Sepsis merupakan kondisi darurat medis yang mengancam jiwa akibat respons tubuh yang berlebihan terhadap infeksi. Reaksi ini memicu peradangan berskala besar di seluruh tubuh (sistemik) yang dapat merusak jaringan dan organ vital. Salah satu penyebab utama tingginya angka kematian pada sepsis adalah kekacauan yang terjadi secara bersamaan pada sistem peradangan (inflamasi) dan sistem pembekuan darah (koagulasi). Untuk menilai tingkat peradangan, dokter umumnya memeriksa kadar C-Reactive Protein (CRP), yaitu protein yang diproduksi oleh hati saat terjadi peradangan akut. Sementara itu, untuk menilai adanya gangguan pembekuan darah atau pembentukan gumpalan darah di dalam pembuluh darah, digunakan penanda bernama D-Dimer. Penelitian yang dilakukan oleh Yuniasari et al. (2026) di ruang perawatan intensif (Intensive Care Unit/ICU) RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe, Gorontalo, bertujuan untuk mengamati bagaimana kedua penanda biologi (biomarker) ini saling berhubungan pada pasien sepsis.
Metode Penelitian
Studi observasional dengan pendekatan potong-lintang (cross-sectional) ini mengevaluasi data rekam medis 48 pasien sepsis yang dirawat di ICU RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe pada periode Juli hingga November 2025 (berdasarkan data pasien Januari–Desember 2024). Pengambilan sampel dilakukan secara menyeluruh (total sampling) pada pasien berusia 18 tahun ke atas yang memiliki hasil laboratorium CRP dan D-Dimer lengkap saat pertama kali masuk ICU. Data kedua kadar penanda tersebut kemudian diuji menggunakan analisis korelasi statistik Pearson.
Karakteristik Pasien dan Hasil Pemeriksaan Laboratorium
Dari total 48 pasien sepsis yang diteliti, ditemukan beberapa gambaran klinis penting:
Arah korelasi yang positif menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat peradangan (CRP) pada pasien sepsis, semakin tinggi pula indikasi gangguan pembekuan darah (D-Dimer). Namun, kekuatan hubungan ini tergolong lemah hingga sedang. Nilai koefisien determinasi (R^2 = 0,111) mengindikasikan bahwa tingginya kadar CRP memberikan kontribusi sebesar 11,1% terhadap variasi peningkatan D-Dimer, sedangkan 88,9% sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor biologi atau kondisi klinis lain yang kompleks pada pasien kritis. Secara mekanisme tubuh (patofisiologi), peradangan berat memicu pelepasan zat kimia (sitokin pro-inflamasi) yang merusak lapisan dalam pembuluh darah (endotel). Kondisi ini merangsang pembentukan gumpalan-gumpalan darah kecil yang dapat menyumbat aliran darah ke organ-organ tubuh. Ketika gumpalan tersebut diurai oleh tubuh, kadar D-Dimer di dalam darah akan melonjak.
Kesimpulan dan Implikasi Klinis
Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat korelasi positif yang signifikan antara peradangan tubuh dan aktivitas pembekuan darah pada pasien sepsis di ICU RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe. Peningkatan kedua penanda ini terjadi secara berdampingan sebagai bagian dari respons tubuh terhadap infeksi berat (imunotrombosis). Secara praktis, evaluasi simultan atau pengujian bersamaan antara kadar CRP dan D-Dimer dapat memberikan gambaran klinis yang lebih utuh bagi tim medis di ICU dalam memantau keparahan penyakit, risiko penyumbatan pembuluh darah, serta ancaman kegagalan organ pada pasien sepsis.
Peluncuran Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis dan Subspesialis Fakultas Kedokteran Wilayah Gorontalo dan Sulawesi Utara bertempat di UTC Damhil
Universitas Negeri Gorontalo meluncurkan Program Studi Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif
Universitas Ratu Samban meluncurkan Program Studi Subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Spesialis Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer
Yudisium Mahasiswa Sarjana Kedokteran, Profesi Dokter, dan Pelantikan Organisasi Mahasiswa di Lingkungan FK UNG dilaksanakan di UTC Damhil
Projek ini didanai oleh KONEKSI dan BRIN telah menyetujui projek ini dan akan di hadiri oleh Civitas Akademika FK UNG
Workshop tentang pemeringkatan secara Internasional, yang diikuti oleh 11 orang dosen sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran