Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama pada anak-anak, baik di tingkat global maupun nasional. Penyakit menular yang menyerang organ pernapasan ini umumnya ditandai dengan gejala batuk, pilek, dan demam. Jika tidak ditangani dengan tepat, ISPA berisiko berkembang menjadi kondisi berat seperti pneumonia hingga gagal napas yang membahayakan jiwa anak. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ISPA menyumbang hampir 20% dari total kematian balita di dunia. Di Indonesia, data kesehatan mencatat kenaikan angka kasus yang signifikan. Provinsi Gorontalo menjadi salah satu wilayah dengan beban kasus cukup tinggi, di mana Kota Gorontalo mencatat kasus anak tertinggi dan Puskesmas Dungingi menempati urutan pertama kasus ISPA terbanyak di wilayah tersebut.
Penanganan dan pencegahan ISPA pada anak sangat bergantung pada peran orang tua, khususnya ibu. Pemahaman ibu mengenai penyebab, gejala, serta tindakan pencegahan menjadi benteng utama dalam melindungi anak. Untuk menguji sejauh mana pemahaman ini berdampak, Rina Melinda Dunggio, Sri A. Ibrahim, dan Rini W. Mohamad dari Universitas Negeri Gorontalo melakukan penelitian di wilayah kerja Puskesmas Dungingi, Kota Gorontalo. Keunggulan studi ini terletak pada cakupan subjeknya yang lebih luas, mencakup anak-anak dari usia bayi hingga remaja (0–17 tahun), tidak hanya terbatas pada balita.
Metode Penelitian
Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain observasional cross-sectional dan dilaksanakan pada Februari 2026. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik cluster random sampling sehingga diperoleh 95 responden ibu yang memeriksakan anaknya ke Puskesmas Dungingi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara terstruktur menggunakan kuesioner pengetahuan dan riwayat ISPA. Selanjutnya, data dianalisis secara statistik menggunakan uji Chi-Square pada tingkat signifikansi alpha = 0,05.
Gambaran Responden dan Hasil Penelitian
Berdasarkan pengolahan data terhadap 95 responden, diperoleh gambaran karakteristik serta profil kesehatan anak sebagai berikut:
Seberapa Besar Pengaruh Pengetahuan Ibu?
Hasil uji statistik Chi-Square menghasilkan nilai p-value sebesar 0,013 (p < 0,05). Angka ini membuktikan bahwa terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara tingkat pengetahuan ibu dengan kejadian ISPA pada anak di wilayah kerja Puskesmas Dungingi. Ibu yang memiliki tingkat pengetahuan kurang cenderung memiliki anak yang mengalami ISPA (33 dari 43 anak) dibandingkan dengan ibu yang berpengetahuan baik (7 dari 17 anak). Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan merupakan fondasi penting dalam pembentukan perilaku sehat. Ibu yang memahami konsep ISPA dengan baik lebih siap dalam:
Kesimpulan dan Rekomendasi Kesehatan
Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengetahuan ibu berperan nyata sebagai salah satu faktor pendorong dalam menekan risiko kejadian ISPA pada anak. Makin tinggi pemahaman yang dimiliki seorang ibu mengenai ISPA, makin rendah pula kecenderungan anak untuk terkena infeksi saluran pernapasan. Untuk menekan angka kejadian ISPA di masyarakat, intervensi kesehatan tidak hanya berfokus pada pengobatan medis semata. Pihak layanan kesehatan disarankan untuk menggencarkan program edukasi dan promosi kesehatan secara berkelanjutan bagi para ibu. Selain itu, penelitian mendalam di masa depan juga perlu mencermati faktor-faktor lingkungan pendukung lainnya, seperti kualitas ventilasi rumah, kepadatan hunian, paparan asap rokok, serta status gizi anak.
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran