungan emosional, mengingatkan jadwal, serta membantu mengatasi rasa cemas akibat efek samping obat," ungkap para peneliti dalam laporan studinya. Hal ini sangat terasa pada kelompok usia produktif (20–59 tahun) dan kaum pria yang memiliki mobilitas serta kesibukan kerja yang tinggi, di mana risiko lupa atau sengaja melewatkan dosis menjadi lebih besar.
Profil Pasien: Mayoritas Usia Produktif dan Mengalami Gizi Kurang
Penelitian ini juga memotret profil sosiodemografis pasien TB di wilayah Bone Bolango:
Rekomendasi untuk Layanan Kesehatan
Mengingat pentingnya fase intensif dalam memutus rantai penularan TB, tim peneliti menekankan bahwa penguatan strategi DOTS tidak boleh mengendur. Institusi kesehatan diimbau untuk:
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran