GORONTALO — Sebagai wilayah yang dikelilingi sesar aktif dan sering diterjang bencana hidrometeorologi seperti banjir hingga tanah longsor, Provinsi Gorontalo membutuhkan kesiapsiagaan tenaga medis sejak dari bangku kuliah. Namun, sebuah riset ilmiah terbaru mengungkap fakta unik mengenai kesiapan para calon tenaga kesehatan ini. Penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Ilmu Multidisiplin (2026) oleh Muhammad Fahreza Labdul dan tim peneliti Universitas Negeri Gorontalo menguji pemahaman 94 mahasiswa tingkat akhir di Poltekkes Kemenkes Gorontalo terkait Rapid Health Assessment (RHA) — sebuah prosedur penilaian cepat krisis kesehatan pada masa tanggap darurat bencana.
Mahir Prinsip Dasar, Asing Istilah Teknis
Hasil analisis kuantitatif studi ini mencatat persentase yang sangat menggembirakan: 77,7% mahasiswa tingkat akhir memiliki tingkat pengetahuan kategori "Baik" tentang penanganan darurat kesehatan saat bencana. Sementara 20,2% berada di kategori "Cukup", dan hanya 2,1% di kategori "Kurang". Uniknya, di balik capaian skor yang tinggi tersebut, lebih dari separuh responden (54,3%) mengaku belum pernah mendengar istilah "Rapid Health Assessment" (RHA). "Temuan ini menunjukkan bahwa pemahaman mahasiswa tidak bertumpu pada hafalan istilah teknis, melainkan pada penguasaan substansi," terang tim peneliti dalam laporan studi mereka. Melalui materi kuliah sehari-raya seperti penanganan kegawatdaruratan, epidemiologi, dan triase medis, mahasiswa secara intuitif memahami logika dasar penilaian cepat bencana meskipun tak familiar dengan nomenklatur resminya.
Beda Jurusan, Beda Sudut Pandang Penanganan Bencana
Studi ini juga memotret variasi pemahaman yang tajam antar program studi:
Internet Jadi 'Dosen' Kebencanaan Utama
Hal lain yang disorot dalam riset ini adalah dari mana mahasiswa memperoleh pengetahuan tersebut. Peneliti menemukan bahwa media daring dan internet menjadi sumber informasi utama yang paling banyak diakses mahasiswa untuk belajar tentang bencana, melampaui porsi pembelajaran di kelas formal. Kondisi ini dipicu oleh belum tersedianya mata kuliah khusus manajemen bencana yang terintegrasi di kampus. Mahasiswa secara mandiri berinisiatif menutupi celah kurikulum tersebut melalui literasi digital di dunia maya.
Rekomendasi: Jangan Sekadar Teori di Layar
Meskipun pemahaman kognitif mahasiswa terbilang tinggi, para peneliti menegaskan bahwa situasi tanggap darurat bencana di lapangan menuntut keterampilan praktis, ketahanan mental, dan koordinasi nyata. Untuk itu, studi ini merekomendasikan tiga langkah strategis bagi institusi pendidikan kesehatan:
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran