Lebih dari Sekadar Masalah Kosmetik: Mengapa Jerawat Mengguncang Kualitas Hidup Mahasiswa Kedokteran?

Oleh: Jesica Mulyadi . 8 Agustus 2026 . 20:54:07

GORONTALO — Jerawat atau Acne Vulgaris (AV) sering kali disepelakan sebagai gangguan kulit biasa pada masa remaja dan dewasa muda. Namun, bagi para calon dokter yang dibayangi jadwal kuliah padat dan tingkat stres akademik yang tinggi, kehadiran jerawat ternyata membawa beban emosional dan sosial yang jauh lebih dalam. Sebuah studi ilmiah terbaru yang dimuat dalam Journal of Health and Medical Science (2026) mengungkapkan bagaimana tingkat keparahan jerawat berdampak nyata terhadap kualitas hidup mahasiswa. Penelitian yang dipimpin oleh Arif Supriadi Rum Machmoed bersama tim dari Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo (UNG) ini melibatkan 39 mahasiswa kedokteran angkatan 2023 dan 2024 yang sedang mengalami jerawat.

Hubungan Nyata: Makin Parah Jerawat, Kualitas Hidup Makin Tertekan

Dengan mengukur dampak psikososial menggunakan instrumen Cardiff Acne Disability Index (CADI), penelitian ini membuktikan adanya hubungan yang bermakna secara statistik antara derajat keparahan jerawat dan penurunan kualitas hidup mahasiswa. Semakin berat peradangan jerawat di wajah, semakin besar pula gangguan pada aspek psikologis, rasa percaya diri, kenyamanan berinteraksi sosial, hingga aktivitas belajar sehari-hari.

Gambaran Keparahan Jerawat (Lehmann Grading):

  • 56,4% mahasiswa mengalami jerawat derajat ringan.
  • 43,6% mahasiswa mengalami jerawat derajat sedang.
  • Tidak ditemukan kasus jerawat derajat berat pada sampel penelitian ini.

Tingkat Gangguan Kualitas Hidup (CADI):

  • 53,8% mahasiswa merasakan gangguan ringan (tetap terganggu meski tidak melumpuhkan aktivitas).
  • 23,1% merasakan gangguan sedang.
  • 15,4% mengalami gangguan berat (rasa malu yang dalam, cemas, hingga menarik diri dari interaksi).
  • Hanya 7,7% mahasiswa yang mengaku tidak terganggu sama sekali oleh jerawat di wajahnya.

Dinamika Usia, Gender, dan Fenomena Kepercayaan Diri

Riset ini juga memotret temuan menarik terkait karakteristik penderita jerawat di lingkungan kampus:

  • Perbedaan Gender: Mahasiswa perempuan mendominasi jumlah penderita jerawat secara keseluruhan (30 orang dari 39 sampel). Namun secara proporsional, mahasiswa laki-laki cenderung mengalami tingkat peradangan/jerawat yang lebih berat (sedang).
  • Pola Perkembangan Usia: Kelompok usia 18 tahun (fase transisi awal kuliah) paling rentan mengalami jerawat derajat sedang (57,1%). Sementara pada usia 19 dan 20 tahun, kondisi jerawat cenderung melandai ke derajat ringan seiring stabilisasi hormon dan adaptasi lingkungan.
  • Faktor Persepsi Individu: Tingkat keparahan fisik tidak selalu berbanding lurus dengan beban mental. Peneliti menemukan ada mahasiswa dengan jerawat ringan yang mengalami gangguan kualitas hidup berat karena sangat sensitif terhadap citra tubuh. Sebaliknya, ada mahasiswa dengan jerawat sedang yang hanya merasakan gangguan ringan berkat strategi koping, penerimaan diri, dan dukungan sosial yang baik.

Lingkaran Setan Stres Akademik dan Pentingnya Pendekatan Holistik

Tekanan akademik yang tinggi pada mahasiswa kedokteran memicu hormon stres (kortisol) yang dapat merangsang produksi minyak berlebih dan memperparah peradangan jerawat. Kondisi kulit yang memburuk ini kemudian memicu stres emosional baru, sehingga menciptakan lingkaran setan (vicious cycle). Tim peneliti menekankan bahwa penanganan jerawat pada penderita dewasa muda tidak boleh hanya berfokus pada perawatan fisik atau kosmetik semata. Diperlukan pendekatan yang holistik, termasuk edukasi perawatan kulit yang benar, promosi rasa percaya diri (self-esteem), serta ketersediaan dukungan psikososial di lingkungan kampus agar mental para calon dokter tetap terjaga.

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran