Menelisik Hubungan Berat Badan dan Tingkat Keparahan Pengapuran Sendi Lutut (Osteoartritis)

Oleh: Jesica Mulyadi . 25 Agustus 2026 . 10:54:31

Osteoartritis (OA) genu, atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai pengapuran sendi lutut, merupakan penyakit sendi degeneratif yang berkembang secara perlahan. Kondisi ini ditandai dengan kerusakan tulang rawan pelindung sendi, penyempitan celah sendi, dan timbulnya tonjolan tulang baru (osteofit) yang sering kali memicu rasa nyeri serta kekakuan saat beraktivitas. Secara mekanis, berat badan yang berlebih sering dianggap sebagai salah satu faktor risiko utama karena menambah beban tekanan pada sendi lutut. Untuk membuktikan sejauh mana berat badan memengaruhi tingkat kerusakan sendi tersebut di tingkat lokal, sebuah penelitian dilakukan oleh Gymnastiar et al. (2026) di RSUD Prof. Dr. Aloei Saboe, Gorontalo. Studi ini mengamati hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan tingkat keparahan pengapuran lutut berdasarkan foto rontgen (radiografi konvensional) menggunakan skala standar Kellgren & Lawrence.

Metode Penelitian

Penelitian observational ini melibatkan 30 pasien yang terdiagnosis pengapuran lutut di RSUD Prof. Dr. Aloei Saboe pada periode Mei hingga Juli 2025. Setiap pasien diukur berat dan tinggi badannya untuk menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT), lalu dikelompokkan ke dalam kategori normal hingga gemuk berat. Sementara itu, tingkat kerusakan sendi lutut dinilai langsung oleh dokter spesialis radiologi berdasarkan foto rontgen ke dalam 4 tingkatan derajat keparahan. Data tersebut kemudian diuji secara statistik untuk melihat ada atau tidaknya korelasi antar variabel.

Karakteristik Pasien dan Temuan Utama

Dari analisis data pasien, ditemukan beberapa gambaran karakteristik penting:

  • Jenis Kelamin dan Usia: Mayoritas penderita adalah perempuan (70,0%). Dari segi usia, sebagian besar pasien berada pada kelompok usia di atas 65 tahun (36,7%), diikuti oleh kelompok usia 36–45 tahun (30,0%).
  • Indeks Massa Tubuh (IMT): Sebaran berat badan pasien cukup bervariasi, di mana kelompok berat badan normal dan gemuk berat memiliki proporsi yang sama tinggi (masing-masing 36,7%), sementara sisanya berada pada kategori gemuk ringan (26,6%).
  • Tingkat Keparahan Sendi (Derajat Radiologis): Sebagian besar pasien datang saat pengapuran sendi lututnya berada pada stadium sedang. Sebanyak 46,7% pasien berada pada derajat 2 dan 46,7% lainnya berada pada derajat 3, sementara derajat 1 dan derajat 4 masing-masing hanya dialami oleh 3,3% pasien.

Apakah Berat Badan Berhubungan Langsung dengan Keparahan Pengapuran Lutut?

Hasil analisis statistik menggunakan uji Spearman rank menghasilkan nilai p = 0,457 (p > 0,05). Secara matematis, hasil ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan tingkat keparahan pengapuran sendi lutut secara radiologis pada pasien dalam studi ini. Seseorang dengan berat badan berlebih atau obesitas tidak selalu memiliki kerusakan struktur sendi lutut yang lebih parah pada foto rontgen jika dibandingkan dengan penderita yang memiliki berat badan normal. Hal ini menegaskan bahwa perkembangan penyakit pengapuran sendi bersifat kompleks dan tidak hanya dipicu oleh satu faktor tunggal (seperti beban mekanis dari berat badan), melainkan dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor risiko lain:

  • Proses penuaan alami dan penurunan fungsi jaringan.
  • Faktor genetik dan jenis kelamin.
  • Riwayat cedera atau trauma pada sendi lutut.
  • Jenis pekerjaan dan pola aktivitas fisik sehari-hari.
  • Kekuatan otot penopang di sekitar sendi.

Kesimpulan dan Implikasi Klinis

Meskipun uji statistik dalam penelitian ini menunjukkan tidak adanya korelasi langsung antara nilai IMT dan tingkat keparahan gambaran rontgen lutut pada sampel terbatas ini, menjaga berat badan tetap ideal tetap menjadi pilar utama dalam pengelolaan kesehatan sendi. Pengendalian berat badan terbukti secara klinis dapat mengurangi beban tekanan pada lutut, meredakan nyeri, dan mencegah perburukan fungsi gerak. Penelitian ini menyarankan agar studi lanjutan dapat dilakukan dengan memperbanyak jumlah sampel dan durasi yang lebih panjang, serta melibatkan faktor risiko lain seperti tingkat aktivitas fisik dan riwayat cedera untuk memberikan gambaran yang lebih menyeluruh.

Agenda

3 Maret 2026

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara

Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil

Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer

9 Februari 2026

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG

Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil

22 September 2025

Workshop Designing a Framework for an Online Community Assistance Ecosystem to Assist Disabled Stroke Survivors and Caregivers in Accessing Health Service

Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG

16 Juli 2025

Workshop Pemeringkatan QS World University Rankings by Subjects

Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran