Osteoartritis (OA) genu, atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai pengapuran sendi lutut, merupakan penyakit sendi degeneratif yang berkembang secara perlahan. Kondisi ini ditandai dengan kerusakan tulang rawan pelindung sendi, penyempitan celah sendi, dan timbulnya tonjolan tulang baru (osteofit) yang sering kali memicu rasa nyeri serta kekakuan saat beraktivitas. Secara mekanis, berat badan yang berlebih sering dianggap sebagai salah satu faktor risiko utama karena menambah beban tekanan pada sendi lutut. Untuk membuktikan sejauh mana berat badan memengaruhi tingkat kerusakan sendi tersebut di tingkat lokal, sebuah penelitian dilakukan oleh Gymnastiar et al. (2026) di RSUD Prof. Dr. Aloei Saboe, Gorontalo. Studi ini mengamati hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan tingkat keparahan pengapuran lutut berdasarkan foto rontgen (radiografi konvensional) menggunakan skala standar Kellgren & Lawrence.
Metode Penelitian
Penelitian observational ini melibatkan 30 pasien yang terdiagnosis pengapuran lutut di RSUD Prof. Dr. Aloei Saboe pada periode Mei hingga Juli 2025. Setiap pasien diukur berat dan tinggi badannya untuk menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT), lalu dikelompokkan ke dalam kategori normal hingga gemuk berat. Sementara itu, tingkat kerusakan sendi lutut dinilai langsung oleh dokter spesialis radiologi berdasarkan foto rontgen ke dalam 4 tingkatan derajat keparahan. Data tersebut kemudian diuji secara statistik untuk melihat ada atau tidaknya korelasi antar variabel.
Karakteristik Pasien dan Temuan Utama
Dari analisis data pasien, ditemukan beberapa gambaran karakteristik penting:
Apakah Berat Badan Berhubungan Langsung dengan Keparahan Pengapuran Lutut?
Hasil analisis statistik menggunakan uji Spearman rank menghasilkan nilai p = 0,457 (p > 0,05). Secara matematis, hasil ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan tingkat keparahan pengapuran sendi lutut secara radiologis pada pasien dalam studi ini. Seseorang dengan berat badan berlebih atau obesitas tidak selalu memiliki kerusakan struktur sendi lutut yang lebih parah pada foto rontgen jika dibandingkan dengan penderita yang memiliki berat badan normal. Hal ini menegaskan bahwa perkembangan penyakit pengapuran sendi bersifat kompleks dan tidak hanya dipicu oleh satu faktor tunggal (seperti beban mekanis dari berat badan), melainkan dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor risiko lain:
Kesimpulan dan Implikasi Klinis
Meskipun uji statistik dalam penelitian ini menunjukkan tidak adanya korelasi langsung antara nilai IMT dan tingkat keparahan gambaran rontgen lutut pada sampel terbatas ini, menjaga berat badan tetap ideal tetap menjadi pilar utama dalam pengelolaan kesehatan sendi. Pengendalian berat badan terbukti secara klinis dapat mengurangi beban tekanan pada lutut, meredakan nyeri, dan mencegah perburukan fungsi gerak. Penelitian ini menyarankan agar studi lanjutan dapat dilakukan dengan memperbanyak jumlah sampel dan durasi yang lebih panjang, serta melibatkan faktor risiko lain seperti tingkat aktivitas fisik dan riwayat cedera untuk memberikan gambaran yang lebih menyeluruh.
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran